Jumat, 27 Januari 2012



Harakah perjuangan Islam banyak yang memasuki ranah kehidupan perkuliahan. Sudah sepatutnya semua harokah berkomitmen menegakan syariat Islam didalam kehidupan kampus. Karena mahasiswa sebagai kaum cendekiawan menjadi ujung tombak perubahan negeri ini. Perlu merubah paragdima yang ada dalam cendekiawan kita, tantangan zaman yang dihadapi ditengah umat saat ini bukan sekedar membutuhkan peningkatan kualitas diri namun perlu melakukan perubahan ditengah masyarakat. Dari masyarakat yang bercampur dengan paham dan budaya jahiliyah menuju masyarakat Islami. Potensi yang ada pada cendikiawan kita untuk melakukan perubahan sudah ada seperti  sikap kritis, idealis, dan semangat berjuang yang tinggi. tinggal para dai dan mubaligh menyalurkan potensi mereka ditengah umat Islam.


Harokah dakwah Islamiyah kampus apapun namanya entah dalam bentuk organisasi formal atau yang lain, perlu komitmen dengan penyaluran paham ke Islaman yang dibawa para Ulama diluar kampus dimasukan kedalam kampus. Tentunya dengan gaya dan bahasa anak kampus, agar kampus menjadi wadah ilmu yang diridhoi Allah. Tentu tidak bisa dikatakan organisasi mahasiswa Islam bila mengingkari syariat Islam. Yang ada gerakan penghancur Islam berlogo Islam. Merekruk preman dan pemalas ada bagusnya, agar mereka mapu berubah menjadi lebih baik dan dekat dengan radius dakwah keislaam. Kita harus bertekat mewarnai mereka bukan ketakutan yang tidak ada artinya. Ketakutan yang menyebabkan orang menyembunyikan ilmu, tembang pilih, justru akan menjadi seperti yang ditakutkan nauzubillah. Bukan berarti pula mengarong akidah para preman dengan paham liberal. Yang terrjadi justru semakin rusak dan semakin berutal.
 Karena tak tak sedikit di kampus-kampus banyak organisasi kepemudaan yang dari segi AD/ART simbol dan nama membawa nama Islam tetapi yang diajarkan untuk merusak ajaran Islam itu sendiri. Atau ancaman aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan penyucian jiwa. Maka menjadi tantangan besar gerakan dakwah kampus.


Manfaat Dakwah Syar'i


Jika kita kembalikan khitah dakwah maka akan mendatangkan kemanfaatan. Namun jika tercampuri dengan kesubhatan makan yang terjadi kemudharatan. Bila hal itu terjadi maka tujuanawal yang dicita-citakan sulit untuk tercapai.

Harakah dakwah di kampus memiliki peran pemcerahan akhlak dan moral mahasiswa yang haus jiwa mereka dari siraman ruhani. diharapkan dakwah kampus mampu membenahi mahasiswa baru dari kenakalan remaja dahulu yang dia lakukan semasa SMA dan memberikan benteng ilmu untuk menjauhi perbuatan maksiad yang menggejala di abad milenium ini . Tindakan yang persuasif harakah dakwah kampus harus kita akui banyak memberikan terobosan dalam pencerahan hingga dakwah diluar banyak yang belum sanggup menginsyafkan namun dapat mengambil hidayah ketika di kampus.

Sudah keharusan dikampus ataupun disekolahan ada pembinaan agama secara lebih kusus dalam cakupan Harakah Dakwah Islam. Kalau tidak ada, yang terjadi mengaku Islam tetapi tidak mengenal syariat Islam. Terlebih di dunia kampus ancaman paham SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme agama, dan Liberalisme) saat ini semakin menjadi-jadi, Nauzubillah.
Namun yang menjadi permasalahan tentu ketika pembinaan dakwah yang dilakukan dikampus kemudian dibajak untuk menjadi kader partai politik. Dakwah selalu dibutuhkan untuk menjaga ukuwah islamiyah umat Islam, namun ketika digiring untuk pemenangan partai tertentu yang terjadi loyatitas tulus untuk berdawah dinodai dengan keinginan-keinginan politis. Koridor dakwah agar generasi muda mampu mentas dari kehidupan jahiliyah yang ditawarkan kaum kufar saat ini, namun ketika berbenturan dengan masalah politik sesuatu yang membahayakan akidah umat dapat di sisihkan dari perioritas dakwah lantaran kekawairan akan berimbas pada perolehan suara.

Kita perlu berpikir jauh kedepan penerus yang lebih kokoh imanya, sangat mengenaskan saat ini perubahan yang semestinya kearah lebih baik justru kecenderungan mundur. Kebanyakan pemuda semakin jauh dengan masjid akibat dunia hiburan yang semakin kompleks menawarkan kesenangan. Hal ini jauh lebih utama dan menjadi tuntunan dan tantangan dakwah kampus.

Kita lihat saat ini tujuan yang semula memberi binaan spiritual diselewengkan untuk menjadi ajang kaderisasi fungsionaris partai politik. Kebanyakan oknum partai politik menyusup kedalam harokah Islam kampus menarik mahasiwa yang masih tercampur dengan pemahaman sekuler dengan tawaran lebih memaknai kalimat lailahailallah. Namun pada kenyataanya lebih menyeru pada ashobiyyah, sikap fanatisme terhadap sesuatu diluar agama. Mengajarkan betapa kerasnya pembelaan ketka pucuk pimpinan partai yang menjadi afiliasi tersandung kasus korupsi, namun ketika partai melakukan tindakan yang merugikan umat Islam sperti pembelaan atau sikap diam terhadap aliran sesat pura-pura tidak tahu.

Sepatutnya dakwah menyeru pada penghambaan kepada Allah dalam dienul Islam, bukan pada dien thoghut. Karena partai itu instrumen yang bisa benar dan bisa salah. Seperti kita ketahui yang terjadi partai itu menyampurkan pemahaman haq dengan pemahan batil sehingga tidak 100% pemahaman Islam.

Karena dakwah rasullulah tidak pernah berdakwah untuk selain Islam dan menjadikan umat bergolong-golongan. Sehinga sebagai generasi penerus dakwa Harokah Islam Kampus perlu objektif dalam bepikir dengan berpijak kepada Al Quraan, Hadis Serta Siroh.

Alibi Parpol Masuk Kedalam Kampus

Patisipasipan memasuki dunia kampus dan sekolah adalah pembinaan agama untuk meningkatan kualitas diri. Mereka merasa perlu memasuki dunia kampus karena sang oknum beranggapan partai sebagai wasilah (sarana) tahap lanjut penegakan Islam dimuka bumi dengan cara praktis. Semula kegiatan peningkatan kualitas diri sangat ditanamkan. Agar kelak mampu membentuk keluarga sakinah dan mampu mendidik generasi pemerus menjadi generasi sholihah. Semulanya mengajak orang lain melakukan kebaikan, namun pada tahapan pengkaderan akhir diajak untuk menjadi kader partai.

Alasan selanjutnya karena terputusnya reorganisasi dakwah di sekolahan setelah lulus, dan di kampus setelah wisuda. Terlebih disekolah umum yang tidak terafiliasi dengan Ormas Islam, akan menjadi sasaran empuk kader parpol untuk menampung alumninya. Dengan alasan tahap pembinaan berdakwah tentu harus ada tinggkatanya dan kalau stagnasi pada suatu tahap akan menzolimi yang lama karena kejenuhan dengan materi itu saja, dan akan memaksa kader baru untuk mengimbangi kader lama. Pemahaman yang menggunakan kaidah konsep pembelajaran Iqro.
Tujuan diadakan Harokah Islam dari pihak pendahulu agar mahasiswa mampu terjun kemasyarakat menanamkan nilai agama. Keterputusan dari haroqah islam dimanfaatkan partai dengan alasan memprogam orang menjadi da'i (penyeru) harus bertahap, kontinyu dan tidak terputus. Dengan dalih ini banyak da'i penyeru umat yang bermutasi menjadi penyeru partai atau juru kampanye ketika pemilu.

Bila agama dikaitkan dengan sikap politis seorang muslim, tentu agama memiliki peranan penting dalam pembentukan perilaku proses gejolak politik didalam masyarakat. Peroses perubahan sistem berpikir mahasiswa yang menjadi lebih Islami diharapkan mampu mewarnai tata sosial masyarakatnya dan mampu merubah sistem politik jahiliyah menjadi sistem politik Islam. Proses pemahaman ini tidak bisa didapatkan secara instan, dengan bergabung kepartai tidak jaminan langsung tahu bakal calon, tujuan, visi dan misinya. Obsesinya lebih kepemenangan pemilu, azas geakan pun banyak tak dihiraukan lagi.

Yang terjadi justru kader partai selama ini yang memegang posisi kekuasaan tidak berkerja salam konteks keislaman. Yang ada menuruti hawa nafsu untuk mengejar kepentingan dunia. Karena pada akhirnya kader yang baru masuk diseret untuk mencari suara rakyat. Jelas ini untuk partai bukan untuk Allah swt. Dimana kita lihat Partai Islam tidak ubahnya seperti partai demokrasi-kebangsaan yang banyak pelanggaran pemilu.



Persentuhan dengan Politik Praktis

Yang menjadi permasalahan saat ini harakah Islam Kampus mulai mengalami persentuhan dengan politik praktis. Baik timbulnya obsesi dari personal kader untuk terjun kedalam politik praktis. Ataupun serangan partai politik yang menjadikan pergerakan dakwah menjadi sasaran tembak mencari massa melalui segelintir oknum yang disusupkan kedalam pergerakan dakwah. Tak heran sekarang aktivis dakwah idntik dengan demontrasi dalam bahasanya turun jalan. Bahkan ada yang hidup dari kepentinngan politik tertentu.

Pencarian massa tersebut dilakukan dengan mengatasnamakan pendidikan politik tetapi dengan kemasan Islam. Yang terjadi bukan mendidik orang memahami kehidupa politik menurut pandangan Islam namun memanfaatkan mahasiswa untuk mencari suara ketika pemilu.

Fenomena pembohongan politik seperti ini sangat berbahaya. Pemahaman menjadi rancu antar politik dan dakwah dicampur adukan. Hidup ini bukan untuk politik, tetapi hidup ini penuh dengan politik. Dimana banyak yang menyerahkan diri untuk mengejar kekuasaan dan sangat mudah dikendalikan oleh oknum-oknum penyuplai dana pelicin naiknya sang penguasa ke tahta tertinggi. Yang terjadi saat inti partai islam mengaku sebagai partai dakwah, setelah didakwahi diajak masuk partai. Semua dipolitisir untuk mendapatkan tahta tertinggi. Sungguh aneh dakwah yang menyeru kepada partai bukan menyeru untuk meninggikan kalimat Allah.

