Senin, 25 November 2013



Karya:  Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Selembar selendang pada ubunmu telah tertaut
Seberkas cahaya rembulan menggigit keheningan 

Bulan sabit merahmu merekah membuatku tersaut
Rasa salut dan riang, cahayamu ketepian

Segurat senyum kau raut
Isyarat mata dibalik dada, kita akan terpaut
Begitu terniang sinarmu menari dengan riang

Ku tersapu ketiang bayu hampir buatku meriang

Semuanya terkuak ketika menuju seberang laut
Ketika kau meminta sejuta rasa yang ku punya
Kau memilih bintang bukan waru
Cindera mata yang ku beri ada arti
Lapangmu menerima semakin berarti

Kini ku tau semua arti rautmu
Aku telah keliru
Rasa yang kau beri tak ubahnya gotri dan baut
Kecil dan banyak memberi arti kepada siapapun
Aku pun tahu kau biang penggoda
Aku akan melawan godamu
Seperti Jalut dikalahkan Daud


di Tegal Ombo, Way Bungur, Lampung Timur, Pada 22:35 17/07/2013

Minggu, 24 November 2013


Karya:  Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)


Wanita itu gelas kristal

Indah, bening  berkemilau

Tangan kotor tak pantas menyentil



Harga diri wanita, oase padang pasir

Jagalah wanita, jangan lengah

Jangan berlebih, jangan menyerah



Jagalah wanita seperti membawa secawan air

ditengah kering krontang padang pasir

dan ingat ! cawan itu gelas kristal.


Bila sedikit lengah, akan pecah luluh-lantah.

Hormati wanita, sebagaimana ibu dan adikmu

Jagalah wanita, sebagaimana menjaga dirimu.


 22:14 23-November-2013



Karya:  Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Gadis jelita itu bunga mawar
Wangimu daya tarikmu
Kelopak dan merah menjadi keindahanmu

Bila kau bunga, kami kumbang
Kumbang  tergoda wangi tubuhmu
Kita berbeda tubuh, pemilik kebun memata-mataiku

Keindahanmu wanita, bunga tanpa sentuhan
Polos, ditaman indah nan wangi
namun ketika tersentuh sirnalah kepolosan .

Jangan hiraukan para kumbang terjatuh hatinya
Berbicaralah kepada pemilik kebun
Bila kau kumbang sejati

22:14 23-November-2013

Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)
 
Kala Lazuardi permata biru terpaut oleh cakrawala fajar
dalam diriku ada rasa hangat menghinggapi ruang sanubari
dalam dadamu terus merekah kala bermekaran sekar
Ketahuilah, isarat  insan bernafas dibalik dada asmara bersemi

namun kala terik menghujam hingga kedalam palung hati
berlahan asmara dalam hatimu mulai kering
layu terbakar oleh bisikan musik setan yang membara
irama nyaring, hati kering-kerontang

Pemudaku, tak ada lagi asmara insani dalam dadamu
segalanya terkaburkan sebagai kesucian cinta
ketahuilah, semuai itu sekedar tipudaya kepuasan hawa nafsu
syaitan akan terus mengahalangi dan membelakangimu

hadirlah musik-musik setan, mengawal setiap kau temui kepalsuan cinta
hingga hati luluh-lantah tak tersisa oleh sakit hati ditinggal cinta
kemudian memalingkan kepada lain hati, kau anggap kebenaran cinta
kau  terus berputar dalam lingkaran syaitan, kau dapati nafsu bukan cinta

temaram langit, indahnya pesona sore
terkecoh atas nama pembelajaran,  kau meminum musik racun
terus bersiklus kau alami : hatimu patah, hatimu disate
kau keras kepala, engan kembali dalam jalan insani

Jummat, 22-November-2012  (  hasil rekrontruksi setatus lama)

Jumat, 22 November 2013




Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)


Segurat senyum menyeret betis-betisku
Embun telah binasa terbakar
Menggelandang, lewati pelataran berbangku
Senyum terus ku obral, salam kabar
 
Dari depan kau menghajar mukaku
Akupun berpaling acuh
Kau tak mengerti, jantungku memar melihat wajahmu
Kau tak mengerti, dibalik acuh aku gelisah
 
Kembang kempis perasaanku terhadapmu
Rasa kasih hidup-mati membuncah
Rasa benci terkapar, rindu membelenggu
Hati tergoncang dalam pelana asmara rancu
 

Entah akan  kemana nanti langkah keteguhan
aku seperti induk ayam yang melindungi anaknya
keegoisan, harga diri, dan kesombongan
tiga mata trisula keangkuhan menjadi anakku
 

celotehan sederhana berkumandang
kebisuan mendera
ketika iringan langkah bersua
acuh tanpa perduli didunia ini kau ada


Aku dikenal pandai beretorika
tapi entah kemana seribu kata ketika berjumpa
aku tak ingin binasa
hanya karena kesepian

Aku juga tak ingin binasa karena letih menanti
Kala ku sendiri hatiku selalu mewanti
Bahwa aku harus waspada dengan kemaksiatan berpikir
Bahwa ada janji menjaga hati dengan berzikir
 
16:15 22/11/2013