Kamis, 15 September 2011



BAB I
PENDAHULAN
 A.    Latar Belakang
       Manusia di dunia ini dihadapkan pada dua cobaan yaitu cobaan yang mengembirakan dan cobaan yang menyusahkan. Cobaan tersebut berupa tahapan dan rintangan yang menguji manusia dalam kehidupan. Apa bila mampu menyelesaikan dengan baik akan mendapatkan pahala dan bila mengingkari ketentuan yang ada akan tenggelam dalam penderitaan di akhirat kelak.
       Terkadang manusia terbuai pada kegembiraan, padahal kegembiran juga cobaan. Manusia seringkali tergelincir akibat keterlenaan dan berlebihan (melampaui batatas)  yang berujung pada suatu penderitaan. Sementara ada pula yang menghadapi cobaan yang menyusahkan namun tidak kuat menjalani cobaan. Orang tersebut menjadi frustasi dan meluapkan emosi tanpa kontrol. Sikap seperti itu malah semakin menambah penderitaan. Ada pula ketika merasa kesabaran sudah di batas perjuangan berhenti melakukan perjuangan, padahal keinginan yang diharapkan selangkah lagi tercapai sehingga tetap  pada pendedritaan dan menyesal ketika harapan yang dicitakan berlalu begitu saja di hadapanya. Ada pula yang menjalani hidup dengan sikap overconfident (terlalu bermain aman), tidak mau menghadapi masalah atau lari dari masah namun yang terjadi mendapati pada suatu penderitaan. Ada pula yang mencoba berkelik dari masalah dan hanya mengincar kebahagiaan dunia namun di akhirat berujung pada penderitan. 
Manusia di dunia ini tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah  baik yang menyusahkan atau yang menggembirakan. Masalah timbul karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Proses dalam menghadapi kesenjangan seringkali dihadapkan pada lika-liku kehidupan yang sering dianggap sebagai suatau penderitaan. Susah maupun senang merupakan dua agenda yang silih berganti tejadi dalam kehidupan manusia. Habis susah ada senang dan habis senang ada susah. Manusia selalu untuk berusaha menjadi lebih baik. Manusia perlu menjalani proses di dunia ini untuk mencari bekal untuk akherat  dengan menjalani suka duka yang ada di dunia.
Manusia juga dituntut untuk keimanan terhadap Tuhannya, baik duka maupun duka untuk semakin mendekatkan diri. Manusia sepatutnya bukan mengeluh dan meratapi penderitaan. Namun harus bangkit mengolah penderitaan menjadi sesuatu yang bernilai lebih berharga. Dan terus belajar menelusuri kehidupan karena ada  hikmah di balik penderitaan.
       Penderitaan datang tak terduga begitu pula kebahagian datang dari celah tak terduga. Sehingga manusia dituntut untuk siap siaga dalam menghadapi suka maupun duka di kehidupan ini. Dan sepatutnya kita berani menghadapi dalam menyelesaikan persoalan hidup ini, tidak pilih-pilih saat senang semangat sat susah loyo, atau saat duka tabah saat senang tidak bersukur. Kita perlu belajar dari pengalaman dan cepat bangkit saat tergelincir.
       Semangat juga bukan semangat yang melampaui batas, tetapi berusaha menenenagkan  hati, sabar menghadapi penderitaan, hati iklas lilahita ala mengharap ridho Allah. Karena solusi-solusi saat menghadapi penderitaan akan mudah muncul saat hati tenang dan berpikir jernih. Berbeda dengan tergesa-gesa menyebabkan solusi di depan mata terlihat jauh. Dan terkadang hal penunjang terabaikan sehingga menambah masalah baru. kita juga bukan hanya menunggu desakan solusi tapi perlu menyambut solusi.

B. Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di rumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari penderitaan?
2. Apa hubungan manusia dengan penderitaan?
3. Bagaimana cara manusia menghadapi penderitaan?
4. Apa saja sebab-sebab terjadinya penderitaan?
5. Apa pengaruh dari penderitaan yang dihadapi manusia?

C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dilakunkannya penulisan makalah ini adalah:
1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian penderitaan
2. Mahasiswa dapat memahami hubungan manusia dengan penderitaan
3. Mahasiswa dapat menemukan solusi dalam menghadapi penderitaan
4.Mahasiswa dapat memahami penyebab terjadinya penderitaan
5. Mahasiswa dapat memahami pengaruh penderitaan yang dihadapi dalam kehidupan manusia.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penderitaan

