Senin, 25 April 2011

Tadi siang di Um Metro ada kuliah umum dari Bapak Anas Ubaningrum. Kata-katanya sangat tertata, rektorika yang kental. Serta pepaduan yang menarik dari politisi, akademisi, dan aktifis. Mengingat latar belakanya dari parpol dan mantan aktifis gerakan mahasiswa. Namun cukup setengah setengah, karena terlihat ada keinginan mengkritik pemerintah, namun dia ketua partai pengusung pemerintah.

Beliau menyebutkan ada kalangan menyebut Indonesia sebagai negara gagal sebagai orang orang yang pesimis. Menurut beliah sepatutnya kita optimis, karena pencerminan dari Ihtiar. Ihtiar yang berpengharapan baik.

Sementara menurut hemat saya, tentu pesimis tidak baik dan menuju pada ketidak acuhan terhadap bangsa indonesia. Namun kritikan terhadap pemerintah tentu tidak semuanya pesimis, ada pula yang realistis. Pada kenyataanya pembangunan bangsa ini di hambat oleh parakoruptor. Tentu optimis boleh tapi kalau terlalu optimis ujung ujungnya takabur. Dan akhirnya kecewa. Seperti saya (tidak mau mengatas namakan rakyat tapi ini suara seorang rakyat) yang optimistis pada pemerintah dipemilu 2004 maupun 2009 tapi ujung ujungnya kecewa.

Saya juga menangkap kata kata "janji kemerdekaan". Kemerdekaan yang kita raih bukan dari janji tapi dari kebranian (kenekatan) para pemuda. Bukan pula dari janji soekarno, yang semula tidak pecaya diri untuk segara memproklamasikan kemerdekaan.

Beliau juga menyebutan janji kemerdekaan perlu terjadi tranportasi carapandang sikap hidup masyarakat agar terwujud existensi dalam kehidupan. Eksistensi budari modal (pemerintah pro penanaman modal asing dan perdagangan bebas). Kurang lebih penegakan hukum yang tegak mengantar pada demokrasi, tidak tegak menyeret pada anarkisme. Wah berarti kasus century, dll harus tuntaskan dong? Kalau tidak arkis berati.

Negara kita yang utama bukan demokrasi menjadi tujuan, namun tujuannya keadilan sosial karena demokrasi hanyalah alat. Negara kita sudah cukup demokrasi tapi masih kalah dengan negara lain. Dengan cina ataupun india yang penduduknya jauh lebih banyak kita masih kalah dalam banyak bidang. Serta bukan hanya perkapital atau nilai kuantitatif lainya, pada kenyataany tingkat kesejahteraan indonesia masih jauh dari nilai kualitatif.

Menurut beliau kita butuh komitmen yang sama terhada masa depan umat dan bangsa dengan periflesksian fngan lebih menyesuaikan tanhungjawab agar terjadi ketahanan dan serasi.

Jumat, 22 April 2011


   Seorang manusia yang normal, tentunya selalu ingin hidupnya menjadi lebih baik, sejahtera dan bahagia. Memiliki kekayaan, pasangan, wibawa, kepandaian dan lain sebagainya yang tentunya apabila dijabarkan satu persatu akan memuat sampai berlembar-lembar halaman.Lantas pantaskah kita memperoleh apa yang kita inginkan sesuka hati ?
Yang menjadi permasalahan sebenarnya bukanlah apa yang terdapat dari keinginan yang dimiliki oleh seseorang itu, tapi cara seseorang tersebut dalam mencapai suatu pemenuhan keinginan tersebut.
Banyak diantara kita yang terlena oleh angan-angan tanpa melaksanakan dan berusaha mendapatkan apa yang menjadi impian. Seorang manusia dalam mencapai sebuah keinginan tidak cukup saja didukung memiliki niat yang kuat, namun juga memiliki usaha yang kuat untuk mencapai suatu keinginan tersebut.
Beberapa langkah-langkah penelitian dan sikap ilmiah. Lalu apa saja sih sikap-sikap tersebut?

