Senin, 24 November 2014


Bagi sebagian besar kita akan memberontak dengan judul di atas. Kita sudah sekian lama terkungkun dengan mitos lama tanpa rasa keritis untuk mencari keronologis yang sebenarnya. Bahkan ada aknedot bahwa negara kita tidak dijajah selama 350 tahun bisa jadi lebih. Apalagi saat ini belum berdaulat secara penuh dari intervensi asing. Satu sisi di jajah selama 350 menunjukan kekuatan suatu bangsa tabah dalam memperjuangkan kemerdekaan tapi di sisi lain dapat diartikan betapa peradapan kita sangat tertinggal dengan bangsa lain. Maka benarkah kita di jajah Belanda selam 350 tahun?

 Pertanyaan di atas jika dijawab secara ilmiah maka memerlukan pembutian yang jelas. Bukan sekadar kata Bu Guru/Pak Guru. Kalau dari buku harus berdasarkan uraian keronologis bukan cuman narasi. Lebih beratnya lagi harus ada bukti sejarah. Pertanyaan sederhana tetapi jawabannya tak sesederhana yang kita bayangkan. Kali ini saya sekadar berbagi wawasan, mengingat latar belakang saya konsentrasi ke pelajaran ekonomi makan catatan ini sekadar resume untuk berbagai wawasan dengan kawan-kawan. Alhamdulillah, saya pernah konsultasi dengan anak pendidikan sejarah mengaminkan informasi yang saya dapat.

Saya mulai dari mempertanyakan titik awal penentuan awal 350 tahun penjajahan Belanda atas Indonesia. Ini saja  tidak jelas apakah dari awal kedatangan  Belanda, awal berdirinya VOC, tanah pertama ditaklukan, atau awal pemerintahan Hindia-Belanda terbentuk.

Titik akhir angka 350 tahun juga perlu ditelusuri, apakah 17 agustus 1945 tahun kemerdekaan yang diterjemahkan akhir dari penjajahan Belanda dan Jepang. Atau berakhirnya agresi militer Belanda II. Atau yang lain? Semisal kita sepakat 17 Agustus 1945, ini akan kita temukan keganjalan.

Bangsa asing pertama yang menginjakkan kaki di Nusantara menurut catatan sejarah adalah bangsa Portugis di Malaka, tahun 1511, sedang Belanda datang kemudian di akhir abad 16. (http://teddytedja.wordpress.com/). Setelah menguasai Malaka selanjutnya Portugis  meninggalkan Malaka menuju kawasan Indonesia Timur. Sedangkan Belanda pertama kali datang tidak dapat berbuat banyak. Berbeda dengan Portugis yang sempat mengobrak-abrik Malaka.

Pada tahun 1595 Linscoten berhasil menemukan tempat-tempat di Pulau Jawa yang bebas dari tangan Portugis dan banyak menghasilkan rempah-rempah untuk diperdagangkan,Peta yang dibuat oleh Linscoten diberi nama Interatio yang artinya keadaan di dalam atau situasi di Indonesia. (www.iskandarberkasta-sudra.blogspot.com/ ).
Secara kasar memang 1945-1595= 350. Tapi tidak logis, selain 1945 Indonesia merdeka dari Jepang bukan dari Belanda. Sebab faktanya tanggal 9 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Penyerahan di Kalijati, Subang, Jabar. ( http://sarahhblogg.wordpress.com/2013/02/06/tugas-kedatangan-belanda-dan-jepang-ke-indonesia/)

Mungkin awal kedatangan Belanda dikurangi tahun kemerdekaan yang dijadikan asumsi. Sementara kita tahu, kita memproklamirkan kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Bukan Belanda karena Belanda telah diusir Jepang. Namun angka 1945 saya gunakan mempermudah saja. Kalau teman tidak mentoleril, harus angka 1942 maka cukup sampai di sini, bahwa Indonesia gak dijajah Belanda 350 tahun.
Mari kita lanjutkan logika kedatangan Belanda. Kedatangan Belanda diusir penduduk pesisir Banten karena mereka bersikap kasar dan sombong. Belanda datang lagi ke Indonesia dipimpin Jacob van Heck pada tahun 1598. (bataviadigital.pnri.go.id/).

