Minggu, 24 November 2013




Karya:  Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Gadis jelita itu bunga mawar
Wangimu daya tarikmu
Kelopak dan merah menjadi keindahanmu

Bila kau bunga, kami kumbang
Kumbang  tergoda wangi tubuhmu
Kita berbeda tubuh, pemilik kebun memata-mataiku

Keindahanmu wanita, bunga tanpa sentuhan
Polos, ditaman indah nan wangi
namun ketika tersentuh sirnalah kepolosan .

Jangan hiraukan para kumbang terjatuh hatinya
Berbicaralah kepada pemilik kebun
Bila kau kumbang sejati

22:14 23-November-2013

Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)
 
Kala Lazuardi permata biru terpaut oleh cakrawala fajar
dalam diriku ada rasa hangat menghinggapi ruang sanubari
dalam dadamu terus merekah kala bermekaran sekar
Ketahuilah, isarat  insan bernafas dibalik dada asmara bersemi

namun kala terik menghujam hingga kedalam palung hati
berlahan asmara dalam hatimu mulai kering
layu terbakar oleh bisikan musik setan yang membara
irama nyaring, hati kering-kerontang

Pemudaku, tak ada lagi asmara insani dalam dadamu
segalanya terkaburkan sebagai kesucian cinta
ketahuilah, semuai itu sekedar tipudaya kepuasan hawa nafsu
syaitan akan terus mengahalangi dan membelakangimu

hadirlah musik-musik setan, mengawal setiap kau temui kepalsuan cinta
hingga hati luluh-lantah tak tersisa oleh sakit hati ditinggal cinta
kemudian memalingkan kepada lain hati, kau anggap kebenaran cinta
kau  terus berputar dalam lingkaran syaitan, kau dapati nafsu bukan cinta

temaram langit, indahnya pesona sore
terkecoh atas nama pembelajaran,  kau meminum musik racun
terus bersiklus kau alami : hatimu patah, hatimu disate
kau keras kepala, engan kembali dalam jalan insani

Jummat, 22-November-2012  (  hasil rekrontruksi setatus lama)

Jumat, 22 November 2013




Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)


Segurat senyum menyeret betis-betisku
Embun telah binasa terbakar
Menggelandang, lewati pelataran berbangku
Senyum terus ku obral, salam kabar
 
Dari depan kau menghajar mukaku
Akupun berpaling acuh
Kau tak mengerti, jantungku memar melihat wajahmu
Kau tak mengerti, dibalik acuh aku gelisah
 
Kembang kempis perasaanku terhadapmu
Rasa kasih hidup-mati membuncah
Rasa benci terkapar, rindu membelenggu
Hati tergoncang dalam pelana asmara rancu
 

Entah akan  kemana nanti langkah keteguhan
aku seperti induk ayam yang melindungi anaknya
keegoisan, harga diri, dan kesombongan
tiga mata trisula keangkuhan menjadi anakku
 

celotehan sederhana berkumandang
kebisuan mendera
ketika iringan langkah bersua
acuh tanpa perduli didunia ini kau ada


Aku dikenal pandai beretorika
tapi entah kemana seribu kata ketika berjumpa
aku tak ingin binasa
hanya karena kesepian

Aku juga tak ingin binasa karena letih menanti
Kala ku sendiri hatiku selalu mewanti
Bahwa aku harus waspada dengan kemaksiatan berpikir
Bahwa ada janji menjaga hati dengan berzikir
 
16:15 22/11/2013
Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Palembang semula aku tahu tentangmu
Halus terhampar luas
Ketika mengenalmu lebih dekat
Didadamu bejuta hasrat

Menelusuri lorong-lorong
Ditengah pemukiman
Disana aku tahu
Padatnya orang mencari sesuap nasi

Gadis jawa dari lampung
Telah menjadi ibu kandungmu
Sama seperti yang lain ibu-ibumu
Kepasar menggali berkah itu