Aksi gerilia partai politik ini menjadi sangat berbahaya terhadap harokah islam kampus terlebih jika kepemimpinan di isi kader-kader partai tertentu. Karena cepat atau lambat kader tersebut mengeret teman-temanya kedalam politk praktis. Tentu kita tidak bisa asal menuduh seseorang karena Allah yang tahu niat seseorang itu yang sebenarnya dalam bertindak. Namun kita mampu perkataan yang diarahkan dan perbuatan yang dilakukan. Niat yang baik sudah sepatutnya direalisasikan dengan cara yang benar.


Kontradiksi Tujuan dan Realisasi

Yang menjadi pertanyaan, legalitas dakwah dan tujuan partai politik partai untuk siapa? Umat Islam atau golongan? Sangat jelas mereka memperjuangkan golongan setelah mereka berada diatas kebanyakan mengikuti arus politik pragmatis. Dimana berbagai partai berbenturan ideologi bersatu dalam kualisi. Sementara yang ideologinya lebih dekat justru saling berhadap-hadapan.

Kontradiksi yang terjadi mereka beranggapan parpol sebagai sarana mempersatukan umat Islam. Yang terjadi justru memecah belah ukuwah Islamiyah. Dimana harokah Islam didalamnya terdapat dua partai yang berideologi sama saling berebut massa.

Atau bahkan partai yang dikenal memiliki kulturtur yang sama antar caleg saling berhadapan untuk menjadi nomer satu. Belum lagi di masyarakat banyak partai Islam yang membingungkan dan menimbulkan sengketa. Di tambah partai berhaluan demokrasi-kebangsaan merekrut tokoh agama untuk menjadi pendukung.

Sikap para kader mencari suara berakibat melupakan fokus utama dalam berdakwah. Mahasiswa yang mengemban misi amar makruf nahi munkar agar terus ber jalan dan terjadi regenerasi berkelanjutan. Justru menjadi bahan baku penghidupan partai dari segi masa penerus partai.

Yang aneh ajakan bergabung dengan kebatilan diklaim sebagai dakwah. Dimana dengan partai demokrasi-kebangsaan, atau ketika menjadi pemimimpin dengan bangsa sekuler membuat produk hukum.

Ketika berada dikursi kekuasaan terjadi tawar menawar hukum Allah untuk diterapkan. Bahkan bersama-sama membuat hukum yang melawan hukum Allah.

Pengajaran akidak dan penanaman siroh menjadi aneh, karena pada akhirnya lari kepartai mencari calon yang ditempatkan kepada majelis musrik. Mana sahadatain hanya secara gelobal tidak dijelaskan maknanya secara harfiah. Jelas Illah segala sesuatu yang diibadahi, ditaati, dengan bentuk ketundukan pada puncak tertinggi. Yang terjadi mereka tunduk dibawah hukum buatan manusia bersumpah untuk menaati Qannun (undang-undang).

Sikap politik Islam adalah menuntut ditegakan syariat Islam tanpa kompromi untuk bermaksiad kepada Allah dan rasul. Sehingga politik Islam harus dipengaruhi niat dakwah, dan dakwah tidak dapat dipengaruhi niat dakwah. Pemutar balikan seperti ini akan berimplikasi politisasi dakwah Islam. Sehingga menegakan syariat islam dengan mengganti sistem kekuasan kufur menjadi daulah islam merupakan bagian Amar makruf nahi nunkar. Bukan malah berangkulan dengan sistem batil.

Harokah Dakwah berbeda dengan berpartai. Dakwah lebin bersifat inklusif, kita dapat mengikuti seruan kebaikan apapun dan dari siapapunselagi sesuai dengan azas islam. A mengajak shalat dan zakat, B mengajak puasa dan sadaqoh. Keduanya bisa dikakukan tanpa saling mengindaikan justru saling mengindahkan dan saling menguatkan. Berbeda dengan partai niat baik yang dilakukan dengan kekeliruan dianggap dakwah.

Kerancuan Meridhoi Hukum Positif

Kerancuan pemikiran pendukung partai islam bahwa negara kita berhukum positif dan kita sulit untuk lepas dari hukum positif. Kalangan antipartai menawarkan sistem berpikir terhadap masyarakat untuk mengkufuri hukum thoghut dan berniat untuk menyelisihinya. Malah kami yang memperjuangkan hukum Allah di minta untuk hengkang dari Indonesia yang penuh kerusakan akibat ulah manusia merubah hukum Allah. Ini bumi Allah! Yang pantas menetapkan hukum itu bukan keinginan orang banyak, tapi Allah! Jadi siapa yang harus pergi dari lagit dan bumi Allah? Keragaman yang menjadi alasan telah membuat semuanya berani lantang melawan hukum Allah, tak heran kita pernah bertubi-tubi mendapat bencana alam.

Anggapan keliru untuk mempertahankan status quo bahwa pada dasarnya semua aktifis Islam dinegara ini pelaku pasif hukum positif. Secara tidak langsung juga masyarakat awam menjadi pelaku pasif hukum positif.

Masyarakat awam mereka tidak tahu mengapa Anda yang mengetahui hal tersebut justru pasrah dan menikmatinya? Kita tahu rokok itu berbahaya, bahkan perokok pasif akan mendapatkan bahaya yang lebih. Kalau logika ini yang digunakan lantas mengapa harus ridho dengan kemungkaran. Apakah Allah menyuruh kita ikhlas menerima kezaliman yang dilakukan orang lain, atau kita diperintahkan untuk ikhtiar melawan kemungkaran? Hal yang sangat rancu tidak ada niat untuk menjauhi hukum positif (perokok aktif) justru malah mendekati. Tentu banyak yang sulit untuk menghindar dari perokok, namun apakah ketika mereka merokok dan asabnya menyebar apa kita mendekatinya dan menghirupnya dalam dalam (ridho)? Apakah ada pahala mendzolimi diri sendiri? Apakah hukumnya orang yang paham kemungkaran tetapi meridhoi dan rela didzalimi?

Kemudian ketidak pahaman mereka dengan hukum kemaslahatan. Memakai helm dan berjalan di sebelah kiri itu bisa dikatakan hukum kebiasaan yang baik. Bukan karena takut dengan pak polisi tapi karena untuk keselamatan diri. Orang-orang yang mati kecelakaan karena tidak memakai helm bukan termasuk orang yang mati melawan hukum thoghut, tetapi orang-orang yang mencelakakan diri sendiri.

Kemudian anggapan kami, masyarakat, dan pengacara muslim lari kepihak berwajib bila ada masalah pelanggaran. Ini jauh lebih rancu yang menjadi masalah ketika ditegakan hukum Allah justru meminta hukum lain ini yang termasuk kekufuran. Kami tidak pernah ridho dengan hukum tersebut, tapi kami menuntut hak kami yang dirampas. Serta melindungi saudara yang terzalimi. Mengapa kalian tidak menggunakan hukum Islam ketika dianggap tidak menguntungkan? Siapa yang zhalim kami yang hanya mengambil hukum buatan manusia yang menguntungkan umat Islam dan menolak secara total hukum yang mendustakan syariat Allah. Atau kalian yang mengambil hukum Allah yang menguntungkan diri kalian dan menanggalkan hukum Allah yang tidak sesuai dengan hasrat keduniawian kalian? Kami mementingkan keterjagaan iman kami, sementara kalian mementingkan hawa nafsu.

Bergabung dengan Proses Pembuatan Hukum Thoghut

Kerancuan selanjutnya melawan hukum positif dengan terlibat agar lebih Islam. Inilah racun pemikiran yang kader partai suntikkan kepada para da'i, ustad, bahkan ulama. Sangat aneh hukum Allah ditegakan melalu penggadaian iman dan tukar-guling kekuasaan. Padahal Allah memberi apapun kebutuhan kita dengan segala kasih.

Mereka memfoting hukum Allah sesuka mereka. Apakah dakwah seperti ini? Mendakwahi perokok harus jadi perokok dahulu? Pengorbanan yang aneh para perokok tobat tapi Anda mati akibat merokok!
Mereka berpikir harus optimis menegakan hukum Allah dengan terlibat dalam perpolitikan. Optimis kok melawan maut. Optimis kok bermain main dengan iman.

Kerancuan Mementingkan Massa dari pada Dakwah

Mereka berdalih tujuan dakwah masuk kampus mencari massa merupakan salah satu tujuan setrategi dakwah. Tentu setiap agama akan senang bila jamaahnya bertambah. Namun bukan berarti menghalalkan segala cara sampai memberi ketakutan dengan fatwa golput haram, menganti lebel mony politik dengan sedekah politik, melakukan kemubaziran, dan merekrut orang kafir. Ada benarnya mencari massa bagian setrategi dakwah tetapi dalam dakwah kadernya digiring kepada Islam bukan partai, kepentingan golongan, dan perorangan. Dana dakwah lebih untuk pembinaan bukan kampanye.

Karena tujuan pokok dakwah rasullulah bukan mencari massa tapi menanamkan ketahuiidan aqidah yang haq kepada umat. Bukan mendapat dan mencari massa yang banyak. Apa artinya banyak massa tapi akidahnya plural. Yang paling penthng Allah ridho dengan dakwah kita dan tidak mengatas namakan dengan sesuatu apapun untuk kepentingan individu atau kelompok.

Dakwah itu usaha terus-menerus kepada masyarakat agar menerima syariat dan bergandengan  menegakan syariat Islam. Dalam dakwah peroses lebih utama dari pada hasil. Seperti yang saya jelaskan dulu, dalam berpikir mementingkan hasil agar mampu menangkap berbagai ide kemudian memilih keputusan. Dan dalam realisasinya lebih mengutamakan proses. Karena jika mengutamakan hasil justru tidak berhasil. Karena akan timbul sikap prustasi dan mudah putus asa.

Dakwah harus memiliki misi yang jelas menanamkan tauhid bukan menanamkan masyarakat untuk mengikuti individu dan kelompok mendapatkan keleluasaan dalam berkuasa. Jika dakwah hanya mencari massa apa bedanya dengan Penginjil Keristen? Dimana mereka memberikan sekotak mie instan bisa pindah agama tapi tidak tahu untuk apa menjalankan agama. Seperti halnya kaum partai memberikan kaos dan setiker agar dipilih dalam pemilu tidak peduli akidah pemilih yang masih plural. Dapat dimaklumi kader partai tersebut kurang mendapat binaaan dalam masalah agama.

Sementara partai yang bercita rasa Islam justru mengatakan dalam setiap kampanye demokrasi-kebangsaan sesuai dengan Islam. Tidak ubahnya seperti partai berhaluan demokrasi-kebangsaan yang mencari pembenaran dengan dalil serampangan. Bahkan partai islam dengan sekehendak hati mengharamkan golongan putih didepan umum tetapi tidak berani mengharamkan demokrasi. Hanya suara sayup-sayup di forum kecil demokrasi itu haram. Apakah mereka lebih takut dengan KPU jika mereka mengharamkan demokrasi kepartaianya akan dibekukan? Apakah mereka tidak yakin dengan pertolongan Allah? Padahal masyarakat lebih suka kelompok yang konsisten dan komitmen.

Kita lihat sekarang semakin demokrasi pemerintahan semakin jauh dari rakyat. Semakin besar massa Partai Islam sangat mudah disusupi orang-orang berhati kotor. Terlihat sekarang kader partai islam bersaing dengan partai demokrasi-kebangsaan melakukan tindakan amoral.