Sangat tidak logis, jika pertama menginjakkan kaki lansung semua takluk di bawah kendali Belanda. Jusreru tahun yang diasumsikan sebagai titik tolak kedatangan Belanda ternyata Belanda tidak dapat berbuat banyak, diusir karena pongah. Kemudian datang dengan keramahan, tentu juga bukan awal penjajahan.

Ditambah pada masa itu Kesultanan-kesultanan di Nusantara sedang mengaami puncak keemasan. Seperti Mataram, Goa-Talo, Aceh dll (lengakapnaya lihat http://heart.okwave.com/notes/478/id). Kemudian ditambah lagi bahwa kedatangan awal dilakukan pihak swasta, bukan secara formal Yuridis pemerintahan Belanda. VOC hubunganya dengan Kerajaan Belanda bukan kelembagaan formal horisontal. Namun vertikal, antara swasta dan negeri.

 Keberhasilan ekspedisi-ekspedisi Belanda dalam mengadakan perdagangan rempah-rempah mendorong pengusaha-pengusaha Belanda yang lainnya untuk berdagang ke Nusantara.Diantara mereka terjadi persaingan. Di samping itu mereka harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol dan Inggris.Akibatnya mereka saling menderita kerugian, lebih lebih dengan sering terjadinya perampokan perampokan oleh bajak laut.9(iskandarberkasta-sudra.blogspot.com)

Atas prakarsa dari 2 orang tokoh Belanda yaitu Pangeran Maurits dan Johan van Olden Barnevelt pada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi dagang besar yang diberinama VOC (Verenigde Oost Indesche Compagnie ) atau ‘Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur’, pengurus pusat VOC terdiri dari 17 orang. VOC membuka kantor pertamanya di Banten yang dikepalai oleh Francois Witter .(iskandarberkasta-sudra.blogspot.com).

Jadi tanggal 1602 VOC didirikan. Karena mengalaim banyak kemunduran maka VOC dibubarkan dan diambil alih Pemerintahan Belanda. 

Januari 1800 – VOC secara resmi dibubarkan, didirikan Dewan untuk urusan jajahan Asia. Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis. Wilayah-wilayah yang dimiliki Belanda menjadi milik Perancis. (http://saripedia.wordpress.com/tag/bubarnya-voc/)

Jadi antara 1602 hingga 1800 jajahan yang di atas namakan Kerajaan Belanda masih dalam kendali swasta(VOC). 1945-1800= 145. Berkurang sangat derastis bukan. Bukan 3,5 abad tapi 1,5 abad tidak genap. Kita lanjutkan, seperti yang ditulis pada kutipan di atas, Bahwa waktu itu Belanda ditaklukan Perancis, maka waktu itu secara real, Hindia-Belanda dikuasai Perancis. Orang Belanda di Indonesia merupakan kaki tangan Perancis. Matap bukan ternyata Belanda juga pernah dijajah? Bisa jadi Belanda mencari jajahan untuk biaya perjuangan kemerdekaan bangsanya dan memakmurkan negaranya.

Louis Napoleon sebagai penguasa negeri Belanda pada saat itu, mengangkat Herman Willem Daendels (1808) sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda. Tugas utama Daendels adalah mempertahankan pulau Jawa dari ancaman Inggris dan mengatur pemerintahan di Indonesia. (buihkata.blogspot.com).

 Daendels dikritik karena dianggap telah melakukan tindakan kejam dan penyimpangan dalam bentuk menjual tanah milik negara kepada pihak swasta. Akhirnya, pada tahun 1811, Herman Willem Daendels digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens. (buihkata.blogspot.com).