1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan belajar yang besar


Seorang ilmuwan mempunyai sikap ilmiah di dalam dirinya, misalnya apabila melihat proses gejala alam, dia akan terangsang untuk ingin tahu lebih lanjut, apa, bagaimana, mengapa peristiwa atau gejala itu.
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu dia tak hanya diam dan merenung, namun juga mencari informasi melalui berbagai sumber, dan berusaha memecahkan masalah yang ia temukan.
2. Jujur


Dalam penelaahan ilmiah ada hal yang memaksa ilmuwan untuk jujur, yakni faktor kontrol. Misalnya, dalam suatu penelitian tentang pengaruh sejenis obat tertentu, dibuat kelompok penderita yang diberi obat tersebut dan kelompok lain yang tidak diberi obat sebagai kelompok kontrol. Dengan faktor kontrol ini, faktor-faktor kebetulan disingkirkan dan ilmuwan melakukan pengamatan dan wajib melaporkan hasil pengamatan secara objektif.

Artinya jika sikap jujur ini mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kesehari-harian maka perlahan tapi pasti kemajuan dan kebaikan akan dengan sendirinya meliputi diri kita.

3. Terbuka


Seseorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka, bebas dari prasangka. Ia meyakini bahwa prasangka dan kebencian baik pribadi maupun kelompok adalah sangat kejam. Ilmuwan akan membuat dugaan dan terus berusaha menguji dugaannya untuk mengetahui kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan tentang hidup. Ilmuwan tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum diterima atau ditolak. Jadi ia terbuka akan pendapat orang lain.
4. Toleran

            Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa pendapatnya mungkin saja salah, sedangkan pendapat orang lain mungkin benar. Ia bersedia menerima gagasan orang lain setelah diuji. Dalam usaha menambah ilmu pengetahuan, ia bersedia belajar dari orang lain, memperbandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain. Ia tidak akan memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Ia mempunyai tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauh dari sikap angkuh.
5. Optimis

            Seorang ilmuwan selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan mengatakan bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan, “Berikan saya sesuatu kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan”. Ia selalu optimis. Rasa humor seorang ilmuwan ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan maupun sikap optimis seseorang.
6. Pemberani

            Ilmu Pengetahuan merupakan hasil kerja keras ilmuwan. Ilmuwan sebagai pencari kebenaran harus berani melawan semua ketidakbenaran, penipuan, dan kepura-puraan yang akan menghambat kemajuan. Keberanian Copernicus, Galileo, dan Socrates telah banyak diketahui orang. Copernicus dan Galileo disisihkan karena tidak mempercayai bahwa bumi adalah pusat Alam Semesta (Geosentris); tetapi menganggap mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar (Heliosentris). Socrates memilih mati meminum racun dari pada menerima hal yang salah.


Referensi :
Wasis, dkk (2008). Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam: Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Edisi 4.Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
sumber : http://netsains.com/2010/08/mari-bersikap-ilmiah-dan-jadilah-seorang-ilmuwan/

Sabtu, 16 April 2011

Sekerdar berbagi saya pernah mendapat tugas tentang perkembangan  peserta didik dari ibu ida umami dosen ppd, dan diminta mengirim melalui E-mail berikut kutipanya.




BAREP PANGESTU 10211539 EKO PPD 1
Sabtu, 2 April, 2011 00:19
Dari:
"Rendra Pangestu"

Kepada:
love_carrying@yahoo.com

1) Apakah yang dimaksud dengan tugas perkembangan?

Jawab:
  Maksud dari tugas perkembangan adalah:  tahapan yang harus dilaui dengan baik oleh seseorang dalam jenjang kehidupan, apabila tahapan yang dilalui tidak dilaksanakan dengan baik akan menghambat pada perkembangan tahap berikutnya, pada tiap tahapan seseorang idealnya melakukan tugas perkembangan sesuai tumbuh kembangnya, kesalah mengurus perkembangan anak akan berpengaruh pada masa dewasa.


2) Jelaskan dengan contoh 3 buah tugas perkembanan!

Jawab:

Tiga buah tugas perkembangan dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Memilhki kemampuan membina hubungan baru dengan lawan jenis yang sebaya.
Seorang remaja menjalani hubungan dengan lawan jenis untuk saling mengharagai. pada tahap ABG (Anak Baru Gede) yang di utamakan kesenangan, gampang cemburu, dan merasa memiliki seakan akan menjadi pasangan hidup selamanya, namun cepat sekali terjadi perpecaha. Hari ini berkata selamanya besok sampai disini saja.

