Selasa, 01 April 2014

 SEPUTAR KATA YANG SALAH PENGEJAAN
:Kesalahan yang Dianggap Lazim

       Salah ketik(saltik) sering saya alami dalam banyak tulisan. Kadang  merasa sudah mengecek berkali-kali, ternyata masih saja ada kekurangan dalam penulisan huruf. Selain memang salah ketik,  bisa juga disebabkan perasangka kita kalau itu benar, misalnya: kerudung sengaja ditulis krudung, relaif dituis relatip, definisi ditulis devinisi, prioritas ditulis perioritas dan lain-lain. Beberapa kesalahan dalam mengetik ada kalanya memberi keuntungan, di antaranya membuat kita paham bahwa: sedikit saja berbeda menuliskan huruf pada suatu kata akan berbeda makna, misal layak dengan layah.

       Maka untuk menghindari kesalahan ejaan dan salah ketik selain kita harus berkali-kali membaca tulisan kita (kalau perlu dieja kata per kata), juga harus terus belajar dan berani dalam menampilkan karya, dan tentunya terbuka dengan keritikan (karena jika kita tidak pernah menampikan karya dari mana kita akan tahu kesalahan kita?). Setelah menerima berbagai masukan dari berbagai pihak, kita akan menjadi lebih cenderung meneliti tulisan sendiri dan juga tulisan orang lain. 

       Selain itu ternyata banyak kata yang tidak baku atau salah ketik, disebabkan alam bawah sadar kita menerima pesan dari tulisan atau syair lagu yang kita anggap bagus yang ternyata salah ejaan. Kemudian menjadi kesalahan umum. Selain membaca satu per satu kata, mungkin perlu mengecek setiap kata yang kita tulis/ucapkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena bisa saja kita merasa kata yang kita tuliskan baku, nyatanya tidak baku atau malah tidak ada dalam Bahasa Indonesia. Maka dari itu di bawah ini akan sedikit saya uraikan beberapa kata yang saya maksud tidak baku namun sudah seperti menjadi keumuman di masyarakat.

1.  Ubah bukan Rubah

Ubah versus rubah, paling sering dibahas dalam berbagai keritik kesalahan ejaan. Kata dasar ubah yang ditulis rubah berdampak pada pengimbuhan: merubah versus mengubah. Rubah sendiri dalam KBBI termasuk kata homonim, yang pertama bermakna: hewan sejenis anjing. Sedang yang kedua sebuah kata yang tidak baku dari ubah.

       Ubah, bermakna menjadi berbeda dari semula ternya bukan kata homonim. Mungkin inilah alasan pembakuan kata ubah, agar tidak rancu dengan kata rubah. Keumuman pada banyak syair lagu membuat seolah kata yang layak untuk ditulis ialah kata“rubah” bukan ubah. Setelah saya cek, banyak sekali tulisan lama saya juga menulis merubah bukan mengubah.


2.  Hembus apa Embus?

       Di buletin, artikel, atau mungkin cerpen bahkan puisi banyak kita temui menuliskannya dengan hembus, hembusan, berhembus.  Namun kalau kita cek kedalam KBBI kata hembus tidak baku, yang baku embus. Uniknya, kata embus setatusnya kata homonim.

em·bus [1] v cak enyah; pergi: -- kau dr sini;
em·bus [2], ber·em·bus v 1 bertiup (angin dsb): angin pagi mulai ~; 2 keluar ditiupkan (tt napas, udara dr mulut, dsb): napasnya sudah tidak ~ lagi;

Jauh berbeda bukan? Saya kurang tahu mengapa kata hembus tidak dibakukan agar tidak “ricuh” dengan embus yang bermakna pergi.


3. Kaos ? Kaus 

Sub judul tersebut akan pembaca temui ketika melakukan pencarian kata di KBBI. Kata kaos ternyata kata yang tidak baku di dalam bahasa Indonesia. Namun seperti kita ketahui koas sudah menjadi konvensi masyarakat memiliki arti baju yang terbuat dari bahan kaus. Di kalangan kampus ada istilah, “kaos oblong” sebagai bentuk kaus yang tidak berkerah.