Maka dapat dikatakan masa Daendels tidak dapat dijadikan titik tolak awal penjajahan Belanda. Menariknya, setelah berakhirnya Daendels, berakhir pula kedudukan Perancis di Hidia-Belanda dan masuk awal kolonialisme Inggeris. Hal ini sering terlupakan meskipun dalam buku teks sejarah pelajaran maupun populer tertera. Lihat saja Indonesia di Bawah Pemerintahan Inggris (Raffles 1811-1816) (http://www.plengdut.com/2012/10/indonesia-di-bawah-pemerintahan-inggris.html)

Baru setelah ini Kerajaan Belanda turun tangan mengurusi permasalahan Hindia-Belanda. Uniknya bukan peperangan Belanda dengan Inggeris untuk merebutkan Hindia-Belanda. Tetapi Inggeris menjadikan Hindia-Belanda kado kepada Belanda, sebagai pemenuhan janji lantaran Belanda membantu Inggeris melawan Perancis. Gak maco banget. Jadi kalau kita gunakan 1816 sebagai awal penjajahan Belanda maka kita terjajah sekitar seabat lebih 29 tahun (1945-1816= 129).

Situasi di Indonesia tidak dapat terlepas dari situasi di Eropa. Setelah negara Koalisi berhasil mengalahkan Prancis (Napoleon Bonaparte) dalam Bettle of the Nation di Leipzig (1813), kemudian mengadakan kongres di Wina. Berdasarkan Kongres Wina tahun 1814, Belanda menjadi negara merdeka. Selanjutnya berdasarkan Konvensi London (antara Inggris-Belanda 1814), Belanda menerima tanah jajahannya kembali yang diserahkan kepada Inggris berdasarkan Kapitulasi Tuntang (1811). Penyerahan Indonesia dari pihak Inggris kepada Belanda terealisir pada tahun 1816, pihak Inggris diwakili oleh John Vendall, sedangkan di pihak Belanda oleh tiga orang Komisaris Jenderal yakni Elout, Buyskes, dan Van der Capellen. (http://www.plengdut.com/2012/10/indonesia-di-bawah-pemerintahan-inggris.html).

Lalu jadi pertanyaan mengapa Belanda menjajah negara kita dan ingin kembali menjajah?(Terbukti dengan adanya agresi militer Belanda I dan II serta baru-baru ini mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat). Anda tahu Belanda itu negara tandus, miskin, dan katrok. Daratan saja hampir tidak punya kalau tidak mengeringkan laut. Maka ketika melihat tanah yang subur menjadi rakus. Terjadilah tanam paksa dan kerja rodi untuk membangun negaranya.

Menariknya lagi, Belanda tidak langsung menguasai sepenuhnya Indonesia. Ada Perlawanan sengit bertahun-tahun dari aceh. Belum Perang Dipenogoro, Perang Paderi, dan Perlawanan di daerah lain setelah tahun 1811. Selama perang Belanda tentu tak langsung dapat dengan mudah menjamah bumi Indonesia. Sampai sini dulu, lain kali dilanjut atau kalau penasaran tanya Sejarawan atau buka buku sejarah. Kalian runut taun-taun di atas. Semoga resume ini bermakna dan berguna bagi wawwasan kita semua.

SUMBER BACAAN:

http://heart.okwave.com/notes/478/id
http://iskandarberkasta-sudra.blogspot.com/2011/02/kedatangan-belanda-ke-indonesia.html
















Senin, 13 Oktober 2014


MENGIKAT INSPIRASI

 Oleh: Wahid Muslim (Barep Pangestu)