Apa yang kita dapatkan selama ini dengan tetap bersinergi dengan tata hukum yang berlaku selama ini? Justru semakin amburadul, usaha setengah hati yang dilakukan partai islam justru terancam gagal. Banyak perda syariat yang terancam dicabut lantaran bertentangan dengan qannun UUD 45. Semakin membuat mereka bersikap serampangan hukum Allah terus ditata dalam pergadaian. Seperti orang jual pakaian di pasar. Islam itu datang dari Allah dengan sempurna, jadi mematok nilai tinggi jadi harga mati. Mereka tidak pernah menyerukan amandemen UUD 45 secara total. Sepatutnya diusulkan untuk mengganti landadasan hukum yang ada dengan Al Quran dan sunnah bukan dengan Pancasila yang hanya berisi lima butir yang sangat mudah muncul multitafsir yang disesuaikan dengan keyakinan masing-masing.

Negara kita hidup tanpa aturan Islam tapi aturan buatan manusia yang setiap waktu dapat diperbaharui jika tidak sesuai dengan keinginan hati (baca hawa nafsu). Tidak ada kerajaan didalam kerajaan. Langit dan bumi kerajaan Allah SWT, yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang diperjelas oleh Al Quran dan As Sunnah. Adakah dunia lain tanpa hukum Allah? Tentu tidak ada, lantas mengapa kalian mengada-adakan hal yang tidak ada ketentuan dari Al Quraan dan As Sunnah? Saya tidak membenci saudara yang masih berpartai atau pendukung partai tapi saya khawati mendapat siksa dunia dan akhirat akibat merubah hukum Allah.

Dimana saat ini mendakwahi kebatilan dengan terjun kedalam kebatilan bahkan mengajak orang yang memerangi segala kesubhatan beramai-ramai terjerumus kedalamnya. Logikanya ingin menginsyafkan perokok tapi memakasakan diri menjadi perokok. Kalaupun mereka berhenti merokok, tapi apakah Anda tahu waktu nanti? Ternyata sebelum Anda kembali kedalam jalan yang benar sudah mati duluan. Terus apakah layak mengakhirkan iman dan mempersilahkan orang tersesat dengan tipu daya dunia untuk kembali kepada jalan yang benar. Iman kok buat main-main. Mengapa nekat bermain-main dengan iman dan maut tetapi tidak berani secara keras melawan thoghut? Bukankah jalan yang lurus dan sesat sudah jelas, lantas mengapa memilih ke subhatan?

Menangkis Perkataan yang Membuai Partai

Setiap harokah Islam yang diawal perjuangannya membangun fondasi yang kuat dengan menanakan tauhid yang benar-benar mendalam, peribatatan yang syar'i, menanakan muamalah dengan alwala wal bara yang kokoh. Dengan tembok cita-cita pembentukan masyaraka yang sebenar-benarnya yang di ridhoi Allah swt. Dan dengan atap daulah kilafah islamiyah.

Berbeda dengan aktivis islam yang belum kuat membentuk fondasi tauhid sudah berani menaungi atap perjuangan dengan partai politik.

Masih banyak sarana dakwah yang lebih menyentuh anak terlantar, rakyat miskin, penganguran dan kebodohan. Masih ada jamaah dakwah keislaman, ormas islam, LSM dll. Parpol jelas selama ini terbukti gagal.

Kader-kader partai yang mendapat posisi setrategis tidak banya berbuat justru berkualisi dengan partai berhaluan lain membentuk haluan baru pragmatisme politis. Perubahan dengan cara tidak baik hanya akan menimbukan fitnah, kerancuan dan kerusakan pemikiran.

Daya jual mereka adalah menjual keperihatinan terhadap negri ini yang sangat kaya SDA tapi banyak diangkut negara luar, investor asing, pengusaha pribumi yang bakhi, dan koruptor. Kenyataannya retelah duduk diposisi setrategis, power yang dimiliki menjadi tumpul dan bermutasi menjadi bagian penikmat kekaybn negara.

Mereka duduk dikursi yang empuk, gaji yang melimpah, Wc pun renovasi dengan biaya 2M. SEMENTARA BANyAK rakyat MATI kELApaRAN DAN TErinjak ketika berjubelan melihat pejabat pilihannya lewat. Mereka rela melihat ANAK sd busung lapar dan kurang gizi.

Jika tidak merubah kepemimpinan saat ini dengan daulah kilafah Islamiyah kondisi saat ini tidak akan berubah. Sementara partai politik apapun haluanya menawarkan perubahan padahal hanya mencari kekuasaan dengan potensi melimpah untuk kebutuhan kelangsungan partai dan anggotanya. Habis pemilu selesai yang dipikirkan kemenangan pemilu lima tahun kedepan. Mereka memiliki niat menuju kebaikan tetapi menghalalkan segala cara dengan istihad-istihad penuh kesubhatan.

Diantaranya kekawatiran tidak ada yang mendakwahi anggota dewan, pemerintah, dan anggota partai berhaluan demokrasi-kebangsaan. Logikanya seperti ini, ingin mendakwahi peminum miras dan pecandu narkoba, apakah dengan kediskotik ikut mabuk mabukan? Mendakwahi orang-orang yang melakukan makar terhadap hukum Allah, apakah ikut mengotak atik hukum Allah? Bukankah masih ada tempat rehabilitasi bagi pecandu narkoba, bukankah mereka tidak selamanya di tempat maksiad? Bukankah masih ada tempat pengajian yang bisa mengarahkan kader partai akan bahaya berhukum thaghut? Bukankah mereka punya rumah? Mengapa tidak sesekali diajat diskusi dor to dor?

Sekarang mana kader partai yang sudah di tobatkan partai islam untuk melawan hukum thaghut? Justru semakin banyak kader partai yang bermasalah hukum dan mereka semula dikelan berahlak cukup bagus mengemparkan masyarakat luas. Justru kalau ada kader partai yang mengaku korupsi akan dikucilkan semua anggota partai.

Alasan yang paling sering digunakan lainya adalah "apakah kita rela negara kita dikuasai orang kafir?" seolah pertanyaan bagus yang membuat setiap orang tergerak untuk menjaga negara yang kenyataanya merusak negara. Sehingga orang yang ingin menegakan syariat Islam tergerak untuk bergabung. Kenyataanya suara mereka setelah bergabung tenggelam.

Justru menahan seluruh da'i untuk tidak terjerumus kedalam lubang hitam langkah awal menegakan syariat Islam, agar mereka lebih dekat dengan rakyat. Sangsi sosial masyaraka terhadap semua caleg dan calon pemimpin lewat pemilu akan membuat mereka merenung akan kekeliruan langkah mereka. Dan kalaupun saat ini pemerintahan seluruhnya dikuasai orang kafir, justru akan membangkitkan kesadaran menegakan Daulah Kilafah Islamiyah, umat Islam akan bersatu tanpa ragu menegakan Syariat Islam dan bangkit melawan kaum kufar. Dan perseteruan antara TNI-POLRI Muslim dengan "teroris" menjadi sirna. TNI-POLRI yang masih memiliki iman akan bangkit untuk membela agama, dan para "teroris" akan mengerahkan keahlianya untuk menyelamatkan negara dari kaum kufar. Sehingga mereka bersatu padu menjadi Mujahid militan yang siap melindungi ulama dan umat muslim, serta memerangi musuh Islam dengan seluruh yang ada.

Jadi tidak ada alasan untuk kekufuran bila menggunakan iman bukan hawa nafsu. Justru sikap kader dakwah untuk tetap berpartai akan merugikan harakah Islam sendiri. Setiap keburukan kader akan disangkutkan kepada pergerakan. Padahal sudah menjadi alumi apalagi sikap mendua antara berpartai dan berdakwah. Harakah Islam selayaknya harus benar-benar seteril dari pemikiran asing dan hasrat kekuasaan dan keleluasaan duniawi sehingga muncul syahwat untuk berpartai.

Propesionalitas antara berdakwah dan berparta sangat sulid terwujut dan hanya akan menimbulkan kerancunan berpikir. Seperti saya jelaskan analogi diatas tentang rokok dan thoghut bermain main dengan kebatilan dan keimanan resikonya sangat besar dan dapat menyebabkan ketergelinciran. sengata atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar. Kalaudikatakan harus berani mengambil resiko, mengapa tidak berjuang sekuat tenaga tanpa kompromi melawan hukun thoghut dan menggantinya dengan hukum Islam. Yang terjadi justru berkompromi dengan kebatilan.

Kita perlu membangkitkan kesadaran masyarakat agar keritis terhadap pemerintah dan bergerak turun tanganan bertindak melawan kezaliman dan kesenangan untuk menegakan hukum Allah. Bukan justru menjadi manusia yang mementingkan golongan.

Perpecahan harakah islam sering kali berawal dari ulah partai baik yang berhaluan demokrasi-kebangsaan maupun yang bercita rara islam.

Kami tidak akan mencela saudara yang ingin menegakan Islam dengan tulus, idealis dan konsisten, tidak berwala dengan kesesatan dan orang-orang kufar (karena ada partai yang merekrut orang kristen dan hindu). Dimana sekarang parpol rawan untuk disusupi dan di tunggangi pengejar kekuasaan duniawiyah. Kita lihat dalam banyak ormas islam yang proses kaderisasi dilakukan dengan seletif masih ada input yang menyimpang. Apa lagi parpol yang mencari kader sebanyak mungkin akan mudah untuk dibajak.

Kami masih tetap tinggal dinggal di indonesia dan tidak tingal di negri yang berhaluan islam karena yang kami cari perjuangan, pen gorbanan untuk membeli surga Allah. Seorang manusia yang berhati akan selalu resah bila berada didaerah kondusif sementara tepat asal begitu memperihatinkan dengan hukum jahiliyah. Sementara kita pergi tanpa memberikan kontribusi apapun. Justru yang terjadi saat ini penguasa islam duduk dikursi sofa menjamu musuh Allah bercengkrama menghina pejuang islam sebagai tindakan konyol.

Kalau Anda menyadari negara ini terkontaminasi dengan huktm thoghut, lalu mengapa diam saja menikmati produk hukum thaghut. Bukanya menentang atau memperbaiki. Membiarkan negara ini menarik pungutan liar, riba, cukai miras dan rokok.

Berbicara idealisme, sikap ini masih diperlukan dan disertai dengan komitmen, bukan bergandengan dengan hukum thoghut. Sepatutnya jika memahi mengikuti hukum buatan manusia jangan mengikuti yang tidak tahu. Kita harus menanamkan masyarakat untuk mengkufuri hukum thaghut. Meluruskan pemahaman Islam, bukan merusak definisi syuro dengan pemahaman demokrasi. Segala sesuatu yang haram mau diberi lebel apapun tidak akan pernah bisa merubah hukum atas hal tersebut. Demokrasi produk pemikiran kufur sepatutnya kita mengislamkan demokrasi bukan Islam yang didemokrasikan. Dalam artian merombak total sistem demokrasi yang ada sekarang dengan sistem Islam. Tentu perubahan sistem ini diawali dari perubahan sistem berpikir masyarakat kita.