Kita ketahui masalah “kaos oblong” sering menjadi topik utama tentang tata tertip berpakaian ketika berkuliah yang disampaikan dalam materi-materi ospek atau penamaan yang lain. Terutama untuk falkutas keguruan, sudah pasti ada larangan keras mahasiswanya "berkaos oblong” apa lagi kuliah dengan kaus oblong sambil menggunakan sandal jepit :D .

       Jarang kita dengar dari kakak tingkat atau dosen yang mengatakan “kaus oblong” atau di pasar-pasar pedang bilang “kaus bola mas!” atau di iklan televisi dan sebagainya. Bahkan secara tidak resmi konvensi masyarakat “kaos” bukan kaus untuk menyebut “kain tipis yang jarang-jarang tenunannya terbuat dari katun atau nilon, digunakan untuk bahan pakaian”. Sedang kata kaos dalam bahasa Indonesia dengan maksud “kaus” sebagai kata tidak baku.

Jika kita lihat lagi ternya kata “kaos” termasuk kata homonim (kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan). Kaos berarti: keadaan kacau-balau. Di mana masyarakat dalam berbagai tulisan di buku, koran dan majalah lebih sering menggunakan istilah asing menyebut kaos dengan “Cheos”. Tentu mungkin sebagian kita justru akan merasa aneh jika cheos ditulis kaos. :D Tapi kenyataannya seperti ini, kebakuan bahasa sebagai kelaziman tata bahasa kadang kala bertentangan dengan kelaziman yang digunakan masyarakat. Bahasa sebagai konvesi kata oleh sekelompok masyarakat harus berbenturan dengan konvesi resmi sekelompok orang yang memiliki otoritas menetapkan baku atau tidak baku suatu kata.

Sedikit menggalaukan pakar bahasa tentunya dalam hal menyerap kata “cheos” ke dalam bahasa Indonesia. Jika di serap dengan “kaos” maka kata kaos yang sudah digunakan lebih dulu harus digeser ke kata kaus(sehingga kata kaus menjadi homonim). Kalau diserap menjadi “caos” tambah memilukan karena sudah ada dua kata(caos) yang sudah homonim.



4. Hadang apa Adang?


Kalau secara subjektif, saya atau mungkin Anda akan merasa cocok dengan kata hadang dibandingkan kata adang. Apa lagi dalam memberi imbuhan, lebih cocok menghadang dibanding mengadang. Namun pada realitanya kata hadang tidak baku, kata adang baku. Uniknya lagi, kata adang sebagi kita pahami menghalangi suatu hal, ternyata homonim dengan tiga kata yang bentuknya sama persis tapi bermakna sangat jauh berbeda.


adang [1] v, meng·a·dang v 1 menghalangi (merintangi orang berjalan dsb) dng cara mendepang: jangan engkau ~ orang itu, biarkan dia lewat; 2 menunggu di tempat yg sunyi (biasanya dng maksud jahat, spt membunuh, merampok, menyamun); mencegat: gerombolan bersenjata ~ iring-iringan mobil; 3 menuju; memaksudkan; menghadapi; 4 menempuh (menantang) bahaya (kesukaran dsb): mereka berani ~ bahaya maut;
adang  [2]Jw v menanak nasi dng menggunakan dandang
adang [3] n 1 saudara tua dr ibu (biasanya wanita); kakak ibu; 2 nama atau gelar kehormatan; dang


Bila kita lihat adang pada kata pertama, penggunaannya juga akan menimbulkan beberpa makna yang berbeda. Ada empat kontekstualisasi penggunaannya.



5. Sekedar  atau Sekadar

Awalnya saya iseng mengecek kata sekedar kedalam KBBI, karena sebelumnya merasa kata tersebut kata yang sudah baku. Ternyata tidak, karena kata dasarnya kadar bukan kedar. Sekadar kata yang berasal dari akar kata kadar. 
     