          Inspirasi pertama yang segera dituangkan ke dalam tulisan akan memudahkan pengoreksian pada suatu tulisan. Sehingga ketika saat pengetikan ulang ternyata didapati tuisan tersebut kurang menarik, dapat kita kembalikan ke ide awal(yang dituangkan ke dalam tulisan). Jadi  kita menjadi lebih selektif dan terikat kata pemaknaan. Hakikatnya ide yang muncul melalui inspirasi tidak akan hilang, namun terkadang kembali dengan bahasa yang berbeda.
          Penulis pernah mengalami, mendapatkan suatu gagasan, langsung penulis tuangkan. Namun beberapa waktu kemudian penulis lupa menaruh catatan tersebut, namun sedang sangat perlu untuk mengemukakan ide tersebut. Hasilnya ketika catatan tersebut ditemukan penulis dapati bahasa yang berbeda, kadang lebih mengena yang pertama. Tak jarang tulisan kedua melebar dengan gagasan baru. Intinya inspirasi dapat mengendap(semakin kuat), atau sedkit melemah daya kekuatannya.
Apa pun itu, inspirasi akan terus tumbuh dan berkembang mengikuti siklus tema gagasan. Terkadang kita menjadi kebingungan dengan banyaknya inspirasi yang berseliweran. Sebenarnya kita mampu dengan muda menangkap semua gagasan yang berseliweran tersenbut. Di antaranya tips untuk mengikat inspirasi adalah dengan menulis kata kunci inspirasi-inspirasi tersebut pada alat apapun yang bisa untuk ditulis saat itu juga.
          Misalnya dengan handphone, karena terkadang suatu kondisi yang yang tak memungkinkan kita untuk menulis panjang. Alternatif lain selain handphone adalah buku pegangan atau selembar kertas, jika tidak juga memungkinkan dapat dilakukan dengan membuat asosiasi terhadap inspirasi yang kita dapat. Salah satu caranya dengan memutar ulang berkali-kali dalam benak dan mengucap dalam hati hingga mudah untuk diungkapkan. Saran saya tidak mencoret pada meja, kursi dan tembok dan semua yang telah menjadi fasilitas umum. Seorang penulis yang bijak memperhatikan norma, seni, dan aturan.
Intinya gunakan alat tulis peribadi,  jika tak sempat gunakan pengasosiasan kata kunci ide-ide yang Anda dapatkan. Akan tetapi saran saya ketika muncul gagasan baru tersebut memungkinkan mampu ditulis secara lengkap dalam suatu media maka sepatutnya suatu gagasan tersebut segera dituangkan. Kalau mampu dipercepat maka tak perlu untuk memperlambat. Keutamaannya segera menulis secara lengkap, dapat memikirkan tahapan selanjutnya berupa evaluasi kritis, pengembangan, revisi redaksi maupun pendalaman makna, serta segera memvalidasi dan mengkorelasikan dengan ide lain.




A.    HINDARI IDE PREMATUR

Ciri munculnya inspirasi saat kita melihat, mendengar, atau merasakan suatu fenomena kita tergugah dan menemukan sesuatu hal yang menurut kita baru, atau Anda menemukan jawaban yang Anda cari selama ini. Sehingga muncul sebuah dorongan kuat untuk mengungkapkan sesuatu lewat tulisan atau perkataan. Itulah inspirasi ilhami.
Namun apa bila ide yang Anda dapatkan berupa awan-awang tentang gagasan dan pemikiran, maka dapat dikatakan ide ini masih prematur. Namanya inspirasi satu gagasan utuh, minimal untaian kalimat. Jika masih masih samar, maka perlu diendapkan dan dicari ide-ide yang lain. Salah satunya dengan menyelami ide yang akan Anda tuangkan, mulai tahapan awal, tengah dan akhir. Terus Anda renungkan hingga ide tersebut menjadi matang.

B.     KEHILANGAN INSIRASI YANG DATANG
Sesekali kita perlu mengendapkan ide dan gagasan, namun tak jarang juga ada beberapa ide yang sulit untuk terungkapkan. Bahasa umumnya hilang gagasan, ketika sulit mengungkapkan suatu ide dalam sebuah tulisan. Kuncinya jeda dengan berpikir tenang. Uraikan yang akan dipikirkan, perlahan demi perlahan ide akan muncul. Maka sesegera mungkin akan muncul ide tersebut. Jangan terlalu memaksa mengingat gagasan yang hilang, semakin dipaksa akan semakin sulit teringat. Berusahalah buat susasana hati dan pikiraan tenang, saat kondisi tertekan kemudian teralihkan dalam pikiran tenang biasanya gagasan akan mudah muncul.
Jika And sudah belum juga mampu mengungkapkan suatu ide dan gagasan, tenanglah ada Allah Yang Menguasai Segala Ilmu dan memegan kunci segala pengetahuan, Insya Allah tidak akan hilang  dan akan terjaga  gagasan tersebut.  Ketika saat ini belum mengingat gagasan tersebut ketika ada kata kunci yang memicu pada saat yang lain ide tersebut akan kembali muncul. Apalagi jika muncul pada gagasan baru kadang kala akan membentuk rangkain baru dalam suatu gagasan baru yang lebih tangguh. Ketika kumpulan gagasan-gagasan yang relevan lama yang belum diungkapkan ketika muncul bersamaan akan saling melengkapi dan membentuk susunan gagasan yang lebih baik.
Perlu diingat juga melakukan penyelarasan antara gerak pikiran dan gerak pena. Ketenangan perlu dijaga karena ini yang akan memunculkan keselarasan. Sebaliknya ketergesaan akan cepat membuat goresan pena mengalami kemandekan sehingga akan membuat hilangnya suatu inspirasi pmikiran. Cara kerja pikiran menangkap inspirasi terkadang dengan bahasa seadanya, maka perlu jeda sejenak biarkan pikiran menyusun kata-kata yang indah, kemudian pena perlu secara perlahan menuliskan kata demi kata secara cermat. Terkadang tulisan kurang jelas atau salah pengetikan kata akaibat terlalu cepat. Maka tetap perlu mengevaluasi dengan membaca ulang.