Saat ini tentu secara de facto sistem Islam belum berkuasa, namun kedatangan Imam Mahdi menjadi sebuah janji Allah kepada umat islam akan mengalami kemenangan. Maka kita patut ikhtiar berusaha menggapai kemenangan dan tidak ada yang sia-sia jika dengan tulus berjuang di jalan Allah. Menunggu kedatangan imam mahdi bukan berdiam diri namun bergerak dan dipersiapkan dari sekarang. Ketika datangnya imam mahdi kita diharapkan sudah siap mental ternaga dan perbekalan. Karena setelah datangnya imam Mahdi tidak secara serta merta meraih kejayaan secara instan tetapi perlu perjalanan panjang. Dari mengalahkan Dajjal hingga menegakan syariat dibumi Allah ini.

Sistem Islam saat ini belum ada kekuasaan menjadi alasan yang sangat realistis untuk kita berkewajiban menegakan sistem yang haq. Walau saat ini islam belum memiliki wilayah, bukan berarti menjadi permasalahan untuk tidak berislam secara kaffah.

Bumi ini milik Allah yang diwariskan untuk orang-orang yang beriman, bukan untuk orang yang melakukan kerusakan. Karena yang mengontrak itu siapa, orang beriman atau sistem batil?

Saatnya semua pihak bersatu dalam berdakwah dimanapun berada. Melakukan dakwah kemitraan dengan berbagai harokah dakwah islam bersama meluruskan umat dan menyatu dengan masyarakat Islam menebarkan kasih. Mendorong untuk menegakam shalat lima waktu dan memakmurkan masjid . Membina adik adik kita calon penerus dakwah. Mendorong orang kaya mensodaqohkan hartanya untuk membiayai anak terlantar, yatim piatu, dan tidak mampu. Serta mendorong masyarakat miskin untuk berkarya. Sehingga masyarakat akan sadar siapa yang peduli dengan rakyat aktivis dakwah atau pemerintah. Orang orang yang tulus ingin menegakan syariat islam dengan benar atau orang yang menggunakan kedok penegakan syariat Islam untuk kepentingan pribadi.

Sudah saatnya majelis ilmu menyebarkan murid-muridnya untuk berdiaspora membentuk majelis-majelis ilmu ditengah masyarakat.
  
Di ilhami dari diskusi Forum My Quran.dengan tema : "LDK dan Parpol"

Suber berita http://myquran.org/forum/index.php/topic,47356.95/wap.html Halaman: (1 sampai 20).

Rabu, 28 Desember 2011

Makalah  Adab-Adab dan Kemaksiatan dalam Islam
Tugas Matakuliah Al Islam III
Prodi : Pendidikan Ekonomi
FKIP Universitas Muhammadiyah Metro


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

            Kehidupan kita selaku manusia tidak lepas dari tatanan peri laku dan kaidah-kaidah dalam berhubungan dengan sesama manusia.  Terlebi selaku seorang Muslim kita memiliki pedoman yang jelas dan lenkap. Pedoman tersebut adalah Al Quran dan As Sunnah / Al Hadis. Segala aktifitas dari yang bangun tidur sampai kita berangkat tidur ada didalam Al Quran dan As Sunnah. Karena kesempurnaan Al Quran dan As Sunnah mampu menjawab permasalahan hidup sepanjang jaman.


            Islam dikenal sangat simple, dalam artian secara praktis aturan-aturan dalam Islam mampu di terapkan secara langgsu. Juga sangat teliti, hingga masalah sekecil dapat di antisipasi dan terselesaikan. Selain itu Islam juga sangat menjunjung hak-hak orang lain dan masyarakat luas dengan harapan terjadi kemaslahatan umat.

            Namum kadang kala dimasyarakat pada saat ini tidak seluruhnya melakukan aktifitas sesuai syariah. Ada kalalanya melakukan perbuatan yang dapat di benarkan oleh masyarakat lain namun tidak dapat dibenarkan menurut pandangan Islam. Seperti sambung ayam dibeberapa daerah di Indonesia di benarkan sebagai ritual adat. Ada pula seringkali kita dalam bermuamalah melakukan tindak yang tidak disadari telah melukai hati oranglain.

            Pebuatan yang baik dan sesuai denagan tatanan yang  berlaku serin kita kenal sebagai adab. Adapun segala perbuatan yang dilakukan berupa penyimpanga-penyimpangan sering kita kenal sebagai maksiaat. Adakalanya manusia yang sudah terbiasa melakukan perbuatan yang sesuai dengan adab yang berlaku akan risau hatinya ketika melakukan perbuatan yang melanggar dari norma yang berlaku di dalam masyarkat. Namum bagi orang yang sudah sering melakukan tindakan maksiat tidak ada hambatan dari hati lantaran sudah terlanjur banyak maksiat yang ia lakukan. Bila ada yang menegur dianggap sebagai angin berlalu. Apa bila melakukan perbuatan yang beradap ada keganjalan kadang kala ada perenungan. Jika hatinya tebuka untuk menerima kebenaran Allah pun akan membukakan pintu hidayah untuk bertaubat. Namun jika hatinya suadah mengeras tak mentup kemungkinan Allah akan menutup pintu hidayah.

            Menurut Agussyafii  : 2009 “Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model”. Sehingga sangat erat kaitannya dengan tradisi yang dianggap baik oleh masyarakat. Dan ber kaitan dengan persepakkan secara turun-temurun. Awalnya masyarakat yang dianggap paling beradap adalah masyarakat pedesaan yang memegang teguh dengan tradisi. Namun mulai berkembangnya kebudayaan kemodrn telah mengagumkan banyak manusia, sehingga modrnisasi mampu menggeser nilai-nilai budaya tradisional.

            Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota (Agusyafii:2009).

            Kini makna adab semakin menyempit kepada syariat-syariat agama. Dimana bukan sekedar kesahajaan yang mampu tergeser pemikiran modrn yang lebih fleksibel menghadapi tantangan zaman. Bukan pula kemegahan yang semu dimana kata modrn hanya menjawab permasalahan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga dengan mudahnya nilai-nilai modrn menjadi nilai klasik lantaran muncul kemodrnan terbarukan. Yang kadangkala menimbulkan ekses yang luarbiasa. Masyarakat membutukkan tatanan yang teratur sehingga keajegan sosial dan masyarakat madani dapat terwujud. Harapan tersebut terletak pada syareat Islam yang begitu memperhatikan nilai-nilai keilahian dalam menghadapi tantangan zaman. Serta tidak sekedar memikirkan kemajuan namun keberlansungan secara terus menerus.


            Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Ādāb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab (Agussyafii:2009).

            Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT (Agussyafii:2009).

            Sementara itu kata maksiat menurut artikata.com memiliki arti sebagai “perbuatan yg melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dsb)” sedangkan kemaksiatan diartikan sebagai “hal-hal yg bersifat maksiat (yg penuh dosa dsb)”.
            Sehingga nampak  jelas kata adab dan maksiat memiliki korelasi dan orientasi arti kepada tegak atau tidaknya ajaran-ajaran Islam. Apa bila syareat Allah mampu berjalan sebagai mana mestinya maka akan terbetuk masyarakat beradab yang berakhlakul karima. Dan apabila syareat Allah tidak dijalankan secara menyeluruh maka akan muncul potensi-potensi pelanggaran terhadap kemapanan yang pada gilirannya kemaksiatan mampu melaju menebus hikum-hukum manusia. Pada giliranya banyak kemaksiaatan yang akan bermunculan yang akan memicu murka Allah sehingga bencana dating beruntun silih berganti. Nauzubillah. Waullahuallam.



B.        Tujuan Penulisan Makalah
·         Mahasiswa mampu memahami adab-adab yang sesuai ajaran Islam;
·         Mahasiswa mapu memahami perbuatan maksiaat yang harus dihindari;
·         Mahasiwa mampu menganalisis segala perilaku  selama ini di masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam dan kemaksiatan yang terjadi;
·         Mahasiswa dapat memilah tidakan yang beradap dan yang maksiat;
·         Mahasiswa mampu memiliki kesadaran merealisasikan adab-adab islam
·         Mahasiswa ada ketertarikan untuk menyerukan adab-adab Islami bagi masyarakat luas



















BAB II
PEMBAHASAN

 Dalam pembahasan kali ini akan diuraikan dua pokok pembahasan. Dimana apa bila kita memahami adab maka kita akan mudah memahami kemaksiatan. Kedua sub bab pembahasan dalam makalah kali ini sangat berkaitan. Dimana sub bab A lebih menekankan kepada pengenalan adab dan sub bab B lebih kepada pencegahan. Sehingga kita mampu menjalankan perintah  Allah dan mampu menjauhi larangan-Nya.
A.   Adab-Adab dalam Islam

            Adab-adab dalam Islam cakupanya sangat luas sekali. Untuk itu dalam pembahasan kali ini akan ditik beratkan pada kebiasan yang sering kita lakukan namun luput dari perhatian untuk menjadikan kita Muslim yang Beradap. Pembahasan diawali dari berbicara. Dimana kita hanpir tidak dapat lepas dari aktifitas berbicara. Kemudian selaku calon guru Ekonomi kita perlu mengetahui cara mencari rizki yang sesuai dengan adab Islam. Kita juga tidak lepas dari inyteraksi denagan masyarakat begitu banyak hal yang perlu kita pahami.

Selain itu kita sering berdoa kadang kala berdoa tanpa mengunakan landasan berpikit yang benar. Dan kemudian akan dibahas tentang adab mencari Ilmu. Dimana kita perlu meluruskan niat dalam menuntun Ilmu.

1.      Adab Berbicara
            Tanpa kita menyadari terkadang ucapan-ucapan yang terlontar terjun bebas melukai hati orang lain, dan lebih berbahaya tidak sesuai dengan tuntunan Islam.  Kita terkadang tidakmentadari bila berbicara akan mendapat pertangung jawaban, semakin banya berbica terlebih melenceng dan penuh kesesatan ssemakin banyak di pertanggung jawabkan. Tentu kita perlu mempelajari pola kehidupan nabi muhamad agar kita tidak terjebak kepada mengada ngada syariat.
Belajar dari sejarah kehidupan Rasulullah yang mulia dan dalam penerapan ajaran Islam telah sangat detail memperhatikan persoalan keummatan; Mulai dari urusan dapur sampai urusan ketatanegaraan, telah dijabarkan dalam kehidupan beliau sebagai Uswatun Hasanah (contoh tauladan) bagi kita semua (Ichsaneljufri: 2011 ).
Begitu pentingnya menjaga lisan dalam sebuah hadis dijelaskan akan bahwa setiap perkataan yang kita ucapkan akan dicatat sebagai amal ibadah bunyi hadis tersebu :
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

            Sehingga kita perlu memperhatikan sebisah mungkin apa yang kita ucapkan sehingga mendatangkan pahala bukan dosa. Adapun Keutaman menjaga lisan nabi saw orang yang menjaga lisan akan mendapat jaminan surga. Hadis tersebut :

"Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kemaluannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).
            Seorang muslim wajib menjaga lisannya, tidak boleh berbicara batil, dusta, menggunjing, mengadu domba dan melontarkan ucapan-ucapan kotor, ringkasnya, dari apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Sebab kata-kata yang merupakan produk lisan memiliki dampak yang luar biasa. (Ichsaneljufri: 2011 ).