6.  Mendali atau Medali ya?

Ini kata yang memiliki permasalahan unik. Kita sering mengucap mendali bukan medali, namun tidak menyebut mendalilion tapi medalilion untuk menyebut jenis kalung. Bagus atau tidak kata medali, nyatanya kata ini lebih baku dibanding kata mendali. Kata medali juga ternyata homonim, selain bermakna suatu pemberiang penghargaan juga bermakna bunyian seperti seruling.


7. Menghujam  atau Menghunjam 

Penulisan dan pengucapan menghujam dalam banyak tulisan bisa dikatakan kesalahan terbesar.  Kesalahan ini saya ketahui ketika hendak lebih memaknai kata ini, ternyata tidak ada dalam kamus. Kemudian ketika dicek di papan mesin pencarian tidak ada definisi menghujam, sedang menulis kata kunci "hujam" akan dikoreksi menjadi hujan. Usut punya usut, ternyata kata yang benar menghunjam. Kita banyak yang korupsi huruf :v :v :v Kata "menghujam" sendiri, seingatku saya dapatkan dari syair Tompi “menghujam jantungku”.(Lihat beritanya di hunjam, menghunjam; BUKAN hujam, menghujam Kata salah kaprah: hujam, menghujam…. http://tatabahasaindonesia.wordpress.com/2012/11/13/hunjam-menghunjam-bukan-hujam-menghujam-kata-salah-kaprah-hujam-menghujam/  )



8. Berlahan atau Perlahan

Sama dengan poin tujuh, kata berlahan tidak ada dalam kamus. Entah bahasa apa yang jelas bukan Bahasa Indonesi. Jelasnya kata perlahan bukan kata turunan dari lahan, melainkan kata dasar yang independen. Mungkin inilah yang dikira sebagai kata turunan sehingga sinonim dari lambat-laun ditulis dengan berlahan.

***
Demikian kedelapan poin tentang kesalahan penulisan kata dalam karangan.  Perlu kita pahami bahasa itu dinamis, konvesi sekelompok masyarakat terkadang dikalahkan oleh konvesi masyarakat yang lebih luas lagi. Kata mentari yang di kamus lama tidak baku sekarang baku. Maka kita tidak bisa berpedoman dengan kamus lama, seperti juga kata nopember dan jadual di kamus lama(80an) dianggap baku. Tapi saat ini seperti bukan kata Indonesia. Kata marxisme, nama-nama tempat, kebangsaan dahulu ada dalam kamus saat ini seperti sudah tidak ada.

Ketika penulisan tulisan non fiksi, seperti karya ilmiah pemilihan kata baku menjadi wajib. Sedang untuk non fiksi, masih ada celah. Misal prosa, bisa dengan alasan penggunaan kata sehari-hari atau ragam percakapan. Maka sepatutnya ditulis dengan huruf miring. Sedang untuk puisi, memang masalah gramatika tidak bisa dilepaskan, namun jika tidak selaras dengan pengungkapan pengkarya  bisa diterabas dengan licentia poetica. Kuncinya bebas namun harus bisa dipertanggungjawabkan. Menggunakan hak ini tidak semabarangan, bukan masalah suka-suka. Selain itu juga membuat kita tidak gegabah menghukumi karya orang lain tidak nyastra atau yang lainnya.

Sebenarnya masih banyak seperti hiperbola versus hiperbol, jejauhan dengan kejauhan. Karena ilmu saya masih kurang maka ditahan dulu pembahasannya :D. Mungkin ada masukan dari pembaca seputar permasalahan ini? Atau mau memaparkan kasus lain seputar kata yang salah pengejaan. Tulisan saya ini dikeritik juga boleh.

Salam ka(r)ya!

Ket:Kamus yang saya pakai KBBI Offline versi 1.1 2010 Ebta Setiawan

Kamis, 27 Maret 2014


Salam literasi!