Kedustaan pemilu mereka rasakan
Peliknya politik tak pernah mereka hiraukan
Pendidikan geratis selalu dijanjikan
namum berbalapan, Majelis Taklim lupa tergambarkan

Aku ketempatmu bukan sebagai saudagar
Bukan pula sebagai perantau yang tegar
Aku singgah dihatimu memenuhi undangan tersiar
Kabar kau akan mendidkku tentang kepemimpinan

Tak bisahkah kau menuntunku
Beri ilmu untuk menemani hidupku
Ampera kulalui Pemukiman padat melalui musi luas
Toko besar terhampar

Begitu beragam duniamu
Dari permukiman padat
Ku menuju hotel menjulang
Surga neraka bersalaman dikasurmu

Palembang, Sumatra Selatan  31-07-2013

Kamis, 21 November 2013


Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)
 

Langit murung, terang senyap

Sebait langkah gadis berkerudung hitam

Aura yang mebuyarkan hitam tentram

 

Gadis berkerudung hitam

Dengan bros hijau bersinar kuning

Kau hadir membawa suram

Gundah akan kelam yang kian gemilang

 

Gadis berkerudung hitam

Dengan androk hitam

Dibawah langit bermenara masjid

Kau tak banyak bicara

Diammu terus berceloteh atas kemungkaran

Bicaramu perlawanan atas penghianatan firman Tuhan

 

Dibalik hari semakin malam

Tersirat sinar dibalik kerudung hitam

Semakin malam, semakin terpampang terang

 

Butiran harap dari hati yang takut menghitam

Kau yang menjadi sapu terang

Biasmu memberi harapan kau pilih sebagai penerang

Biasmu pula yang akan membiaskan harapan

Siapakah yang kau pilih sebagai pembawa terang ?

Layaknya obor gagah berani bersama pemenang.


 Dibuat 16:01 17-07-2013 ,Metro-Lampung
Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Membaca bahasa mata
Kelingan sepasang mata polos
Matamu mata boneka
Aku membaca matamu ada seberkas kaca

Mataku mulai berbicara
Matamu permata
Didadaku matamu mulai bertahta
Sinar matamu mulai kuterka

Matamu berada diruang hampa
Menggoda tak berbicara
Candamu mengoyahkan mataku
Keteguhan mata hatimu tak kuduga


Bulan sabit jatuh dikedua matamu
Aku mulai tahu bahasa mata polosmu
Engkau sabit yang merindu purnama
Berlahan bola matamu membuka cahaya

Aku ingin menyimpan bola matamu dimeja belajarku
Menemaniku membaca peluh kehidupan
Jendela dunia aku tutup, agar ku terus melihat terangmu
Aku tahu tanpa gelap kau kesepian

Sejenak matamu memejam
Membuka mata menunjuk matahari
Aku remang-remang jauh dari cahaya matahari
Matamu menolak menjadi bohlam lampu belajarku

Berlahan matahari berada diatas kepala
Benar binar matamu berkobar
Membakar nyaliku untuk berbicara
Mata kaki menjatuhkan lututku, kekalahanku tersiar

Tangan kiri memasang kaca mata
Mengunci gerbang candaan
Keteguhanmu membekas diatas dinding-dinding iman
Atas nama ketakwaan, kau kedipkan salam sampai jumpa

Aku kembali keruang hampa
Mataku terpejam berjalan berlahan
Mentok aku dihajar tembok
Aku sudah seperti orang mabuk

Tak kuduga engkau membuka gerbang matamu
Atas nama kemaksiatan engkau memandangnya
Inikah tipu daya ? aku tak percaya

 Hampir ku dibuat tak berdaya

Kedua mata telah engkau gembok
Mata boneka tak lagi bercahaya
Tak perlu ku berpetuah setelah kau kepergok
Berbicaralah dengan seberkas kaca, masih adakah mata permata ?



Metro, Lampung 20/11/2013