 Begitu halus dampak dari perkatan orang berbicara terkadang kita tidak mentadari apakah perkataan tersebut mendatandkan dosa atau pahala, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

"Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya, tetapi ia menjerumuskan-nya ke Neraka Jahannam" (HR. Bukhari).

            Yang terjadi kita bangga dengan perkataan kita tidak peduli bedar atau salah. Padahal lisan menjadi tolak ukur anggota badan berbuat. Seperti yang diuraiakan Ichsaneljufri: 2011 bahwa:  Hadis Hasan riwayat Imam Ahmad menyebutkan, bahwa semua anggota badan tunduk kepada lisan. Jika lisannya lurus maka anggota badan semuanya lurus, demikian pun sebaliknya. Ath-Thayyibi berkata, lisan adalah penerjemah hati dan penggantinya secara lahiriyah. Karena itu, hadits Imam Ahmad di atas tidak bertentangan dengan sabda Nabi yang lain: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan bila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

            Kemudian diperjelas lagi oleh Ichsaneljufri: 2011 bahwa : Berkata Baik Atau Diam
Adab Nabawi dalam berbicara adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari).
Adab Nabawi di atas tidak lepas dari prinsip kehidupan seorang muslim yang harus produktif menangguk pahala dan kebaikan sepanjang hidupnya. Menjadikan semua gerak diamnya sebagai ibadah dan sedekah. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: "… Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid)adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah." (HR. Al-Bukhari).
            Dimana saat ini banyak sekali diantara kita yang gemar membicarakan keburukan orang lain, berbicra berjam-jam tidak ada manfaatnya (merumpi). Hanya sekedar mencari pembenaran bahwa anggapan kita bahwa orang yang tidak kita suka adalah orang yang buruk. Kita tidak menyadari perbutan kita  akan mendatangkan murka Allah, meskipun itu tidak mebongkar aib orang namun yang namanya merumpi lebih banyak berkata yang tidak ada manfaatnya. Seperti dalam uraian Ichsaneljufri: 2011 tentang pendapat para Imam : Imam Nawawi rahimahullah berkata, qiila wa qaala adalah asyik membicarakan berbagai berita tentang seluk beluk seseorang (ngerumpi). Bahkan dalam hadits hasan gharib riwayat Tirmidzi disebutkan, orang yang banyak bicara diancam oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sebagai orang yang paling beliau murkai dan paling jauh tempatnya dari Rasulullah pada hari Kiamat. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, 'Tidak ada baiknya orang yang banyak bicara.' Umar bin Khathab Radhiallaahu anhu berkata, 'Barangsiapa yang banyak bicaranya, akan banyak kesalahannya.'
            Adapula anggapan bahwa mendengarkan pembicaraan orang yang merumpi tidak apa-apa padahal termasuk dosa.  Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :  "Cukuplah seseorang itu berdosa, jika ia membicarakan setiap apa yang di-dengarnya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Cukuplah seseorang itu telah berdusta, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya." (HR. Muslim).
            Ketika berbicara jauh kemana mana ada kalanya kita muncul kejengkelan terhadap teman, kelompok ataupun keluarga membuat kita berkata kotor bahkan melakhat. Hal tersebut tidak mencerminkan akhlak seorang muslim sebagaimana  Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu meriwayatkan, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Seorang mukmin itu bukanlah seorang yang tha'an, pelaknat, (juga bukan) yang berkata keji dan kotor." (HR. Bukhari).
Tha'an adalah orang yang suka-merendahkan kehormatan manusia, dengan mencaci, menggunjing dan sebagainya (Ichsaneljufri: 2011).

            Kemudian karena kita terlalu berambisi ingin meluruskan suatu perkara membuat kita hobi untuk berdebat. Padahal sikap tersebut kurang baik dilakukan meskipun kita benar. Sepatutnya perlu meluruskan niat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meski dia benar. Dan di tengah-tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun dia bergurau. Juga di Surga yang tertinggi bagi orang yang baik akh-laknya." (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).


2.      Adab  Mencari Rizki
            Allah telah menciptakan Bumi ini untuk memenuhi segala  kebutuhan manusia, dari sandang pangan dan papan. Pemenuhan kebutuhan tersebut diraih melalui  segala yang ada di bumi ini baik hewan, tumbuh-tumhan, barang tambang, dan lain lain. Hakikatnya semua itu agar manusia mampu menjalankan kewajibannya. Sebagaimana fiman  Firman Allah SWT:
Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. al-Mulk:5).

            Ayat diatas mengingatkan kita bahwa dunia ini sementara dan kelak, manusia tidak akan hidup selamanya didunia, serta setelah kematian berakhir begitu saja. Bukan berarti memenuhi kebuutuhan adalah duahal yang berbeda namun sangat erat kaitanya. Sebagaimana fiman  Firman Allah SWT: “Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(QS. Al Jumu’ah  : 10).
            Dalam ayat tersebut dijelaskan setelah kita shalat, kita dianjurkan mencari karunia Allah. Kaena tidak sepatutnya kita berpangku tangan dan hanya berdoa tapi harus berusaha juga. Ketika berkerjapun kita  tetap menginat Allah sebanyak-bamyaknya.
Karena seberapa banyak kita berdoa tanpa disertai dengan usaha, Allah tidak akan merubah keaadan suatu kaum. sebagaimana firman Allah SWT:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….. (QS.13/ ar-Raâd: 11)
            Apa bila dilinkungannya sulit untuk mendapatkan sua pekerjaan manusia dianjurkan untuk merantau. Namun merantau dalam Islam tidak sekedar merantau tetapi hijrah dijalan Allah. Sebagai mana firman Allah SWT:
Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya denagn maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematianmenimpanya (sebelum sampai ditempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Adalah Allah Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang.  (QS. an-Nisaâ:100).
            Dijelaskan niat baik untuk berhijrahpun sudah dinilai sebagai pahala. Tak dapat kita bayangkan berapa banyak pahala yang didapat apabila kita melakukan usaha mencari rezeki dengan niat hijrah dijalan Allah. Dalam sebuah hadis dijelaskan pedagang yang jujur telah dijanjikan mendapatkan surga Darusalam tempat nabi, sidiqin dan suhada, Sebagai mana Rasulullah SAW bersabda: Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi, siddiqin, dan syuhada. (HR Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW memuji orang yang mandiri yang mampu menenuhi kebutuhan dari ushanya sendiri  bahwa: Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri. (H.R. Bukhari).
            Sangat jelas didalam ajaran Islam mencari rezeki tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidup namun  juga merupakan sarana untuk beribadah. Sehingga dalam mencari rezeki ada adab-adab yang akan mendatankan keridoan Allah. Dan mampu menjauhkan diri merugikan orang lain dan azab dari Allah. Adapun menurut Merza : 2010 adab mencari rizki dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Mencari Rezeki adalah Ibadah. Motivasi paling kuat dalam mencari rezeki adalah menjadikannya sebagai amal ibadah. Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (al-Jumu’ah [62]: 10).

b. Memelihara Iman. Modal awal seorang Muslim dalam berusaha adalah takwa. Selain itu, ia juga menjadi kunci utama mendatangkan rezeki. Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Thalaq [65[: 2-3).

c. Mencari yang Halal. Sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam (SAW), "Tak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan? Tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan? Tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan kemana ia nafkahkan? Dan tentang badannya, dalam hal apa dia binasakan?" (Riwayat at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib).

d. Memperbanyak Istighfar dan Taubat. Firman Allah, "Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh [71]: 10-12).

e. Rajin Berinfak. Ibnu Katsir menjelaskan: Betapapun sedikit harta yang kamu infakkan pada perkara yang diperintahkan kepadamu, ataupun yang bersifat mubah (boleh), niscaya Allah pasti menggantinya untukmu di dunia. Sedang di akhirat kamu akan diberi pahala dan ganjaran. Firman Allah, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Saba’ [34]: 39).

f. Ringan Tangan kepada Orang Lemah. Memuliakan dan suka menolong orang lemah menjadi salah satu rahasia dalam mencari rezeki. Sabda Nabi SAW, “Tidaklah kalian mendapatkan pertolongan dan mendapatkan rezeki melainkan disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (Riwayat al-Bukhari).

g. Menyambung Tali Silaturahim. Sabda Rasulullah SAW, “Pelajarilah nasab-nasab kalian agar kalian dapat menyambung tali silaturahim kerabat-kerabat kalian. Karena sesungguhnya menyambung tali silaturahim itu adalah sebab kecintaan di dalam keluarga, sebab berlimpahnya harta, dan sebab tertundanya ajal (umur diperpanjang).” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim).

            Untuk membangun masyarakat yang sejahtra tentu dimulai dari lingkup kecil. Perlu merangkul keuarga dekat agar terlepas dari kesenjangan sosial kemudian saudara jauh tetangga dekat dan jauh. Dan terwujutlah kerjasama dan persaudaraan yang utuh.
            Umat Islam diminta bergandeng tangan menghilangkan semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis). Di samping itu, juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Namun, realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya (Merza : 2010).

h. Tidak Meminta-minta. Sabda Nabi SAW, “Salah seorang dari kalian senantiasa meminta-minta sehingga dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak ada daging di wajahnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

            Ajaran Islam, sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha, dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah, tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya, sesungguhnya dia mengemis bara api. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri.”
 (H.R. Muslim). Oleh karena itu, Islam, memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis), sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim, bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbulâ alamin, hak tempat meminta, dan hak pengemis itu sendiri. (Merza : 2010)

i. Bersikap Zuhud. Zuhud adalah obat penawar dari kegemerlapan dunia. Dengannya, seorang Muslim dapat terjaga dari fitnah dunia. Wasiat Nabi SAW, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.” (Riwayat al-Bukhari)

j.Tawakkal kepada Allah. Firman Allah, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq [65]:smile:. Tawakkal di sini tak bermakna berpangku tangan, tanpa mau berusaha sedikit pun.[masykur/tyn/infokito.net] /ismenalghifary.
            Ajaran Islam, menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang, seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya. Ajaran tawakkal yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. Nabi Muhammad SAW, dalam sejumlah hadits, sangat menghargai kerja, seperti salah satu haditsnya yang berbunyi, Jika kalian tawakkal kepada    Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.(Merza : 2010).