  Pada tahapan yang lebih tinggi mulai memikirkan untuk hubungan kedepan, menjaga diri dan pasangan, menjalin hubungan sewajarnya.

b) Menerima keadan fisik dan mengaktualisikan secara efektif.
Pria yang menerima secara fisik, dia berbangga sebagai lelaki, akan mengikuti olahraga sepak bola, pencak silat, karate, serta melakukan perawatan diri agar terkesan maskulin di hadapan wanita.
Ada pula pria yang tidak suka olah raga, namun tetap di kategorikan menerima keadaan fisik bila, bebicara layaknya pria, berpakaian pria, hobi perang perangan, koleksi mobil-mobilan, menggabar tokoh heroik kartun, berani melakukan pekerjaan berat, pernyataan tegas tidak suka banci.

Begitu pula wanita, dia akan merawat tubuh agar terkesan anggun, hobi memasak agar kelak dapat melayani suami,  menanam atau merangkai bunga, berpakaian layaknya wanita, dan memiliki pria idaman.




c) mencapai kemerdekaan emosional dari orang dewasa.

Seorang remaja yang memiliki kemerdekaan emosi, dirinya tidak mau diatur-atur lagi, dia akan melakukan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta memiliki perasaan hormat kepada orang tua dengan melakukan pekerjaan dan sekolah untuk membahagiakan orangtua maupun untuk membalas budi. Kemudian mencari penghasilan untuk meringankan beban orang tua secara ekonomi.


3) Usaha apa saja yang dapat Anda lakukan untuk pencapaian tugas perkembangan? (dengan contoh).

Jawab:
a) Dahalu saya berksperimen dengan gaya memimpin liberal maupun otoriter, gaya kepemimpinan keduanya memiliki banyak kekurangan, sekarang saya berusaha berfikir bijak untuk menjadi bijaksana dalam kepemimpinan. Kepemimpina diri, kelompok kecil, maupun organisasi.

b) Memahami diri ketika sedang marah dan panik, sehingga secepat mungkin tenanang, sabar dan berfikir jernih.

c) Menyatakan pada diri, bahwa sudah menemukan jati diri, serta menyadari adanya potensi yang perlu dikembangkan, serta memahami kekurangan diri untuk diminimalisir.


4) Mengapa pendidik perlu memahami tugas perkembangan remaja?

Jawab:
Pendidik perlu memahami tugas perkembangan remaja karena;

a) Agar pendidik menyadari kebutuhan dan permasalahan sosial remaja, sehinga tidak ada pemaksaan kehendak dari pendidik kepada remaja. Remaja melakukan tugas dengan kesadaran dari dalam, dirinya merasa membutuhkan yang diarahkan pendidik.

b) agar pendidik memperlakukan remaja untuk berpikir dewasa, dan membuat remaja merasa diperlakukan selayaknya orang dewasa, namun pendidik menyadi remaja merupakan tahapan menjadi dewasa, pada tahapan ini ada sifat kekanak-kanakan, sehingga pendidik harus memahami dan menyikapi dengan elegan.

c) agar pendidik membuka kesempatan remaja untuk mengamukakan ide, menerapkan kreatifitas, karena pada tahap ini akan muncul ide-ide brilian, intervensi berlebihan akan membunuh kreatifitas remaja. Pendidik berfungsi menengahi perselisihan, memberi jalan berupa solusi saat terjadi kebuntuan, meluruskan bila melampau batas.

5) Jelaskan tugas perkembangan yang berkaitan dengan aspek sosial-psikologis!

Jawab:
Tugas perkembangan berkaitan dengan aspek sosial-psikologis dapat dijelaskan bahwa manusia yang mengalami perkembangan akan ada peningkatan pada pola fikir tidak hanya pada pertumbuhan secara fisik, dengan kata lain memiliki kedewasaan secara psikologis dan sosial seiring bertambahnya umur.

Remaja yang memiliki kedewasaan psikologis memiliki kematangan dalam melakukan tidakan, mulai berfikir sebelum bertindak, serta mengontrol emosi dan hawanafsu. 

sementara remaja yang memilik kedewasaan sosial, akan berempati kepada orang yang lemah, dan berjuang untuk menlawan ketidak adilan yang dilakukan pemimpin dan penguasa.