         Penderitaan berasal dari kata dasar derita. Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta, menyerap kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggung. Jadi dapat diartikan penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenakan. Penderitaaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin. Penderitaan secara lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komposisi yang mengalami kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan menjadi kelaparan, atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak dapat dipungkiri keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Ada pula kondisi alam yang ekstrem, seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat kehujanan membuat kedinginan.
        Ada pula penderitaan yang secara lahiriah seperti sakit hati karena dihina, sedih karena kerabat meninggal, putus asa karena tidak lulus ujian. Atau penyesalan karena tidak melakukan yang diharapkan. Sementara yang lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan pada sisi yang satu berdampak pada sisi yang lain atau dengan kata lain penderitaan lahiriah memicu penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misal akibat kehujanan badan menjadi kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibatnya mendongkol, risau atau menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian menjadi tidak mau makan dan menimbulkan perut sakit.
       Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, dari yang terberat hingga ringgan. Persepsi pada setiap orang juga berpengaruh menentukan intensitas penderitaan. Suatu kejadian dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu dianggap penderitaan bagi orang lain. Dalam artian suatu permasalahan sederhana yang dibesar-besarkan akan menjadi penderitaan mendalam apabila disikapi secara reaksioner oleh individu. Ada pula masalah yang sangat urgen disepelekan juga dapat berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan kemudian terjadi penderitaan.
       Manusia tidak dapat mengatakan setiap situasi masalahnya sama, penderitaanya sama solusinyapun sama. Penderitaan bersifat universal dapat datang kepada siapa pun tidak peduli kaya maupun miskin, tua maupun muda. Penderitaan dapat muncul kapan pun dan di mana pun. Semisal saat seminar di siang hari, suasana pengap, ada kipas angin pun masih kipas-kipasan membayangkan ruang ber AC, dan pulang tidur merentangkan badan di kasur empuk. Atau makan buah segar dan minum air dingin. Namun pasien rumah sakit di ruang VIP, tidur di kasur empuk ruang ber-AC, banyak buah segar dan air segar di kulkas, merasa tidak betah dan ingin cepat pulang. Ada lagi orang yang tidak mempunyai uang merasa menderita tidak dapat wisata saat liburan, namun ada pula orang yang berpergian membawa uang banyak tanpa bekal hendak liburan ternyata mobil mogok di daerah yang jauh dari permukiman, dan saat makan siang tiba, rasa lapar mulai muncur, ternyata uang tidak dapat menolong dari penderitaan karena tidak ada barang yang bisa dibeli, terlebih muncul rasa gengsi atau keegoisan penumpang lain menambah penderitaan.
        Penderitaan merupakan realita kehidupan manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga harus siap menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan orang yang menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan mendapatkan kebahagian. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit berjuang mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang.
        Akibat penderitaan yang bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang dialami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan. Sehingga penderitaan merupakan hal yang bermanfaat apabila manusia dapat mengambil hikmah dari penderitaan yang dialami. Adapun orang yang berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang rugi karena tidak melapaskan diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmah dan pelajaran yang didapat dari penderitaan yang dialami.
        Penderitaan juga dapat "menular" dari seseorang kepada orang lain. Misal empati dari sanak-saudara untuk membantu melepaskan penderitaan. Atau sekedar simpati dari orang lain untuk mengambil pelajaran dan perenungan.
       Contoh gamblang penderitaan manusia yang dapat diambil hikmahnya diantaranya tokoh filsafat ekistensialisme Kierkegaard (1813-1855) seorang filsafat asal Denmark yang sebelum menjadi filsafat besar, sejak masa kecil banyak mengalami penderitaan. Penderitaan yang menimpanya, selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya. Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf eksistensial yang besar.
       Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar. Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar. Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.
Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW. Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).
       Dalam riwat hidup Bhuda Gautama yang dipahatkan dalam bentuk relief Candi Borobudur, terlihat adanya penderitaan. Tergambar seorang pangeran (Sidharta) yang meninggalkan istana yang bergelimangan hata, memilih ke hutan untuk menjadi biksu dan makan dengan cara megembara di hutan yang penuh penderitaan.
       Riwayat tokoh tokoh besar di Indonesia pun dengan penderitaan. Buya Hamka mengalami penderitaan hebat pada masa kecil, hingga ia hanya mengecap sekolah kelas II. Namun ia mampu menjadi orang besar pada zamanya, berkat perjuangan hidup melawan penderitaan. Contoh lain adalah Bung Hata yang beberapa kali mengalami pembuangan namun pada akhirnya ia dapat menjadi pemimpin bangsanya. Ketika membaca kisah tokoh-tokoh besar tersebut, kita dihadapkan pada jiwa besar, berani karena benar, rasa tangung-jawab, dan sebagainya. Dan tidak ditemui jiwa munafik, plin-plan, dengki, iri dan sebagainya.

B. Hubungan Manusia dengan Penderitaan

        Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala yang ada atas seisi jagad raya ini. Dia menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
         Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Perlu dipahami mahluk hidup selalu membutuhkan pembaharuan dalam diri, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuh air dan udara. Dan membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apa bila tidak terpenuhi manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukang penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi patokan untuk selalu dipenuhi akan membawa pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di akhirat.
        Manusia sebagai mahluk yang berakal dan berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun juga pemikirannya dan perasaannya. Tidak hanya naluri namun juga nurani. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlah. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam penghidupanya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupanya.
        Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita di dunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan di dalam neraka.
Manusia di dunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahannya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa pada pederitaan di akhirat.
Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi penderitaan. Ada yang menganggap sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak beranjak dari kesesatan. Sangat terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan kehidupan manusia berupa siksaan, kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat manusia mengalami kekalutan mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati proses tersebut dengan ketabahan, di akherat kelak dapat menggiring manusia pada penyiksaan yang pedih di dalam neraka. Adapun akan lebih jelas akan dibahas sebagai berikut.

1. Siksaan
        Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Siksaan juga dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Apa bila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kuduk kita. Di dalam benak kita, terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh, kuat dan dengan muka seram sedang menggenggam cemeti yang siap mencambukkan tubuh orang yang akan disiksa; atau ia memegang batangan besi yang sudah dipanaskan ujungnya sampai merah dan siap ditempelkan pada tubuh orang yang akan disiksa. Semua itu dengan maksud agar orang yang disiksa memenuhi permintaan penyiksa atau sebagai perbuatan balas dendam.
          Siksaan pada manusia juga dapat menimbulkan kreativitas bagi yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tak langsung. Hal itu terlihat dari banyak cerpen, novel, berita, atau filem yang mengisahkan tentang siksaan. Dengan menyimak hasil seni atau berita kita dapat mengambil arti manusia, harga diri, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, tetapi juga hati yang telah dikuasi hawa nafsu, godaan setan, tidak mengenal perikemananusiaan dan sebagainya.
Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.
       Siksaan yang sifatnya psikis tersebut dapat menimbulkan gejala pada penderita bisa berupa: kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain: claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.
       Di dalam kitab suci diterangkan jenis dan ancaman siksaan yang dialami manusia di akhirat nanti, yaitu siksaan bagi orang-orang musyrik, syirik, dengki, memfitnah, mencuri, makan harta anak yatim, dan sebagainya.  Antara lain, ayat 40 surat Al Ankahut menyatakan :
"masing-masing bangsa itu kami siksa dengan ancaman siksaan, karena dosa-dosanya. Ada diantaranya kami hujani dengan batu-batu kecil seperti kaum Aad, ada yang diganyang dengan halilintar bergemuruh dahsyat seperti kaum Tsamud, ada pula yang kami benamkan ke dalam tanah seperti Qorun, dan ada pula yang kami tenggelamkan seperti kaum Nuh. Dengan siksaan-siksaan itu, Allah tidak akan menganiaya mereka, namun mereka jualah yang menganiaya diri sendiri, karena dosa-dosanya”.

        Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi dan banyak dibaca di berbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis di halaman pertama dengan judul huruf besar, dan kadang-kadang disertai gambar si korban. Adapun siksaan bersifat psikis dapat di klasifikasi seperti:
• Kebimbangan, siksaan ini terjadi ketika manusia sulit untuk menentukan pilihan yang mana akan mereka ambil dan mereka tidak ambil. Situasi ini sangat membuat psikis manusia tidak stabil dan butuh pertimbangan yang amat sangat sulit.
• Kesepian, merupakan perasaan sepi yang amat sangat tidak diinginkan oleh setiap manusia. Pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk yang bersosial ,hidup bersama dan tidak hidup seorang diri. Faktor ini dapat mengakibatkan depresi kejiwaan yang berat dan merupakan siksaan paling mendalam yang menimpa rohani manusia
• Ketakutan, adalah suatu reaksi psikis emosional terhadap sesuatu yang ditakuti oleh manusia. Rasa takut ini dapat menimbulkan traumatik yang amat mendalam. Dampaknya manusia bisa kehilangan akal pikirannya dan membuat manusia berkejatuhan mental.