Dunia tulis-menulis memiliki banyak media dan teknik penulisannya. Banyak ragam satu tulisan jenis dengan tulisan yang lain memiliki karakteristik yang khas.  Antara buletin, materi khotbah, puisi, prosa, artikel non fiksi tentunya jika kita cermati dan bandingkan memilik warna pembeda. Bahkan antar generasi, zaman, kewilayahan memiliki karakteristik warna tersendiri. Jangankan kita berbicara pada lingkup yang besar, pada diri kita sendiri pun mengalami priodisasi dalam dunia tulis-menulis. Jika kita perhatikan sejak kita mengenal huruf ketika di TK/PAUD, kemudian belajar membaca hingga bisa menulis berbagai jenis karya tulisan, maka akan terlihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam tulisan kita.

Salah satu khazanah dalam dunia tulis-menulis yang pernah saya kenal adalah pesan singkat(SMS) melalui telepon seluler. Mungkin sebagian ada yang menyepelekan dan tidak memasukan kedalam dunia tulis-menulis, atau menganggap biasa. SMS jika kita perhatikan dalam sejarahnya merupakan revolusi terbesar dalam dunia komunikasi, media surat menyurat dihantam habis-habisan hingga menjadikannya saat ini tergolong media konvensional dan pengguna sekarang terbatas.
Belum jika kita berbicara pengaruh, saat ini pengaruh telepon seluler belum mampu diimbangi oleh internet(mungkin akan berbeda di kemudian hari), hampir seluruh lapisan masyarakat mampu menjangkau dan berkomunikasi lewat SMS dan telepon. Pengaruhnya juga begitu cepat dengan dukungan banyaknya orang menggunakan, pesan berantai banyak terserap sebagai pengaruh psikologis secara positif dengan berupa penyampaian kata mutiara, motivasi atau pencerahan. Atau berupa pengaruh psikologis secara negatif, diantaranya menyebarnya SMS bohong, berupa penipuan, menakut-nakuti atau tahayul.

Kelemahannya dari SMS dengan media komunikasi mudah hilang, di sebabkan kemampuan kapasitas telepon terbatas. Maka sebagian saja yang tersimpan sebagian lagi terbuang. Serta jarang orang yang mau mendokumentasikan di telepon (kedalam draft, kotak masuk, atau yang lain) banyak yang memilih untuk menghapus. Serta yang mendokumentasikan pun tentu beberpa SMS yang menurutnya menarik. Kebanyakan pun menghapusnya, lantaran bosan, penuh, ganti kartu atau ponselnya di jual. Jarang yang mencoba untuk di dokumentasikan kedalam kertas.
Maka penulis karena suatu alasan, kekhasan SMS yang memciptakan ke intiman dua arah, pribadi serta keduanya terlibat belum bisa digantikan dengan media lain. Alasan kedua untuk mendokumentasikan SMS yang menurut penulis bagus, menggugah, mencerahkan penulis dokumentasikan kedalam kertas. Karena kebanyakan SMS-SMS yang didokumentasikan dalam tulisan ketika penulis masih SMA. Periodisasinya cukup panjang, ada yang tercatat tanggal 2008, lama sekali ya! Alhamdulilah masih terjaga. Penulis sedari dulu punya keinginan merubah SMS-SMS tersebut kedalam file namun memiliki banyak kendalam. Di antaranya keterbatasan alat, sehingga penulis lebih fokus terhadap jenis tulisan lain seperti facebook atau penulisan lewat buku.
Menurut pengamatan penulis, tema dalam SMS ketika SMA sangat beragam, ada yang humor, percintaan, persahabatan, motivasi, keagamaan atau yang lainnya. Penulis tertarik dengan SMS yang memiliki daya pengaruh kuat, menggugah serta mampu merubah paradigma pembaca menjadi lebih baik walau dengan kata-kata terbatas.

Maka harapanya pemaparan ini menjadi reuni masa SMS masih buming, dokumentasi pesan-pesan yang sudah terhapus dari ponsel kawan-kawan serta untuk menyalurkan pesan positif. Perlu di ingat, penulisan ulang SMS-SMS di bawah ini tidak dengan penyingkatan, agar dapat diterima oleh semua kalangan(Sebagian menganggap tulisan singkat di dunia maya sebagai AL4Y). Redaksinya penulis usahakan seasli mungkin, ada beberpa yang sulit terbaca, rumpang atau yang lain penulis lengkapi dengan tanda kurung. Maka untuk susuran kata dan pendalaman makna di anggap pembaca kurang bagus, harap di maklumi karena ini kebanyakan tulisan anak SMA yang dahulu belajar untuk berkontemplasi. Kalau ada yang di rasa bagus dan layak untuk di adaptasi sepatutnya jangan ditelan bulat-bulat perlu penggalian lagi.