3.      Adab Bermasyarakat dalam Islam


            Konsep bermasyarakat dalam Islam sangat unik menekankan pada persaudaraan seiman. Dikenal dengan memperioritaskan saudara seiman daripada yang berbeda agama. Penekanan utuk tolong-menolong sesame muslim Meskipun berbeda suku bangsa. Dalam suatu riwayat Abu Hurairah RD yang berkata yang Rasulullah SAW telah bersabda:

"Seorang muslim adalah saudara bagi orang muslim yang lainnya. dia tidak mengkhianatinya, dia tidak membohonginya, dia tidak membiarkannya. Setiap (kehormatan) orang muslim adalah haram (untuk dicerobohi) oleh orang muslim yang lain: baik dari segi kehormatan maruahnya, hartanya, darahnya”.
Taqwa itu berada di sini (iaitu di dalam hati di dada). Memadailah jahat seseorang itu dengan dia menghinakan saudaranya yang muslim" [riwayat Imam at-Tarmizi]
(Hadith yang lafaznya hampir sama, hanya dengan tambahan di awalnya 'jadilah kamu hamba-hamba Allah,..."telah diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Imam an-Nawawi RH di dalam kitab al-Azkar telah memberi komentar tentang pengajaran dari hadith ini dengan katanya: "Tiada yang lebih besar ('azamu) manafaatnya dan lebih banyak faedahnya daripada hadith ini".

Dari penjelasan hadis diatas dapat ditarik intsarii maknana bahwa sesamamuslim :

Tidak mengkhianati: khianat lawannya amanah. Bermaksud amanah dalam perkataan dan amalan perbuatan terhadap sesama muslim.
Tidak membohonginya: tidak memberitahu dia dengan sesuatu yang menyalahi kenyataan yang sebenar tanpa maslahah syar'ie.
Tidak membiarkan: tidak membiarkannya tanpa bantuan secara yang syar'ie. Membiarkan seorang muslim begitu sahaja adalah perbuatan haram yang dahsyat semada dalam perkara duniawi umpama kita mempunyai upaya untuk membantu orang yang kena zalim, atau menghindari kezaliman yang ada pada seseorang, hendaklah dilakukan, atau dalam perkara keagamaan seperti memberi nasihat agar ditinggalkan perbuatan mengumpat dan mencerca muslim yang lain.
'Irdi (yang diterjemah oleh pencatit ini sebagai maruah) :disyarahkan oleh Imam Muhammad Ibn 'Ijlan dalam Dalilu al-Falihin sebagai 'objek yang menjadi tempat pujian dan cemuhan' . Atau dalam penggunaan Inggeris semasa sebagai dignity,honor, reputation. Nama baik, harga diri

yuhaqqir akhahu al-muslim (menghina saudaranya yang muslim): Ini adalah perbuatan dosa dan jenayah yang amat besar. Rasulullah SAW bersabda: "Tiada masuk syurga bagi sesiapa yang ada dalam hatinya sebutir zarah dari rasa takabbur". Orang yang memandang hina terhadap orang lain itu sudah tentu merasa dirinya mempunyai kelebihan terhadap orang yang dihinanya.

Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya, semada dari segi maruah, atau harta, maka hendaklah dia meminta dihalalkan sebelum datangnya hari yang mana tiada (manafaat) dinar mahupun dirham, sesungguhnya akan diambil dari (catitan) kebajikannya (untuk diberi kepada yang dizaliminya), sekiranya dia tidak mempunyai kebajikan maka diambil dari kejahatan orang yang dizalimi itu lalu ditambah kepada (catitan)kejahatannya [Riwayat Imam Bukhari-Imam Muslim]

Rasulullah SAW bersabda: Tahukah kamu siapakah orang muflis (bangkrap) ?
Lalu sahabat menjawab: Orang muflis pada kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham atau harta.

Rasulullah SAW bersabda: orang muflis daripada ummah-ku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan (membawa pahala) sembahyang, puasa dan zakat. Dia juga telah menyakiti perasaan orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, memukul orang ini, . Maka diambil daripada catitan kebajikannya (untuk dibayar tebusan kezalimannya terhadap orang yang dizaliminnya), apabila habis amalan kebajikannya sebelum selesai melunaskan apa yang berkewajiban atasnya, maka diambil daripada catitan kesalahan-kesalahan mereka dan dicampakkan ke atas (catitan)nya, kemudian diapun dicampakkan ke dalam neraka [riwayat Imam Muslim]

Itulah pondasi awal dab dalam bermasyarakat  Adapun lebih jelasnya Zadalt : 2010 telah menguraikan beberapa adab dalam masyarakat yang perlu kita perhatikan denga beberapa penyuntingan dari penulis.
a. Adab bergaul dengan yang lebih muda

Kita senantiasa dianjurkan untuk bersikap merendah, yakni bersifat sopan santun terhadap sesama orang mukmin, termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda dari pada kita.
Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman :.
"Dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS Al
Hijr: 88)".

b. Adab bergaul dengan orang yang berbeda agama
Terhadap orang yang berbeda agama pun kita dianjurkan untuk bergaul dengan baik karena pada dasarnya mereka pun sama-sama manusia yang tidak berbeda dengan kita, asal kejadian mereka sama dengan kita. Yang membedakan antara kita dengan orang-orang yang berlainan agama adalah ketaqwaannya .
Firman Allah SWT :
"Hai manusia sesunguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kau disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal".
Islam mengajarkan kkepada kita untuk bertoleransi, yaitu menghormati keyakinan umat lain tanpa memaksa (QS. Al-Baqarah : 256), kalau berdialog dengan mereka hendaklah dengan cara yang baik (QS. Al-Ankabut : 46) tidak boleh menghina agama dan keyakinan mereka.
c. Adab berpakaian
Pakaian itu dikategorikan kedalam dua fungsi yaitu :

1)  Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat.

2)  Sebagai perhiasan memperindah jasmani manusia.

Firman Allah SWT :
"Hai anak adam sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa
yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. Al A’raf : 26)
Dalam hal adab berpakaian bagi wanita telah dijelaskan dalam Al-
Qur’an sebagai berikut:
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka menggunakan jilbabnya keseluruh tubuh yang demilian itu supaya mereka mudah untuk dikenali, dan dengan itu merka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
d.  Adap Memandang
Dalam masalah adab memandang dalam Alquran di jelaskan sebagai berikut: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah kebaikan bagi mereka. Dan Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
e. Adab Berbicara
Sebagai seorang mukmin hendaknya senantiasa membicarakan hal-hal dan masalah-masalah yang membawa kemaslahatan hidup. Cara kita berbicara juga dengan cara yang benar artinya menggunakan sopan santun berbicara serta tidak boleh berbicara dihadapan lawan dengan cara ngotot.
f. Adab Makan dan Minum
Adab dalam makan antara lain :
1)      Bila hendak makan membaca Basmalah
2)      Tidak boleh makan dengan tangan kiri
3)      Tidak boleh makan minum sambil berdiri.
4)      Tidak boleh mencela makanan.
5)      Tidak boleh menghembus minuman.
Dalam surat al-hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal.


f. Pergaulan Muda-mudi

Mengucapkan dan menjawab salam
1) Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam
apabila bertemu (QS. An-Nisa’ : 86 / bertamu (QS. An-Nur : 27))
2) Salam yang diucapkan minimal adalah “assalamu’alaikum”
3) Mengucapkan salam hukumnya sunnah, tetapi menjawabnya wajib
4) Bila bertamu, yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah yang bertamu
(QS. An-Nur : 27)
5) Salam tidak diucapakan hanya saat saling bertemu, tapi tatkala mau berpisah
juga
6) Jika dalam rombongan, baik yang mengucapkan dan maupun yang menjawab
salam boleh hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut
7) Rasulullah saw melarang mengucapkan atau menjawab salam ahlul kitab.
9) Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya

Sementara yang perlu menjadi perhatian muda mudi yang bukan muhrim adalah adab berjabatan tangan . Dalam suatu riwayat rasulullah bersabda :
“ sungguh, jika kepala seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya : (HR. Tabrani dan baihaqi)
Dari hadits tersebut seorang pria tidak boleh berjabat tangna dengan seorang wanita yang bukan istri dan bukan mahramnya, begitu pula sebaliknya. Salah satu hikamah larangan tersebut adalah sebagai tindakan preventif dari perbuatan yang lebih besar dosanya, yaitu perzinahan.

Ada pula yang serin luput dari perhatian dalah Khalwah,  Khalwah adalah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak ada hubungan suami istri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga dan larangan berkhalwah adalah tindakan pencegahan supaya tidak terjatuh ke lembah dosa yang lebih dalam lagi.
4.      Adab-Adab Berdoa

Doa adalah perisai sekaligus senjata bagi kaum mukminin, yang bentengnya adalah
doa dan senjatanya tangisan. Karena meyakini bahwa Rasulullah saw bersabda: “Doa adalah inti ibadah dan tidak ada seorang pun yang akan binasa bersama doa.” Biharul Anwar, 93: 300)

Dengan sabdanya tersebut Rasulullah saw menghimpun semua nilai ketinggian dan keagungan
doa serta pengaruhnya ke dalam kehidupan.


Allah swt berfirman: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat/51: 56).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa tujuan kita diwujudkan dan dihidupkan di dunia tiada lain kecuali untuk beribadah kepada Allah swt. Sedangkan doa merupakan inti ibadah.

Allah swt berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku pasti Kuperkenankan doamu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mukmin/40: 60).

Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa
doa adalah ibadah, dan menegaskan sebagai hal yang saling berlawanan: doa dan kesombongan. Yakni:

Pertama: Menggambarkan pribadi seorang hamba yang mengenal Tuhannya, mengenal dirinya sebagai hamba-Nya, dan menjalin hubungan kedekatan dengan Penciptanya.

Kedua: Menggambarkan sikap orang yang sombong, angkuh, keras kepala dank eras hati, ahli maksiat dan durhaka, yang jauh berbeda dengan pengenalan yang dirasakan oleh orang dalam sisi yang pertama.

Dengan makna tersebut menunjukkan bahwa orang yang menghina dan mengecilkan peranan
doa dalam kehidupan, maka ia digolongkan pada bagian yang pertama. Orang yang sombong dan tidak mengenal dirinya. Padahal Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengenal dirinya ia mengenal Tuhannya.”

Makna inilah yang dijelaskan oleh para kekasih Allah swt bahwa ibadah yang paling utama adalah
doa. Karena tujuan ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mengenal hak-hak Allah dan kekuasaan-Nya yang tak akan tertandingi oleh siapapun; untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, karena meyakini bahwa segala kebutuhannya berada di tangan Allah Pemilik malakut langit dan bumi, yang apabila Dia memberi tak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi, apabila Dia menahan tak akan ada seorang pun yang mampu memberinya, dan tak ada seorang pun yang kuasa menolak takdir-Nya kecuali Dia.

Tak ada ungkapan yang lebih jelas seperti makna yang diungkapkan di dalam
doa. Karena doa menjadi wasilah untuk mengungkapkan rasa sedih dan duka, perasaan yang paling mendalam dan perjalanan batin, di waktu sekarang dan mendatang.