2. Rasa Sakit
            Rasa Sakit adalah rasa yang di alami manusia akibat menderita suatu penyakit. Rasa sakit ini dapat menimpa setiap manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tua-muda, orang bodoh atau pintar, bahkan dokter sekalipun kesemuanya tidak dapat menghindarkan dari rasa sakit. Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian sebap akibat, karena siksaan, orang merasa sakit; dan karena merasa sakit orang menderita. Atau karena penyakitnya tak sembuh-sembuh, ia merasa tersiksa hidupnya, dan mengalami penderitaan.

3. Kekalutan Mental
        Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
• Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
• Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah

a. Tahap-tahap Gangguan Kejiwaan

Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
• gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya
• Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara benahan dirinya salah; pada orang yang tidak menderita ganguaan kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
• Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan

b. Sebab-sebab Timbulnya Kekalutan Mental

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental dapat banyak disebutkan antara lain sebagai berikut:
• Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna; hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
• Terjadinya konflik sosial budaya; terjadinya konflik sosial budaya diakibatkan norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misalnya orang pedesaan yang berat menyesuaikan diri dengan kehidupan kota, atau orang yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dan masa jayanya dulu.
• Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial; over acting sebagai overcompensatie.

c. Proses-proses Kekalutan Mental

       Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negatif. Positif; trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, atau pun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk frustasi antara lain:

• Agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hipertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya
• Regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitif atau kekanak-kanakan
• Fiksasi adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu
• Proyeksi merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif kepada orang lain
• Identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imajinasinya
• Narsisme adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari pada orang lain
• Autisme ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yagn dapat menjurus ke sifat yang sinting.

Penderitaan kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti:
1. kota – kota besar
2. anak-anak muda usia
3. wanita
4. orang yang tidak beragama
5. orang yang terlalu mengejar materi

Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut:
1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
2. Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan

        Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif atau pun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, mislanya antikawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup, dan sebagainya. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat antikawin-paksa, ia berjuang menentang kawin-paksa, dan lain-lain.

4. Neraka
Berbicara tentang neraka, kita selalu ingat dosa dan terbayang dalam ingatan, siksaan yang luar biasa dan penderitaan hebat. Jelas bahwa antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan memiliki suatu rangkaian sebab-akibat. Manusia masuk neraka karena dosanya. Oleh karena itu, bila kita berbicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentan dosa berati berbicara kesalahan. Seperti yang tertuang dalam Quraan Surat Al Fath ayat 6 yang artinya:    
"Dan supaya dia menyiksa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang yang musyrikin laki-laki dan perempuan yang mempunyai persangkaan jahat terhadap Allah. Mereka mendapat giliran buruk. Allah memurkai mereka, dam menyediakan neraka jahanam baginya. Dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali".
(Q.S. Al-Fath : 6)

C. Cara Manusia Menghadapi Penderitaan
         Manusia memiliki berbagi cara meng hadapi penderiataan mulai dari berekspresi dengan seni, meminta bantuan orang lain. Hingga manusia merasa mampu melewati penderitaan tersebut. Selagi nyawa ada manusia tak akan pernah berhenti berjuang mengatasi masalah.

1. Penderitaan Dan Perjuangan
         Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, rnenghindari atau menghilangkan sama sekali.
          Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis dan berusaha mengataasi kesulitan hidup. Allah telah berfinnan dalam surat Arra'du ayat 11, bahwa Tuhan tidak akan membah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.
        Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dan bahaya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Kelalaian manusia merupakan sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan. Penderitaan yang terjadi selain dialami sendiri oleh yang bersangkutan, mungkin juga dialami oleh orang lain. Bahkan mungkin terjadi akibat perbuatan atau kelalaian seseorang, orang lain atau masyarakat menderita.

2. Penderitaan, Media Masa dan Seniman
Beberapa sebab lain yang menimbulkan penderitaan manusia ialah kecelakaan, bencana alam, bencana perang. dan lain-lain. Contohnya ialah tenggelamnya kapal Tampomas Dua di perairan Masalembo, jatuhnya pesawat hercules yang mengangkut para perwira muda di Condet, Meletusnya Gunung Galunggung,Perang Irak-Iran.
Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar TV, pesawat radio, dengan maksud supaya semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh penderitaan sesamanya. Dengan demikiaan dapat menggugah hati manusia untuk berbuat sesuatu. Nyatanya tidak sedikit bantuan dari para dermawan dan sukarelawan berupa material atau tenaga untuk meringankan penderitaan dan penyelamatan mereka dari musibah ini setelah mendapatkan berita dari media masa. Bantuan-bantuan ini dilakukan secara perseorangan atau pun melalui organisasi-organisasi sosial, kemudian dikirimkan atau diantarkan langsung ke tempat-tempat kejadian dan tempat-tempat pengungsian.
Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menentukan sikap solidaritas antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni. Sebagai contoh bagaimana penderitaan anak bernama Arie Hangara yang mati akibat siksaan orang tuanya sendiri yang difilmkan dengan judul "Arie Hangara".

D. Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
 Penderitaan dapat muncul dari berbagai sebab. Penyebab tersebut kadang datang tak terduga. Apa bila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut:

1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik kembali. Dengan kata lain, manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya. Perbedaan nasib buruk dan takdir, kalau takdir, Tuhan yang menentukan sedangkan nasib buruk itu manusia penyebabnya.

2. Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan atau azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan/azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, dan optimisme dapat menjadi usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu. Banyak contoh kasus penderitaan semacam ini dialami manusia. Beberapa kasus penderitaan dapat diungkapkan beriktu ini :
(1) Seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan, diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia disekolahkan, kecerdasannya luar biasa. Walaupun begitu ia dapat melihat dengan mata hatinya terang benderang. Kanena kecerdasannya, ia memperoleh pendidikan sampai di Universitas, dan akhimya memperoleh gelar Doktor di Universitas DSarbone Perancis. Dia adalah Prof.Dr.Thaha Husen, Guru besar Universitas di Kairo, Mesir.
(2) Tenggelamnya Fir'aun di laut Merah seperti disebutkan dalam Al-Qur'an adalah azab yang dijatuhkan Tuhan kepada orang yang angkuh dan sombong. Fir'aun adalah raja Mesir yang mengaku dirinya Tuhan. Ketika Fir'aun bersama bala tentaranya mengejar nabi Musa As. dan pengikut-pengikutnya menyeberang laut Merah, laut itu terbelah dan Nabi Musa serta para pengikutnya berlalu. Ketika Fir'aun dan tentaranya berada tepat di tengah belahan laut merah itu, seketika itu juga laut merah tertutup lagi dan mereka semua tenggelam.