C.    MENUMBUHKAN INSPIRASI DAN GAGASAN
Inspirasi seringkali muncul kondisional, seperti ilham kata orang. Jadi perlu sedapat mungkin merekam inspirasi atau dengan kata lain menerbitakan inspirasi dalam catatan, rekaman, secara elekrik maupun konvensional. Ketika tidak ada inspirasi digunakan untuk mengkritisi karya dari inspirasi lama, apa lagi yang masih sangat perlu diperbaiki. Minimal memperbaiki redaksi. Hal ini akan mendorong inspirasi kembali muncul. Namun bukan berarti kita hanya menunggu datangnya inspirasi, kita perlu menyiapkan diri, menyambut dan menempatkan ispirasi secara baik.
Seperti tamu agung, jauh sebelum datangnya inspirasi perlu melakukan bergai persiapan. Di antaranya berpikir tenang, mencari kata kunci, dan mendalami gagasan. Kemudian menyambut dengan senang hati, bukan  dengan ketergesaan yang membuat inspirasi enggan tertarik untuk hinggap. Kemudian menyambut pada tempat yang “baik”. Tempat penuangan gagasan yang baik adalah yang mampu menampilkan gagasan secara utuh.
Inspirasi terkadang mengalir deras, bahkan muncul seharian ketika kondisi tenang. Inspirasi menulis itu dapat muncul dari setiap segala sesuatu yang kita pandang dengan atau/tidak dikaitkan terhadap terhadap hal lain. Semuanya dapat menjadi inspirasi(pelajaran). Sekali lagi ketenangan, kedamaian, dan semua kondisi yang menyenangkan ternyata merupakan cobaan di dunia ini, yang terkadang  seseorang lupa, merasa tuntas dari cobaan.  Misalnya ketika shalat munculah inspirasi, jadi mengurangi kekhusukan bukan?
Setiap ada percakapan yang menarik dari SMS Inspiratif, segera disimpan dalam folder khusus agar mudah mencarinya. Bukan yang dari kotak masuk tetepi yang dari berita terkirim(tulisan Anda sendiri) karena orosinil dari pemikiran sendiri. Karena inspirasi atau ide itu kadang muncul ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. atau merenung mngomentari sesuatu, muncullah ide “aha”untuk menulis.
       Menulis melalui kertas dengan mengetik melalui media elektronik memiliki sensasi  yang berbeda. Menulis lewat kertas terkadang perlu melakukan revisi lewat penulisan ulang dengan kertas, sedang melalui media elektronik lebih mudah melakukan evaluasi namun rawan salah ketik huruf. Melalui kertas lebih berhati-hati dan mengalir. Keungulan dari mengetik melalui media elektronik atau perangkat lunak memungkinkan lebih cepat diterbitkan dan diduplikasi. Peluangnya juga lebih luas dari berbagai sarana di dunia maya hingga ke dalam cetakan, serta lebih mudah dibaca masyarakat umum sehingga mudah untuk mentransfer pemikiran sedang dalam tulisan kertas ada kendala tulisan sulit terbaca dan penggandaan (dapat melalui foto copy namu ada resiko tulisan menjadi buram).  Tetapi dalam kondisi tertentu menulis melalui kertas memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan lainnya mudah membuktikan keontetikan tulisan penulis lewat melihat tulisan. Melalui elektronik hambatanya virus, terhapus, atau kehacker. Maka sedapat mungkin melakukan penggandaan untuk meminimalisir resiko tersebut.
Menuangkan pemikiran kedalam tulisan memerlukan kepiawaian untuk mendeskripsikan segala yang ditangkap pikiran. Semakin jernih pendeskripsian semakin jelas untuk dipahami  dan bermakna mendalam. Sehingga mengikat inspirasi berarti menuangkan gagasab ke dalam tulisan, sebagai perekam pengingat dan penyebaran kepada khalayak.