Dalam kondisi dan keadaan seperti itulah wujud ibadah paling nampak dan paling sempurna. Dan dalam kondisi itulah seorang hamba paling dicintai oleh Allah swt. Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Amal yang paling dicintai oleh Allah azza wa jalla adalah
doa.”

Jika Islam memperhatikan suatu persoalan tertentu, maka pasti atasnya ditetapkan adab adab dan syarat-syaratnya, agar manusia dapat memperoleh kesempurnaannya dan memetik hasilnya.

Demikian juga dalam halnya persoalan
doa, Islam telah memperkenalkan kepada manusia adab-adabnya, agar mereka memperoleh hasilnya, merasakan kebahagiaan dan kesejukan batin saat menghadap kepada Allah swt sumber mata air kedamaian. Memperoleh keyakinan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Mengijabah. Beradab dan bertatakrama yang baik dan sopan di hadapan-Nya sebagai seorang hamba yang membutuhkan-Nya, agar mendapat perhatian-Nya.

Islam juga memperkenalkan kepada manusia tentang syarat-syaratnya, agar mereka berdoa dengan
doa yang benar, dan doanya berpengaruh pada harapan dan kehidupannya, cepat atau lambat, segera atau tetunda.
Adapun dalil dalil tentang adab berdoa cukup banyak sekalai.
Allah Ta’ala berfirman:
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
(Q“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Dari Aisyah -radhiallahu ‘anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ
“Rasulullah -shallallahu wa’alaihi wa sallam- menyukai doa-doa yang singkat tapi padat maknanya, dan meninggalkan selain itu.” (HR. Abu Daud no. 1482 dan An-Nawawi berkata dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 431, “Sanadnya baik.”)
 dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
tDari Jabir bin Abdillah
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim no. 3009)

 bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:tDari Abu Hurairah
إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ
“Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali dia berkata, “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki.” Akan tetapi hendaklah dia memastikan apa yang dia minta dan hendaknya dia memperbesar pengharapannya, karena Allah -Azza wa Jalla- sama sekali tidak pernah menganggap besar sesuatu yang Dia berikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2678)
Penjelasan ringkas:
Dari dalil-dalil di atas kita bisa memetik beberapa perkara yang menjadi adab dalam berdoa:
a.    Merendahkan suara ketika berdoa, tidak di dalam hati tapi juga tidak menjaharkannya. Karena hal itu bisa membantu dia untuk khusyu’ dan sekaligus menunjukkan ketundukan dan kerendahan dia di hadapan Allah Ta’ala.
b.    Tadharru’ (merendah) kepada Allah ketika berdoa kepada-Nya.
Ad-Dhara’ah (asal kata tadharru’, pent.) bermakna menghinakan diri, tunduk, dan mengharap. Dikatakan:
ضَرَعَ يَضْرَعُ ضَرَاعَةُ maknanya tunduk, menghinakan diri, dan merendahkan diri. Dia tadharru’ kepada Allah maksudnya dia  berharap kepada-Nya. (Lihat Al-Mishbah Al-Munir hal. 361)
Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 42-42)
c.    Menggunakan kalimat-kalimat yang jami’ dalam berdoa, yakni yang lafazhnya ringkas akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam lagi sangat luas. Karenanya sudah sepantasnya seseorang itu berdoa dengan doa-doa yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- pernah berdoa dengannya, karena beliaulah pemilik al-jawami’ al-kalim (kata-kata yang jami’).
d.    Tidak mendoakan kejelekan untuk diri, keluarga, dan harta benda, karena mungkin saja Allah Ta’ala akan mengabulkannya.
e.    Memastikan permintaannya dan tidak mengembalikannya kepada masyi`ah (kehendak) Allah, karena hal itu menunjukkan kurang perhatiannya dia kepada doanya dan dia tidak terlalu berharap kalau Allah akan mengabulkan doanya.
f.    Betul-betul meminta (arab: al-ilhah) kepada Allah ketika berdoa.
Al-Ilhah maknanya mendatangi sesuatu dan komitmen berada di atasnya. Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- secara marfu’, “Tetaplah kalian berdoa dengan ‘Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.” (HR. At-Tirmizi no. 3773-3775 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/172)
Maka hendaknya seorang hamba memperbanyak doa dan sering mengulang-ulanginya. Dia terus-menerus meminta kepada Allah dengan mengulang-ulangi penyebutan rububiah-Nya, uluhiah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifatNya. Itu merupakan sebab terbesar dikabulkannya doa, sebagaimana yang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- sebutkan, “Seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku,” sampai akhir hadits (HR. Muslim no. 1015) dan hadits ini menunjukkan adanya ilhah dalam berdoa.
Berikut beberapa adab lainnya yang tidak tersebut dalam semua dalil di atas:
a.    Memulai dengan memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan juga menutup doanya dengan ini.
Dari Fudhalah bin Ubaid -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mendengar seorang lelaki berdoa di dalam shalatnya, dia tidak memuji Allah Ta’ala dan juga tidak bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Maka Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Orang ini tergesa-gesa,” kemudian beliau memanggil orang itu lalu beliau berkata kepadanya atau kepada selainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR. Abu Daud: 2/77 no. 1481 dan At-Tirmizi: 5/516 no. 2477. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 1314 dan Shahih At-Tirmizi no. 2767.)
b.    Senantiasa berdoa kepada Allah baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesulitan.
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa yang mau doanya dikabulkan oleh Allah ketika dia mendapatkan syada`id (kesusahan) dan al-kurab (kesulitan), maka hendaknya dia memperbanyak berdoa ketika dia lapang.” (HR. At-Tirmizi no. 3382 dan Al-Hakim: 1/544. Hadits ini juga dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmiz: 3/140, dan lihat juga Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 593)
c.    Bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu atau semua jenis-jenis tawassul yang disyariatkan, yaitu: Tawassul dengan menggunakan nama-nama dan sifat-sifat Allah, tawassul dengan amalan saleh, dan tawassul dengan perantaraan doa orang saleh yang masih hidup. Dan bukan di sini tempatnya membahas tentang tawassul.
d.    Tidak memaksakan diri dalam memperindah lafazh (sajak) doa (arab: as-saja’).
Dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Jauhilah as-saja’ dalam berdoa, karena sesungguhnya aku mendapati Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak melakukan kecuali itu -yakni: Mereka tidak melakukan kecuali menjauhi hal itu-.” (HR. Al-Bukhari no. 6337)
e.    Mengulangi doa sebanyak tiga kali. Dalil dalam masalah ini cukup banyak, di antaranya adalah ucapan Ibnu Mas’ud bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengangkat kepalanya kemudian berdoa, “Ya Allah binasakanlah Quraisy,” sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari no. 240 dan Muslim no. 1794)
f.    Menghadap ke arah kiblat. Dari Badr bin Zaid dia berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah keluar ke lapangan ini untuk meminta hujan, maka beliau berdoa dan shalat istisqa`, kemudian beliau menghadap ke kiblat dan membalik kain yang beliau pakai.” (HR. Al-Bukhari -dan ini adalah lafazhnya- no. 6343)
g.    Mengangkat kedua tangan ketika berdoa.
Dari Salman -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya Rabb kalian -Tabaraka wa Ta’ala- Maha Malu lagi Maha Pemurah kepada hamba-Nya, Dia malu kepada hamba-Nya tatkala dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lantas Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Daud no. 1488, At-Tirmizi: 5/ 557, dan selain keduanya. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya jayyid,” dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/179)
h.    Berwudhu sebelum berdoa, jika memungkinkan.
 bawa Rasulullah -shallallahu alaihi
tDalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari  wasallam- meminta air lalu berwudhu kemudian beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, ampunilah Ubaid Abu Amir.” (HR. Al-Bukhari: 5/101 dan Muslim: 4/1943. Lihat Al-Fath: 8/42,)
i.    Menangis ketika berdoa karena takut kepada Allah Ta’ala.
j.    Jika dia mendoakan orang lain maka hendaknya dia mulai dengan mendoakan dirinya sendiri.
Dari Ubay bin Ka’ab -radhiallahu anhu- dia berkata, “Jika Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau mulai dengan mendoakan diri beliau sendiri.” (HR. At-Tirmizi: 5/463) Hanya saja juga telah shahih riwayat bahwa beliau -shallallahu alaihi wasallam- tidak memulai dengan diri beliau sendiri, seperti pada doa beliau untuk Anas, Ibnu Abbas, dan ibunya Ismail -radhiallahu anhum-. (Lihat: Syarh Shahih Muslim: 15/144, Fath Al-Bari: 1/218, dan Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmizi: 9/328)
k.    Dan tentu saja dia tidak meminta kecuali hanya kepada Allah semata.
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata: Saya pernah berada di belakang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- lalu beliau bersabda, “Wahai anak kecil, sesungguhnya saya akan mengajarkan kepadamu beberapa ucapan: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu. Jika kamu meminta maka mintalah hanya kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.” (HR. At-Tirmizi: 4/667 dan Ahmad: 1/293. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 2/309)

5.      Adab-Adab Mencari Ilmu

Adab mencari ilmu mutlak diperlukan, bahkan para Salafush Shalih mendidik anak-anaknya dengan adab sebelum membawanya ke majelis ilmu.
Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri -rahimahullah-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)
Berkatalah Abdullah bin Mubarak -rahimahullah-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)
Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120)
Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rahimahullah-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49)
Berkata Abullah bin Mubarak: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain -rahimahullah-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit daripada hadits walaupun banyak”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)
Mengapa demikian ucapan para ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yang masuk kepada seseorang yang memiliki adab yang baik akan bermafaat baginya dan kaum muslimin.
Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari -rahimahullah-: “Ilmu tanpa adab seperti api tanda kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

a.      Niat Ikhlas

Karena menuntut ilmu adalah ibadah bahkan setinggi-tingginya ibadah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- maka kita wajib mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus“. (Al-Bayyinah:5)

b.      Beramal dengan Ilmu

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sangat marah kepada mereka-mereka yang berbicara tentang ilmu sedangkan dia sendiri tidak beramal, Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan“. (As-Shaff:2-3)

c.       Sabar, Tidak Terburu-Buru

            Seorang pencari ilmu seringkali terbawa semangat, sehingga ia ingin dalam waktu yang relatif singkat untuk mendapatkan semua bidang ilmu. Ingatlah bahwa ilmu ini agama yang tidak terpisah dari amal, bukan hanya sekedar mengetahui dan menghafal. Maka pelajarilah secara bertahap dari yang paling penting, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya. Tidak mungkin dengan belajar sebulan sampai dua bulan ia menjadi ulama atau dalam waktu singkat dia menjadi pakar hadits yang menshahihkan dan mendhoifkan hadits atau menjadi ahli fiqih yang dapat mengumpulkan hukum dari ayat-ayat dan hadits.
Para Ulama terdahulu mereka belajar dari sejak kecil sampai 30 tahun baru mempelajari ilmu hadits apalagi meriwayatkan hadits.

B.   Kemaksiatan
Pada sub bab kemaksiatan kita akan membahas hal apa saja yang dapat memicu seseorang melakukan kemaksiatan. Kemudian akibat bagi diri kita jika melakukan maksiat. Kemudian akan diuraikan pencegahan melakukan maksiat.