E. Pengaruh Penderitaan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa "sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna", "nasi sudah menjadi bubur". Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dan penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dan kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa; anti ibu tiri, ia berjuang melawan sikap ibu tiri; anti kekerasan, ia berjuang menentang kekerasan, dan lain-lain.

1. Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia yang paling populer adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Oleh karena itu, penderitaan harus dibedakan dengan kenikmatan, dan penderitaan itu sendiri sifatnya ada yang lama dan ada yang sementara. Hal ini berhubungan dengan penyebabnya. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fisik, seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya. Semua ini menyangkut kehidupan duniawi dan tidak mungkin disingkirkan dari dunia dan dari kehidupan manusia.
Penderitaan dan kenikmatan muncul karena alasan “saya suka itu” atau “sesuatu itu menyakitkan”. Kenikmatan dirasakan apabila yang dirasakan sudah didapat, dan penderitaan dirasakan apabila sesuatu yang menyakitkan menimpa dirinya. Aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan adalah hedonisme, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, dan kunci menuju hidup baik. Penafsiran hedonisme ada dua macam, yaitu:
a. Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
b. Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.

        Kritik terhadap hedonisme ialah bahwa tidak semua tindakan manusia hedonistis, bahkan banyak orang yang tampaknya merasa bersalah atas kenikmatan-kenikmatan mereka. Dan hal ini menyebabkan mereka mengalami penderitaan. Pandangan Hedonis psikologis ialah bahwa semua manusia dimotivasi oleh pengejaran kenikmatan dan penghindaran penderitaan. Mengejar kenikmatan sebenarnya tidak jelas, sebab ada kalanya orang menderita dalam rangka latihan-latihan atau menyertai apa yang ingin dicapai atau dikejarnya.
        Kritik Aristoteles ialah bahwa puncak etika bukan pada kenikmatan, melainkan pada kebahagiaan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kenikmatan bukan tujuan akhir, melainkan hanya “pelengkap” tindakan. Berbeda dengan John Stuart Mill yang membela Hedonisme melalui jalan terhormat, utilitarisme yaitu membela kenikmatan sebagai kebaikan tertinggi. Suatu tindakan itu baik sejauh ia lebih “berguna” dalam pengertian ini, yaitu sejauh tindakan memaksimalkan kenikmatan dan meninimalkan penderitaan.

2. Penderitaan dan Kasihan
       Kembali kepada masalah penderitaan, muncul Nietzsche yang memberontak terhadap pernyataan yang berbunyi: “Dalam menghadapi penderitaan itu, manusia merasa kasihan”. Menurut Nietzche, pernyataan ini tidak benar, penderiutaan itu adalah suatu kekurangan vitalitas. Selanjutnya ia berkata, “sesuatu yang vital dan kuat tidak menderita, oleh karenanya ia dapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan semesta alam. Orang kasihan adalah yang hilang vitaliatasnya, rapuh, busuk dan runtuh. Kasihan itu merugikan perkembangan hidup”. Sehingga dikatakannya bahwa kasihan adalah pengultusan penderitaan. Pernyataan Nietzsche ini ada kaitannya dengan latar belakang kehidupannya yang penuh penderitaan. Ia mencoba memberontak terhadap penderitaan sebagai realitas dunia, ia tidak menerima kenyataan. Seolah-olah ia berkata, penderitaan jangan masuk ke dalam hidup dunia. Oleh karena itu, kasihan yang tertuju kepada manusia harus ditolak, katanya.
        Pandangan Nietzsche tidak dapat disetujui karena: pertama, di mana letak humanisnya dan aliran eksistensialisme. Kedua, bahwa penderitaan itu ada dalam hidup manusia dan dapat diatasi dengan sikap kasihan. Ketiga, tidak mungkin orang yang membantu penderita, menyingkir dan senang bila melihat orang yang menderita. Bila demikian, maka itu yang disebut sikap sadisme. Sikap yang wajar adalah menaruh kasihan terhadap sesama manusia dengan menolak penderitaan, yakni dengan berusaha sekuat tenaga untuk meringankan penderitaan, dan bila mungkin menghilangkannya.

3. Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia
Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia (Al-Ghazali, abad ke 11). Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa’ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterima kasih. Padahal dunia tidak berkekurangan untuk orang-orang di segala zaman. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang menderita ini, sebelumnya perlu diketahui tanda-tanda hati yang sedang gelisah (hati yang sakit). Perlu diketahui bahwa setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna, ia kacau dan gelisah. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan ciri-ciri yang menderita.  Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain hanya untuk menyembah kepada-Ku”. (QS. 51: 56)

“Barangsiapa merasa mengerti sesuatu, tetapi tidak mengenal Allah, sesungguhnya orang tersebut tidak mengerti apa-apa. Barangsiapa mempunyai sesuatu yang dicintainya lebih daripada mencintai Allah, maka sesungguhnya hatinya sakit. “katakanlah, hai Muhammad, apabila orang tuamu, anakmu, saudaramu, istrimu, handai tolanmu, harta bendamu yang engkau tumpuk dalam simpanan serta barang dagangan yang yang engkau khawatirkan ruginya dan rumah tempat tinggal yang kamu senangi itu lebih kamu cinta daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai perintah Allah datang”. (QS. 9: 24).

Hal lain yang menimbulkan derita terhadap seseorang ialah merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah, atau derita. Maka ia pun berusaha menjauhkan diri dari lingkup kesadaran atau perasaannya. Akhirnya, keinginan atau dorongan itu tertahan dalam alam bawah sadar. Namun, sering orang itu mengekspresikan keinginan atau dorongan itu secara tidak sadar atau dengan ucapan yang keliru. Atau, apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?
“Dan kalau Kami mengkhendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu dapat benar-benar mengenal mereka dengan tanda-tandanya, tetapi kamu mengenal mereka dari bicara mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu”. (QS. 47: 29-30).
       Demikianlah Al-Quran telah mengisyaratkan tentang adanya ciri-ciri orang yang tidak sadar (menderita) lewat kata-kata yang keliru, sejak 14 abat yang lalu sebelum dikemukakan oleh Freud, penemu teori psikoanalisis. Bahkan sebuah hadist mengatakan:
“Tak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia kecuali jika Allah akan memberinya penutup. Apabila penutup itu baik, maka rahasia itu baik, dan apabila penutup itu buruk maka buruk pula rahasia itu”. (Tafsir Ibn Katsir, Vol. 4 hal. 180).
Obat supaya hati sehat di firmankan Allah sebagai berikut:
“Kecuali orang yang datang ke hadirat Allah SWT dengan hati yang suci”. (QS. 26: 89 ).
Jadi, mengenal atau makrifat kepada Allah yang membawa semangat taat kepada Allah SWT dengan cara menentang hawa nafsu, merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam hati (menderita gelisah) (Al-Ghazali, abad ke-11).



BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
       Dalam materi ini kita dapat mengetahui tentang apa itu penderitaan, kehidupan manusia tidak akan datar pasti bergelombang, maksudnya pasti ada yang menyenangkan dan menyusahkan. Pederitaan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia, rasa sakit, siksaan menuntut manusia auntuk bangkit menjadi lebih baik namun ada yang tidak kuat sehingga terjadi kekalutan mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati sesuai denan kaidah agama, manusia akan mendapat penderitaan di akhirat berupa pemyiksaan di dalam neraka. 
       Dalam menghadapi penderitaan setiap orang pasti melakukan hal yang berbeda, ada yang menyikapinya dengan tindakan positif dan ada juga dengan tindakan negatif, misalkan yang positif ia akan lebih berusaha agar tidak mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah peluang dalam melakukang sebuah inovasi baru. Sedangkan yang negatif ia akan trauma dan membuat kondisi dirinya menjadi tidak labil karena terlalu berlebihan menyikapi penderitaannya dan bahkan sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani setiap orang harus dijaga agar terhindar dari kekalutan mental yang bisa merusak psikis kita.

B.   Saran
        Diharapkan kalangan mahasiswa dan pembaca dapat melakukan penelitian lebih lanjut pada setiap sub bab. Mengingat luasnya pembahasan dalam makalah ini. Sehingga dapat memahami lebih dalam.



DAFTAR PUSTAKA
                           
http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/manusia-dan-penderitaan/
http://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-penderitaan
htmlhttp://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-penderitaan.html
http://www.ujank.web.id/Coretan-Tugas/manusia-dan-penderitaan.html
http://ochaayu.blogspot.com/2010/04/pengertian-penderitaan.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/tugas-ibd-manusia-dan-penderitaan-minggu3/
buta.

Kamis, 30 Juni 2011

Kashmir, Surga Dunia yang Membara
Posted by admin
KASHMIR adalah sebuah wilayah di utara sub-benua India. Wilayah ini Kashmir pernah disebut sebagai “surga dunia” (paradise on earth) karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.

Istilah Kashmir secara sejarah digambarkan sebagai sebuah lembah di selatan dari ujung paling barat barisan pegunungan Himalaya. Secara politik, istilah Kashmir dijelaskan sebagai wilayah yang lebih besar yang termasuk wilayah Jammu, Kashmir, dan Ladakh.

“Vale of Kashmir” utama relatif rendah dan sangat subur, dikelilingi oleh gunung yang luar biasa dan dialiri oleh banyak aliran dari lembah-lembah. Dia dikenal sebagai suatu tempat paling indah spektakuler di dunia.

Srinagar, ibu kota kuno, terletak di dekat Danau Dal, dan terkenal karena kanal dan rumah perahunya. Srinagar (ketinggian 1.600 m atau 5.200 kaki) berlaku sebagai ibu kota musim panas bagi banyak penakluk asing yang mendapatkan panas di utara India. Tepat di luar kota terdapat taman Shalimar yang indah dibuat oleh Jehangir, kaisar Mughal, pada 1619.

Wilayah ini terbagi oleh tiga negara: Pakistan mengontrol barat laut, India mengontrol tengah dan bagian selatan Jammu dan Kashmir, dan Republik Rakyat China menguasai timur laut (Aksai Chin). Meskipun wilayah ini dalam prakteknya diatur oleh ketiga negara tersebut, India tidak pernah mengakui secara resmi wilayah yang diakui oleh Pakistan dan China.

Pakistan memandang seluruh wilayah Kashmir sebagai wilayah yang dipertentangkan, dan tidak menganggap klaim India atas wilayah ini. Sebuah pilihan yang disukai banyak orang Kashmir adalah kemerdekaan, namun baik Pakistan dan India menentang hal ini.

Kashmir merupakan salah satu wilayah rebutan terkenal di dunia, dan kebanyakan peta buatan Barat menggambarkan wilayah ini dengan garis bertitik untuk menandai batasan yang tidak pasti.

Jammu dan Kashmir adalah sebuah negara bagian di India bagian utara. Jammu dan Kashmir berbatasan dengan Himachal Pradesh di selatan, Republik Rakyat Tiongkok di utara dan timur, dan Pakistan di barat. Sebagian besar penduduknya beragama Islam. Negara bagian ini terdiri dari tiga wilayah: Jammu, Ladakh, dan Kashmir.

Potret Muslim Menderita
Muslim Kashmir Kashmir adalah potret Muslim minoritas yang tertindas. Mereka terus menderita dalam penindasan India sekaligus korban ketidakpedulian kaum muslim dunia.

Sejak tahun 1947, saat India merdeka dari penjajagan Inggris lalu terbagi dua negara menjadi dua negara baru –India dan Pakistan, “surga” itu tiada lagi. Yang ada justru sebuah lembah penuh darah dan noda-noda pertikaian yang tak kunjung henti. Ratusan jiwa Muslim Kashmir melayang.

Darah dan air mata menetes nyaris setiap hari. Sejak tahun 1947, India dan Pakistan sama-sama mengklaim sebagai yang paling berhak atas daerah ini. Pakistan memiliki kedekatan ideologis dengan penduduk Kashmir yang mayoritas Muslim. Namun India tetap bersikukuh bahwa daerah subur tersebut adalah miliknya.

Muslimin Kashmir sendiri condong bergabung dengan Pakistan karena sama-sama Muslim, atau bahkan menjadi negara sendiri. Berbagai kelompok pejuang kemerdekaan muncul di Kashmir untuk mengusir tentara pendudukan India. Hingga kini pertempuran sporadis –plus aksi-aksi penculikan, penyanderaan, pembunuhan, penangkapan, dan pengeboman– masih terjadi antara pejuang Kashmir dan pasukan India.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berusaha mencarikan solusi.

Berkali-kali Dewan Keamanan PBB mengeluaran resolusi — No. 47 (Tahun 1948), No. 51 (1948), No. 80 (1950), No. 91 (1951)– yang pada intinya mendukung rakyat Kashmir untuk menentukan nasibnya sendiri dengan menggelar plebisit/referendum. Namun, India tidak peduli, bahkan menolak setiap campur tangan asing, dengan dalih Kashmir dalam masalah internal India.