Penulis juga menuliskan sumber atau cara penulis mendapatkan SMS. Sebisa mungkin penulis memaparkan sumber utama. Mungkin ada yang mendapat dengan tanggal lebih lama, sumber yang lebih valid atau merasa itu tulisannya harap di maklumi karena dunia SMS kebanyakan berkembang secara berantai, menjadi sulit untuk melacak siapa penulis pertamanya.

Penulis merunutkan SMS yang dipaparkan berdasarkan subjektifitas penulis, bukan kronlogis waktu.
Keriteria penilaian, SMS yang memiliki pesan positif, mampu menggugah pembaca, padat dan singkat. Keriteria bukan berarti keharusan semua tulisan memiliki. Ada tulisan yang hanya memenuhi satu keriteria, perunutan menurut hemat penulis yang paling lengkap memenuhi seluruh keriteria.

Ada pun tema besar yang penulis angkat:






tema yang lain sebenarnya ada, hanya ini transformasi dari SMS ke dalam buku kemudian ke dalam file lalu ke dunia maya. Tema lain sebagian masih di handphone penulis. Ada pun SMS topografi dengan bentuk-bentuk unik belum bisa penulis paparkan karena keterbatasan. Mungkin bisa di cari dalam buku yang memuat SMS topografi karakter.

Jika ada masukan penulis persilahkan, atau jika ingin konsep SMS penulis muat, silahkan SMS ke nomer yang ada di profil Facebook penulis. Jika tulisannya menurut penulis bagus insya Allah akan penulis muat. Terahir semoga tulisan ini bisa bertahan lama dan berguna untuk semuanya, semoga bermanfaat.

Banyak penulis-penulis  yang memiliki potensi luar biasa yang takut untuk menampilkan tulisannya di publik, padahal jika dikembangkan terus bakat menulisnya akan menjadi luar biasa. Alasan yang sering digunakan diantaranya karena takut tulisannya akan dinilai jelek, sehingga memilih tulisannya di simpan di bawah tilam, dan sekedar menjadi catatan pribadi. Perlu di pahami, kita hidup kesempatan untuk medulang pahala, salah satunya melalui tulisan. Umur tulisan bisa lebih panjang dari orangnya, bahkan bisa sampai akhir zaman. Maka bisa menjadi amalan jariyah dan akan memberi kontribusi tidak sedikit  untuk investasi akhirat.

Semua butuh ikhtiar dan kembali kepada kehedak Allah. Tidak bisa kita berharap seperti kisah kolosal: catatan hidup kita akan dibaca setelah kita meninggal. Kemudian di publikasikan dan menjadi pembicaraan banyak orang. Itu yang sering kita dapatkan dibebeberapa kisah suatu tokoh pergerekan atau pemikir. Namun perlu kita pahami, manusia boleh berangan-angan menyusun rencana hebat, tetapi ketetapan Allahlah yang akan menentukan segalanya. Dapat saja Alllah berkehendak lain, tulisan kita tidak ditemukan atau mungkin ada kejadian yang menyebabkan tulisan kita hilang, semisal terbakar atau hnyut terbawa banjir misalnya.