1.      Empat Pintu Masuk Maksiat
         Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seorang hamba melalui empat pintu. Barang siapa yang bisa menjaga empat pintu tesebut maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Adapun empat pintu yang dimaksud adalah :
a.      Al-Lahazhat (Pandangan pertama)
            Yang satu ini bisa dikatakan sebagai "provokator" syahwat atau utusan syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam menjaga kemaluan, maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Rasulullah : "Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat"
             Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melairkan syahwat. dan dari syahwat itu akan timbullah keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: "Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya".
            Pandangan yang dilepaskan begitu saja dapat menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi. Pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar-benar mengena di hati orang yang memandang. Padahal, satu pandangan yang dilarang itu dapat melukai hati dan dengan pandangan yang baru berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama. Namu ternyata derita yang ditimbulkan oleh luka-luka itu tak bisa mencegahnya untuk kembali terus-menerus melakukannya.
b.  Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak)

      
Adapun "Al-Khatharat" (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka, barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan menyeretnya pada kebinasaan. Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hatinya, sehingga akhirnya akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).
       Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkan sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan itu ke dalam hatinya, dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.
       Padahal pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari hal-hal yang paling mulia dan paling bermanfaat, dan orientasinya hanya untuk Allah SWT dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.

c.  Al-Lafazhat (Kata-kata atau Ucapan)
        Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin bebicara, hendaklah seseorang melihat dulu apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
     Sahabat Mu'adz bin Jabar pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam Jannah dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu Nabi SAW memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda : "Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?" Dia berkata: "Ya, Wahai Rasulullah". Lalu Nabi SAW memegang lidah beliau sendiri dan berkata: "Jagalah olehmu yang satu ini". Maka Mu'adz berkata: "Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab : "Ibumu kehilangan engkau ya Mu'adz, tidaklah yang dapat menyungkurkan banyak manusia diatas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?" At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih".
       Sungguh mengherankan, banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum-minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kesuhudan dan ibadahnya pun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang mengundang kemurkaan Allah SWT tanpa dia sadari, seperti berdusta, memfitnah, dan lain-lain.
        Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau hanya sekedar mengucapkan: "Hari ini panas dan hari ini dingin". seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: "Tolong ambilkan kain untuk kita bermain-main". Lalu dia berkata. "Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya, kata-kata yang tadi aku katakan keluar dari lidahku
tanpa kendali dan tanpa kekang...."Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: "Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah".
        Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, dan dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri.... Seharusnya kita selalu memperhatikan sebuah hadits Nabi dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir bila dia menyaksikan suatu perkara maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja".
d.  Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk sebuah Perbuatan)   
      Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yamg dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah SWT, dengan demikian maka Insya Allah seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.

2.      Pengaruh Maksiat Bagi Diri
Kali ini saya akan menyajikan tulisan yang saya kutip (dengan sedikit penyesuaian redaksi bahasa tentunya) dari kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (الداء والدواء) karya Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah. Kitab ini banyak membahas tentang penyakit hati dan obatnya, salah satunya adalah tentang pengaruh maksiat yang bisa dirasakan oleh seseorang yang melakukannya. Apa saja pengaruh maksiat bagi diri? Berikut yang tertulis di kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’.
a. Menghalangi Ilmu (حرمان العلم)
Ilmu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan cahaya tersebut.
Imam as-Syafi’i duduk di depan Imam Malik. Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat mengagumi kecepatannya dalam menangkap pelajaran, kecerdasannya, dan pemahamannya yang sempurna. Imam Malik berkata, “Aku melihat, Allah telah meletakkan cahaya dalam hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat (إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا، فلا تطفئه بظلمة المعصية)”.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Saya mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’ (شكوت إلى وكيع سوء حفظي);
Ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat (فأرشدني إلى ترك المعاصي);
Ia berkata, ‘ketahuilah bahwa ilmu itu adalah keutamaan, (وقال اعلم بأن العلم فضل);
Dan keutamaan dari Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat’ (وفضل الله لا يؤتاه عاصي).”
b. Menghalangi Rezeki (حرمان الرزق)
Dalam Musnad dikatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya (إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه).”
Taqwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki, sementara meninggalkan ketaqwaan bisa mendatangkan kefakiran dan kemiskinan.
c. Menimbulkan Keresahan dalam Hati Antara Dirinya dengan Allah (وحشة يجدها العاصي في قلبه بينه وبين الله)
Karena keresahan ini, ia tak mendapatkan kenikmatan asasi. Kenikmatan-kenikmatan dunia dan seisinya tidak akan mampu mengatasi keresahan dalam hati. Namun, keresahan ini hanya dirasakan oleh orang yang hatinya masih hidup. Orang yang mati tidak dapat merasakan sakit yang ditimbulkan oleh luka.
d. Menimbulkan Keresahan Ketika Dirinya Bersama dengan Orang Lain, Terutama Bersama Orang-orang yang Baik (الوحشة التي تحصل له بينه وبين الناس، ولاسيما أهل الخير منهم)
Orang yang resah hatinya akan menjauhkan diri dari lingkungan yang baik. Ia tak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang baik. Dan ia akan mendekati kelompok setan (حزب الشيطان), sekaligus semakin menjauh dari kelompok orang-orang yang dekat dengan Allah (حزب الرحمن). Ini akan terus terjadi dan semakin parah, kecuali ia memilih meninggalkan maksiat.
e. Mendatangkan Kesulitan dalam Urusan-urusannya (تعسير أموره عليه)
Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tak menemukan jalan pemecahan atau jalan pemecahan tersebut sangat sulit didapatkan. Orang yang bertaqwa kepada Allah akan mendapatkan keringanan, sedangkan orang yang tidak bertaqwa akan mendapatkan kesulitan dari Allah dalam setiap urusannya.
f. Menimbulkan Kegelapan dalam Hati (ظلمة يجدها في قلبه)
Kegelapan dalam hati akan dirasakan oleh seseorang seperti gelapnya malam. Kegelapan di dalam hati akibat maksiat laksana kegelapan indrawi yang menutupi penglihatan matanya. Ketaatan adalah cahaya, dan kemaksiatan adalah kegelapan. Setiap kali kegelapan menguat, semakin bingunglah ia hingga jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan dan hal-hal yang membinasakan, dan ia tidak merasakan hal itu.
‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada sinar pada wajah, cahaya pada hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang. (إن للحسنة ضياء في الوجه، ونورا في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سوادا في الوجه، وظلمة في القبر والقلب، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق).”
g. Melemahkan Hati dan Badan (توهن القلب والبدن)
Kelemahan pada hati merupakan hal yang nyata. Maksiat akan terus-menerus melemahkannya hingga habislah kehidupannya. Adapun kelemahan pada badan, maka sesungguhnya kekuatan orang mukmin itu teletak pada hati, jika hatinya kuat maka badannya pun akan menguat. Sedangkan orang faajir, meskipun berbadan kuat, sesungguhnya ia paling lemah. Saat memerlukan kekuatan, ia dikhianati oleh kekuatannya sendiri yang sangat diperlukannya.
Bayangkan kekuatan badan orang Persia dan Romawi dapat mengelabui mereka, padahal kekuatan badan itulah yang paling mereka andalkan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan badan dan hati.
h. Menghalangi Ketaatan (حرمان الطاعة)
Hukuman bagi pendosa adalah terhalang dan terputusnya ia dari semua jalan ketaatan kepada Allah. Padahal satu ketaatan lebih baik dari dunia dan seisinya. Ibaratnya, seperti seseorang yang makan suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang akut, yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang lezat dan baik. Wallaahul musta’aan.
i. Mengurangi Umur dan Melenyapkan Keberkahannya (تقصر العمر وتمحق بركته)
Sesungguhnya kebaikan menambah umur, sedangkan kemaksiatan mengurangi umur. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian mengatakan bahwa maksud kurangnya umur orang yang suka berbuat maksiat adalah hilangnya keberkahan umur tersebut. Ini benar dan merupakan bagian dari pengaruh kemaksiatan bagi diri.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa maksiat benar-benar akan mengurangi umur, sebagaimana berkurangnya rezeki. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah kehidupan hati, oleh karena itu Allah menyatakan orang kafir sebagai orang mati, bukan orang yang hidup. Sebagaimana yang Ia sebutkan di surah an-Nahl ayat 21:
أموت غير أحياء
Kesimpulannya, bila seorang hamba berpaling dari Allah ta’ala dan sibuk dengan kemaksiatan, lenyaplah kehidupannya yang hakiki. Akhirnya ia menyesal dan berkata sebagaimana yang dinyatakan dalam surah al-Fajr ayat 24:
يليتني قدمت لحياتي

3.      Sepuluh Nasehat Ibnu Qayyim agar Sabar Menjauhi Maksiat

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu kepada Allah.  Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah.
Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat,  dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah.  Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.










BAB III
KESIMPULAN
·         Setiap Muslim harus menjagalisanya agar terhidar dari perilaku-perilaku yang dapat mendatangkan murka Allah.
·         Mencari rizki merupakan bagian dari ibadah, seorang Muslim harus bertawakal dalam mencari rizki, berusaha tidak meminta-minta namun mencari rizki sendiri. Karena pengeluaran yang digunakan akan lebih nikmat.
·         Kemaksiatan dapat mengurangi keberkahan.
















DAFTAR PUSTAKA
http://alpalury.blog.uns.ac.id/2010/05/03/10-nasehat-ibnu-qayyim-agar-sabar-menjauhi-maksiat/
http://agussyafii.blogspot.com/2009/02/pengertian-adab.html#ixzz1eJmESrZY
http://www.artikata.com/arti-339462-maksiat.htmlpenyakit masyarakat memerlukan kesabaran dan ketekunan
http://ichsaneljufri.blogspot.com/2011/07/adab-berbicara-dalam-islam.html
http://ismenalghifary.blogspot.com/2010/06/adab-mencari-rezeki-yang-halal.html
http://ismenalghifary.blogspot.com/2010/06/adab-mencari-rezeki-yang-halal.html
http://www.scribd.com/doc/24976424/AKHLAK-BERMASYARAKAT  
http://muqabalah2009.blogspot.com/2009/05/adab-bermasyarakat-dalam-islam.html
http://abufurqan.com/2011/10/07/pengaruh-maksiat-bagi-diri/
http://www.tokoku99.com http://shalatdoa.blogspot.com
Pengajaran Dari Hadith Riyadu as-Solihin
Hadith ke 13 Dari Bab Menitik-beratkan Kehormatan Orang Islam
http://al-atsariyyah.com/adab-adab-berdoa.html
http://anwarsyaebani.tripod.com/risalah-dakwah.html
http://al-atsariyyah.com/adab-adab-berdoa.html
Risalah Dakwah MANHAJ SALAF edisi 1/th V 18 Muharram 1430H/16 Januari 2009M
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/akhlak-adab/adab-adab-mencari-ilmu/
http://anwarsyaebani.tripod.com/risalah-dakwah.html