Pakistan menyatakan dukungan moral bagi perjuangan Muslim Kashmir. Namun India menuduh Pakistan lebih dari sekadar memberi dukungan moral, namun juga dana, persenjataan, dan pelatihan militer bagi pejuang-pejuang Kashmir. Setidaknya, tercatat tiga kali pertempuran besar antara India dan Pakistan melanda Kashmir –tahun 1947, 1965, dan 1971.

Pendudukan India
Sejarah penguasaan Kashmir oleh India adalah sejarah penjajahan. Ketika India dan Pakistan merdeka dari Inggris tahun 1947, Kashmir tidak termasuk wilayah India ataupun Pakistan. Kashmir menjadi wilayah tersendiri karena memang sejarahnya juga demikian –sebuah wilayah merdeka.

Tahun 1846, Kashmir dijual penguasanya, Sikh Ranjit Singh, kepada Maharaja Ghulab Singh dari Jammu seharga 7.5 juta Rupee (sekitar US$ 166) di bawah Perjanjian Amritsar.

Pada masa pembagian wilayah antara India dan Pakistan tahun 1947, Kashmir merupakan salah satu dari 560 Princely States –daerah di bawah wewenang langsung penjajah Inggris. Hukum yang berlaku saat itu memberikan kebebasan kepada penduduk Kashmir untuk bergabung dengan India atau Pakistan, atau tetap berdiri sendiri.

Tanggal 19 Juli 1947 penduduk Muslim menyatakan keputusan resmi: tidak bergabung dengan negara mana pun alias tetap berdiri sendiri. Namun, penguasa Kashmir saat itu, Maharajah Hari Singh, merasa berkeberatan, dan menggabungkan Kashmir ke dalam India berdasarkan “Perjanjian Asesi” tanggal 26 Oktober 1947.

Perjanjian Asesi itulah yang hingga kini menjadi sumber utama perselisihan antara India dan Pakistan yang mempersoalkan keabsahan perjanjian itu, apalagi India tidak pernah mengadakan referendum seperti yang direncanakan oleh Gubernur Jenderal India, Lord Mountbatten, tanggal 27 Oktober 1947. Bahkan, ketika PBB berkali-kali mengeluarkan resolusi tentang hak menentukan nasib sendiri bagi Kashmir, India pun bergeming.

Berbagai aksi perlawanan muncul dan kian menguat dari tahun ke tahun. India terus menambah jumlah pasukan pendudukannya hingga mencapai lebih dari 500 ribu tentara. Tahun 1987 muncul Front Muslim Bersatu. Pada akhir tahun itu juga muncul berbagai kelompok pejuang kemerdekaan Kashmir dan kelompok pro-Pakistan, antara lain Hizbul-Mujahideen (pro-Pakistan), Front Pembebasan Jammu-Kashmir (JKLF, Jammu-Kashmir Liberation Front), dan Kongres Hurriyat (Kemerdekaan) yang menempuh jalan damai untuk mengakhiri keberadaan India di Kashmir.

Segala cara dilakukan India untuk meredam hasrat kemerdekaan dan perlawanan Muslim Kashmir. Selain bahasa kekerasan melalui operasi militer, pemberlakuan jam malam, penculikan, eksekusi, bahkan pemerkosaan, India juga menerapkan strategi khusus. India melakukan studi komparasi ke Spanyol dengan mengirimkan seorang pakar untuk mengkaji strategi kaum Kristen dalam memusnahkan Islam dan kaum Muslimin di sana. Juga dilakukan pengkajian strategi bekas Uni Soviet dalam memusnahkan Islam di Asia Tengah.

Penindasan yang dilakukan India kian menguatkan semangat Muslim Kashmir untuk merdeka. Sosiolog Pakistan, Akbar S. Ahmed (1993), melukiskan kondisi mengenaskan Kashmir sebagai berikut:
“Kashmir benar-benar diabaikan India. Tidak mempunyai unit industri besar. Kultur dan bahasa Kashmir dibiarkan merana. Hampir tidak pernah ada pemilu yang bebas dan adil. Janji-jani plebisit telah dilupakan. Peluru dan tongkat komando terlalu sering digunakan pasukan India. Cerita-cerita tentang penganiayaan dan pemerkosaan terlalu biasa terdengar. Seorang pria bokongnya dilubangi dengan bor listrik selama diinterogasi polisi paramiliter. Seorang pria lagi dilemparkan ke bak mandi yang airnya dialiri aliran listrik. Dan ada lagi yang kemaluannya dipotong dengan pisau”. Wallahu a’lam. (ASM. Romli).*
sumber;
http://zonaislam.net/?p=3443

Jumat, 17 Juni 2011

Sebagai calon pendidik tentunnya kita perlu mengetahui kebutuhan masing-masing peserta didik yang notabennya seorang remaja. Hasil pendidikan dan proses kehidupan yang dialami setiap remaja tidaklah sama karena adanya perbedaan personal baik fisik maupun psikis serta kondisi sosial budaya mereka tinggal.

Peserta didik dalam masa remaja, sebagai bagian anggota masyarakat memiliki kebutuhan, minat, serta permasalahan yang dihadapi antara remaja yang satu dengan yang lain terdapat karakteristik yang berbeda. Namun seringkali pendidik melakukan penyamarataan kepada peserta didik. Peserta dididik selaku remaja dipaksa untuk mengikuti kebutuhan dan "teradisi" Pendidik. Peserta didik juga seringkali dipaksa untuk menjadi seperti peserta didik lain yang dianggap baik oleh pendidik.

Perkembangan remaja dapat terhambat bila terjadi penekanan untuk tampil sempurna dan mendapatkan hasil sempurna, seperti keharusan mendapatkan nilai tertinggi. Sementara mereka memiliki bakat yang lain dari yang dituntut pendidik. Sikap pemaksaan tersebut dapat memunculkan sikap memberotak dari peserta didik. Pemberotakan yang dilakukan remaja dapat diminimalisir bila sentralisasi percontohan kepribadiaan didelegasikan kepada karakter masing-masing remaja.
Selama itu pola lama yang menjadikan peserta didik yang paling pintar dijadikan poros tebaik, akan berakibat remaja yang jauh dari lintasan karakter tersebut tidak mampu mengimbangi.

Sepatutnya pendidik menyadari remaja sebagai individu berkedudukan sebagai pribadi yang utuh, tunggal dan khas. Individu sebagai subjek yang merupakan kesatuan psiko-fisik dengan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan.Kemandirian menurut Sutari Imam Barnadib (1982) meliputi "perilaku mampu bernisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mampunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain". Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri. Sehingga remaja yang mandiri memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya. Sepatutnya mereka mampu mengambil inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Ketika disekolah mereka memiliki kepercayaan diri dan tanggung jawab terhadap tugas dari kerjakan.