Umur tulisan yang beredar pun tidak ada yang tahu, dapat saja Allah mencabut ingatan dari semua orang yang pernah menyerap ilmu kita. Sedangkan penulis yang masih hidup pun punya ancaman untuk hilang ingatan. Maka sepatutnya kita jangan takabur dan sombong, dengan mereka-reka tulisan kita akan dikenang(itu pun kalau tulisan Anda bagus dan menggugah), sedang tidak pernah ada upaya untuk menampilkan tulisan-tulisan kita di depan umum. Entah bagaimana kehendak Allah setelah kita meninggal terhadap tulisan kita, kita tetap berusaha membuat tulisan sebaik mungkin, dan menyungguhkan kepada pembaca dengan pelajaran sebermakna mungkin. Sehingga apapun kehendaknya, kita telah memanfaatkan hidup untuk beramal kebaikan dengan memaksimalkan kemampuan menulis. Jika ada tulisan dengan kata mutiara namun tidak pernah disebarkan tentu tidak memberi manfaat bagi orang lain. berbeda dengan tulisan semumpama sebongkah permata yang belum di gosok. Mesti tak seterang sinar mutiara namun berlahan demi berlahan kilaunya memberi manfaat hingga titik akhir yang tidak di duga. Bahkan memiliki pontensi bersinar lebih terang.

Maka dari itu sangat banyak sekali manfaat kita menampilkan tulisan kepada orang lain. Paradigma salah yang beranggapan membuat tulisan harus sekali bagus, sehingga takut untuk dikeritik harus  kita buang jauh. Perlu kita ketahui bahwa tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dan kekurangan, manusia juga gudangnya lupa. Ada kesalahan yang dia tahu namun terlupakan, di sinilah fungsi keritikan dari pembaca untuk penulis. Manusia yang baik bukan manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi manusia yang yang mau memperbaiki kesalahan,dari sinilah penulis akan mengetahui di mana letak kekurangan dan keunggulannya. Kuncinya terus belajar dan ingat, jangan patah arang dengan keritikan orang lain. Selagi mengingatkan sesama dalam kebaikan, patut kita dengarkan keritikan orang tersebut. Kuncinya tanggung jawab, misal ada yang mengatakan tulisan Anda jelek. Jangan berhenti begitu saja, minta orang tersebut di mana letak jeleknya, berlebihan, atau kekurangannya. Justeru ketika kita sering dikeritik, mendapa pujian terasa hambar. Apa lagi cuman bilang “bagus”, pujian yang bagus sebagimana keritikan yang bagus, di mana pembaca mampu menunjukan letak bagus tulisan Anda.
Banyak hal yang tidak kita ketahui, dan banyak hal yang kita ketahui tetapi sering kita abaikan. Salah satu membuka ketidak tahuan tersebut dengan membuka diri kepada orang lain dalam hal keritik, saran dan masukan. Karenatulisan media belajar untuk menyampaikan pesan serta komunikasi lintas zaman.  Dengan menyebar luaskan pemikiran kita, harapanya mempermudah generasi setelah kita dalam menyelami ilmu. Sehingga ilmu kita akan terus berkembang, karena ada yang mengembangkan.

Hal yang perlu Anda ingat ketika menerima banyak masukan bahwa: penulis yang baik  bukan hanya ingin menerima masukan saja, namun mau terbuka memberi masukan kepada penulis yang lain. Memahami proses belajar orang lain, tidak merendahkan karena waktu kematangan sesorang berbeda. Jika merasa masih belajar, anggaplah belajar berbagi. Jika kita tak pernah memberi saran dan masukan, sebuah hal mengherankan. Setidaknya masukan ketika Anda mampu menghadapi kesulitan.  Inilah fungsi ingat mengingatkan, baik materi tulisan kepada pembaca, atau apresiasi sesama penulis. Adapun empat hal manfaat ketika kita menerima keritikan, saran dan masukan dari pembaca:

1.      Mengasah Kempuan
Penulis yang mendapat keritikan dia akan tahu letak kelemahan dan kekurangannya, sehingga mengetahui mana yang akan diperbaiki. Penulis yang mendapat apresiasi positif juga akan mengetahui kelebiha serta karakter yang dimiliki, sehingga bisa mengetahui sisi yang harus dikembangkan dan dipertahankan. Ketika siap untuk di keritik, maka akan banyak masukan dari pembaca sehingga muncul saran-saran untuk tulisan selanjutnya yang lebih baik.