Idiealnya memang seperti itu, remaja ingin bebas dari orang dewasa yang terlalu mencampuri kegiatan mereka. Namun masih ada yang tidak tepat menyikapi perilaku mereka, padahal tuntutan mereka untuk mandiri jika tidak disikapi secara tepat dapat menimbulkan dampak bagi perkembangan psikologi remaja.

Saat ini kita dapati masih banyak orang tua yang memaksakan kehendak dalam memaksakan jurusan yang tidak diminati anak mereka, akibatnya ketika belajar motivasi untuk berprestasi menurun.

Ada pula yang memiliki hobi bermusik, berolah raga, melukis, dan menari, disikapi secara negatif oleh sebagian orang tua bahkan guru dengan anggapan tidak penting bakat mereka di masa depan, karena persaingan semakin ketat. Mereka beranggapan profesi doketer, polisi, guru bahasa inggris, dan guru matematika lebih menjanjikan.

Cara seperti ini tidak elegan banyak anak yang menjadi pemberontak dan hidup tidak teratur. Selayaknya bila orang tua memiliki prediksi tersendiri katakanlah "hobi kamu bagus, namun dimasa depan kamu tidak hanya memerlukan satu keahlian, ingat persaingan semakin ketat, kamu perlu mengembangkan bakat-bakat yang ada didalam dirimu. Ingat bapak akan memfasilitasi hobi kamu, namun kamu harus bisa membagi waktu sekolah dengan kegemaranmu, lihat banyak dokter sekaligus artis yang sukses, seperti tompi dan lula kamal, namun mereka tau mana yang jadi prioritas"

Sepatutnya sikap profesionalisme perlu dikembkan sejak dini, orang tua tidak sepatutnya egois bila ternyata anak memilih jurusan yang tidak diinginkan orang tua justru orang tua perlu mendukung.

Apalagi saat ini peluang semakin besar, di UM Metro saja ada anak IPS yang masuk Jurusan MIPA, anak dari IPA dan Otomotif masuk Pendidikan Ekonomi. Ada pula yang dari IPS masuk AKBID dan yang IPA masuk FISIPOL.

Disatu sisi positif, karena remaja semakin bebas menentukan apa yang di inginkan. Namun di sisi lain mereka memulai dari nol, banyak ilmu yang mereka dapat dari SMA leyap, apa lagi yang dari MIPA bila masuk IPS bila ditanya rumus rumus fisika dan Kimia kebanyakan sudah lupa. Sementara yang IPS masuk MIPA mengalami sok, bila tidak kuat mereka akan stagnasi.

Setiap progam studi tentunya memiliki tantangan dan persaingan tersendiri. Penduduk semakin banyak dan kepedulian terhadap pendidikan juga semakin besar. Kompetisi disetiap prodi ada, karena hampir tidak ada prodi yang sepi peminat, siapa yang kuat bertahan mengembangkan ilmu dia yang menang.

Perlu diingat bagi orang tua, memiliki bakat namun tidak memiliki minat terhadap jurusan bila dipaksakan akan berakibat pada menurunnya motivasi untuk berkembang. Adapula memiliki keinginan kuat terhadap suatu jurusan namun tidak disertai dengan bakat dan kemampuan akan menyebabkan kesulitan dalam beradaptasi. Sementara memiliki bakat dan jurusan yang di inginkan tanpa restu orang tua akan memunculkan hambatan tak terduga bagi remaja. Jadi kemampuan, kemauan dan restu, sepatutnya selaras, tinggal si anak untuk berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa sepanjang perjuangan.

Adapun aspek kemandiriaan yang perlu di perhatikan orang tua, Robert Havighurst (1972) mengungkapkan beberapa aspek kemandirian yaitu:
a. Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
b. Ekonomi, aspek ini divjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
c. Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang di hadapi.
d. Sosial, aspek ini ditunjukan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergangtung atau menunggu aksi dari orang lain.

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secala kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehinga individu akan mampu berpikir dan bertindak secara independen. Dengan kemandriian remaja dapat memlih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.

A. Proses Perkembangan Kenandirian

kemandirian dapat tumbuh sesuai kondisi remaja bila dilakukan pelatihan sedinimungkin secara terus menenerus. Latihan tersebut dapat dilakukan berupa pemberian tugas tanpa bantuan yang sesuai perkembangan. Orangtua hanya mengoreksi dan anak memperbaikinya. Remaja juga perlu diberikan ruang dalam memilih jurusan.


Orang tua juga perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan remaja sehubungan dengan kuputusanya. Orang tua juga mengawasi untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif. Dengan demikian tumbuhnya usia di iringi kemampuan remaja untuk berfikir objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan, tumbuh rasa percaya diri, tidak tergantung kepada orang lain. Dan dengan demikian kemandirian akan berkembang dengan baik.

B. Bagaimana Guru Menyikapi

Untuk menyikapi remaja yang sedang mengalami perkembangan, ada empat tahapan yang perlu pendididik lakukan. Adapun tahapan tersebut saling berkaitan. Tahapan tersebut adalah :
1. Komunikasi. Komunikasi merupakan pencegahan terhadap hal-hal yang tidak di inginkan, tentusaja kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi pendidik dapat mengetahui kerangka pikir anak, dan sebaliknya anak mengetahui apa yang diingikan ortua. Komunikasi tidak harus dengan cara formal namun dengan komunikasi yang santai sehingga anak mau membuka diri.
2. Kesempatan. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil dan membuktikannya. Biarkan mereka mengatasi keperluan dan masalah mereka sendiri. Pendidik hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindaka remaja dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
3. Tanggung jawab. Sikap bertanggung jawab perlu ditanamkan kepada peserta didik. Segala perilaku kenakalan sebisa mungkin anak yang menanggung. Bila pelaporan terhadap orang tua membuat mereka jera, lakukan. Namun orang tua juga perlu memberi ketegasan agar anak tidak mengulangi lagi kenakalanya.
4. Kosistensi. Pendidik perlu menanamkan sikap disiplin dan nilai-nilai kepada peserta didik secara terus menerur agar peserta didik dapat mengembangkan kemandirian dan berfikir secara dewasa. Pendidik maupun orangtua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya dan dapat memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan.

C. Permasalahan Perkembangan jika Kebutuhan mandiri tidak terpenuhi


Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan tidak terpenuhuhi kebutuhan mereka dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Kegagalan dalam mengatasi ketidak puasan remaja dapat mengakibatkan menurunya harga diri dan dapat menjadikan remaja bersikap agresif atau sebaliknya minder dan pendiam.

2. Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandrian kebanyakan akan menghadapi permasalah penyesuaian emosional, seperti perilaku yang dianggap lancang atau sikap berlebihan. 3. Norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedangkan di pihak remaja merasa memiliki ninai dan norma sendiri. Perbedaan ini sering menimbulkan perilaku yang menyebabkan remaja dikatakan "anak nakal".

Blair dan Stewar (dalam Elidas Prayitno; 2006) mengemukakakan bahwa siswa remaja yang kebutuhan-kebutuhan tidak terpenuhi dapat melakukan tingkah laku mempertahankan diri seperti tingkah laku agresif, kompensasi, identifikasi, rasioalisme, proyeksi, pembentukan reaksi, egosentris, menarik diri, dan gangguan pertumbuhan fisik.





Kebutuhan Remaja Akan Kesehatan

Kesehatan merupakan suatu hal yang pokok bagi setiap remaja dalam menjalani aktifitasnya, akan tetapi kebanyakan remaja sering melupakan kebutuhan kesehatannya. Biasanya kalau jatuh sakit baru menyadarinya. Dalam keseharian sebenarnya asupan makanan dan minuman yang menjadi nutrisi untuk tubuh remaja harus menjadi perhatian, baik remaja sendiri maupun orang tua mereka. Kalau kita mengkonsumsi makanan yang baik, bergizi, dan halal, tentu saja akan meningkatkan stamina tubuh. Pemahaman seperti itu perlu ditekankan kepada para remaja agar kesehatjn mereka akan selalu terjaga.

Akan tetapi, makanan yang menyehatkan belum tentu cocok dengan selera remaja. Ada yang tidak suka sayuran, seperti wotel padahal baik untuk kesehatan mata, ada yang tidak suka minum susu, dan lain-lain. Dalam hal ini dibvuhkan kesadaran yang tinggi agar dapat menyesuaikan pola makan secara benar dan sesuai selera. Misal dengan pengolahan, atau bahan penggati. Seperti susu di olah menjadi kue atau di ganti dengan susu kedelai.

Banyak juga remaja yang tidak suka garam, padahal cukup berbahaya dan berakibat godok. Atau berlebihan mengonsumsi asinan yang berdampak darah tinggi pada usia dewasa. Ada pula yang tidak suka sarapan yang menyebabkan sakit mage atau ada pula yang sarapan belebihan akibatnya saat pelajaran mengantuk. Tekankan bahwa diri perlu dinafkahi, tubuh selalu membutuhkan makanan untuk diolah menjadi energi, namun bila berlebihan dapat berakibat tidak bagus pula.

Karena badan perlu keseimbangan. Epat sehat lima sempurna merupakan makanan yang mengandung gizi seimbang. Untuk memperoleh tubuh yang seha diperlukan nutrisi yang seimbang, oleh karena itu supaya organ tubuh dapat berfungsi secara teratur dengan baik. Diantaranya menjaga beqat badan agar seimban dengan pola makan yang bear supaya kesehatan terjaga daripenyakit.

Pengaruh makanana sangat pentin dalam menjaga kesehatan, baik dalam pertumbuhan badan maupun perkembangan jiwa. Remaja harus sering latihan memilih makanan yang baik dan bermafaat bagi kesehatan. Sehingga mereka tidak perlu mencoba barang terlarang untuk remaja seperti rokok, minuman keras atau obat-obatan terlarang.



Perlu diberi pemahaman kepada remaja bahwa kegemaran berpikir tentang diri sendiri serta bertindak untuk mendahulukan kepentingan pribadi dari pada kepentingan banyak orang, pikiran dan tindakan ini bukanlah cara untuk mencintai diri sendiri. Namun sesungguhnya remaja sedang merasa kasihan terhadap diri mereka. Dengan kata lain mereka sedang mengekspresikan ketidak puasan terhadap diri mereka sendiri. Masalah tersebut muncul karena remaja merasa kurang dan tidak pernah merasa puas.

Remaja yang mengalami ketidak cukupan hati senantiasa merasa tidak tentran. Mereka bisa melakukan tindakan yang sesungguhnya dapat merusak citra diri sendiri tetapi tidak pernah disadari. Seperti kemarahan yang tiba-tiba meledak, tidak menghormati orang tua dan guru, tidak memiliki ketulusan dalam membantuteman dengan mengungkit kebaikan dan sebagainya. Inilah yang sebenarnya merendahkan harga diri.

Menhormati diri sendiri tidak sama dengan keegoisan yang mementingkan diri sendiri secara berlebihan. Namun perlu ditekankan bila remaja ingin mengiormati diri sendiri harus memiliki kasih, dimana kasih harus di ekpsreikan keluar dalam bentuk memberi, memafkan, dan toleransi.

1. Memberi
Memberi dapat diwujudkan dengan beramal terhadap yayasan, atau berbagi makanan terhadap teman. Dengan memberi terhadap orang lain membuat batin tenang, dan pada hakikatnya memberi terhadap diri sendiri.

Selain itu memperlakukan semua orang dengan hormat dan baik termasuk sika mental memberi. Orientasinya adalah bila ingin di hormati terlebih dahulu menghormati, namun bukan berarti meminta apa yang telah kita beri, biarkan semua mengalir, sehingga batin tetap tenang.

Memberi tidak harus hal yang luar biasa, dapat disesuaikan kemampuan yang sudah kita miliki. Memberi bukan transaksi namun memberi sebagai kontribusi remaja terhadap masyarakat deng penuh iklas.


2. memafkan
Segera mungkin miminta maaf bila memiliki kesalahan. Orang yang murah hati segera mungkin meminta maaf walau orang lain yang salah. Itulah tantanganya menghapuskan rasa dendam. Segera mungkin selesaikan masalah, bukan mengupat, menjelekan lawan, menhakimi dan menyalahkan, dan berhentilah untuk saling membenci. Terserah dia tidak memaafkan namun kita patut berusaha. Kalau remaja merasa orang lain berharga, akan rela untuk memaafkan. Artinya remaja sudah mengembangkan citra diri yang positif.

3. Toleransi
Bertoleransi artinya menerima kehadiran teman sebaya, menhormati serta menghargai. Sebagai manusia tentu perlu memandang orang lain dari sudut kesetaraan bukan perbedaan. Masalah perlikaku adalah urusan dia dengan Tuhanya. Remaja yang baik tentu remaja yang bisa berbaur dan menyisipkan nilai-nilai kebaikan kepada sesama. Bukan terwarnai namun mampu memberi warna.

Barep Pangestu : olahan dari berbagai sumber