2.      Umpan Balik
Penulis menginginkan tulisannya mudah dipahami pembaca dan dapat diterima. Ketika tulisannya di publikasikan maka dia akan tahu bagian-bagian yang memiliki kelemahan yang sukar dipahami pembaca. Penulis akan tahu bagian yang perlu dikembangkan serta mengetahui bagian tulisan yang perlu pembahasan khusus.

3.      Validasi Isi
Pembaca melalui kolom komentar terkadang memberi penguatan terhadap materi tulisan Anda. Maka ini dapat menjadi validasi isi tulisannya. Atau penulis lain yang meminta referensi dari tulisan Anda, maka Anda akan terdorong untuk menelaah sumber yang lebih akurat.

4.      Transfer Ilmu
Seperti saya jelaskan sebelumnya, menulis menjadi kesempatan Anda menyalurkan pemikiran Anda. Meneransfer ilmu yang Anda miliki sekaligus untuk menambah ilmu. Akan terjadi komunikasi dan interaksi dengan pembaca membahas persoalan yang Anda ajukan.

5.      Pengembangan
Ketika tulisan Anda diajukan kepembaca, Anda akan mengetahui corak tulisan, isi pesan, gaya tulisan yang Anda miliki. Anda akan lebih fokus dalam suatu tema atau membuat Anda lebih mengesploriaritasi kemampuan menulis ke tema-tema yang lain. Sebagai pembelajaran, perlu ada hal baru dalam tulisan Anda. Terutama bagian-bagian yang telah menemukan titik jemu perlu penyegaran dalam tulisan Anda. Baik jenis pesan, jenis tulisan, gaya bahasa, sudut pandang atau yang lain.
Inilah kelima manfaat yang saya ajukan kepada kawan-kawan dan kelima manfaat ini Alhamdullilah sudah saya rasakan. Semoga dapat memotivasi para penulis untuk berani menampilkan tulisannya di publik. Namun bagaimana pun masih ada yang gamang ketika akan menampilkan tulisan di ranah publik, maka ada beberpa tips siap mengajukan tulisan yang perlu kawan-kawan diketahui:

1.      Periksa Ejaan
 Pertama ketika sebelum diterbitkan, perhatikan ejaan tulisan. Usahakan jangan sampai ada yang salah ejaan, baik yang salah ketik atau kata tidak baku(kecuali istilah ilmiyah asing yang diberi keterangan). karena cukup menjengkelkan, jika bukan isi yang dikeritik melainkan cara penulisan, terlebih banyak yang salah ketik. Perlu dipahami, karena inilah yang menggangu mata baca pembaca.

2.      Siapkan Tulisan Dengan Matang
Baca tulisan berulang-ulang, pastikan satu padu antar kalimat di dalam paragraf, serta antar paragraf yang satu dengan yang lain. Serta susunan tulisanya lengkap, kata pendahuluan, ada pemaparan masalah, analisis masalah juga kesimpulan. Sekalipun tulisannya sedikit hal-hal tersebut cukup penting. kalau tidak ada kesimpulan tentu pembaca akan kebingungan mau di bawa kemana oleh penuis.

3.      Referensi
Anda perlu memperhatian jenis tulisan, jika mengarah pada tulisan ilmiyah maka perlu mepersiapkan referensi. Kalau perlu di dalam tulisan atau disiapkan saja jika bentuknya opini. Perlu Anda ingat, tulisan yang beropini berdasarkan opini orang lain jika referensinya memadai lebih mudah dari prosa mengarang bebas. Kita tinggal mencatut pendapat-pendapat kemudian disimpulkan. Terlebih referensinya melimpah, maka mudah sekali membuat tulisan panjang. Tantangan terberat dalam karya ilmiyah ketika tulisan tersebut harus penulis buktikan lewat penelitian jika hendak di paparkan.

Demikian menulis semakin membuat kita membuka diri, terbuka dengan orang lain untuk menerima keritik saran, saling memberi dan bertukar informasi. Serta mendorong seorang penulis menghargai penulis lainnya. semoga dapat di ambil manfaatnya tulisan ini oleh pembaca, serta manfaat yang penulis paparkan mendorong rekan-rekan sekalian untuk terus semangat menulis.

02 januari 2014