Selasa, 09 September 2014


     Ketika kita hendak membuat cerita, hendaknya terlebih dahulu gali inti dari cerita yang akan Anda buat. Inti (esensi) dari cerita adalah cerita(narasi) itu sendiri. Di dalam cerita ada rangkaian kata. di dalam rangkaian kata ada hikmah, pesan, pemikiran dan perasaan yang dimiliki penulis. Selanjutnya saya sebut sebagai jantung narasi. Tanpa Jantung narasi cerita yang ditawarkan sama saja kita menyodorkan makanan tidak bergisi, sampah nutrisi kepada pembaca. Agar rangkaian kata tersebut mampu memancarkan hikmah, maka perlu pemilihan kata yang tepat sehingga membentuk rangkaian kata yang indah, mengugah, menyentuh atau membangkitkan emosional sesuai yang di harapkan penulis.

    Kemudian agar pesan-pesan penulis tersampaikan, maka perlu pengaturan alur yang tepat. Semenarik mungkin yang membangkitkan gairah pembaca--rasa penasaran untuk terus membaca, serta ada rasa kepuasan atau ketidak puasan--sesuai tujuan penulis dan jenis cerita. Jika cerpen tak masalah menimbulkan ketidak puasan, karena keterbatasan halaman. Namun jika itu novel atau novelet ketidakpuasan akan menjadi bumerang, dengan  timbulnya sikap dari pembaca untuk tidak mau membaca dan menggali lagi karya tersebut. Namun jika rasa ketidakpuasan penulis diolah menjadi rasa penasaran yang ditimbulkan setelah membaca sehingga memunculkan novel kedua dan seterusnya, ini tentunya cukup bagus.

     Kalau cerpen menimbulkan cerpen baru sehingga menjadi cerbung. ketika pada titik kelimaks novel akhir(cerita) harus ada nilai kepuasan. percumah kita mengiring mereka sampai ke dalam berbuku-buku cerita tapi tidak mendapatkan apa-apa. Dan setelahnya melupakan begitu saja atau memberi masukan negatif kepada pembaca baru, nauzubillah. Cerita akhir dari rangkaian-rangkaian cerita yang menimbulkan ketidakpuasan ini disebabkan tidak ada alur berpikir sedari awal untuk membentuk akhir cerita. Atau penulis kehabisan ide untuk membuat cerita baru yang berkaitan dengan cerita awal, maka akan ada pergulatan yang saling membunuh antara cerita awal dengan ide cerita baru. Alangkah baiknya jika kehabisan ide membentuk cerita baru yang berkaitan dengan cerita sebelumnya lebih baik membuat ketertarikan penulis dengan karya-karya kita selanjutnya. Maka produktivitas menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas menjadi tantangan bagi penulis setelah menghasilkan karya yang mendapat respon positif masyarakat.

    Kemudian setelahnya berbicara alur dan latar. Latar ini funsinya memperjelas serta memperindah rangkaian kata. Penulis yang baik memiliki daya imajinasi yang tinggi, daya imajinasi penulis yang baik adalah mampu menyeret daya imajinasi pembaca ke dalam cerita. Pembaca benar-benar masuk ke dalam cerita, sehingga dapat menemukan hikmah, pesan, pemikiran, dan perasaan penulis. Bukan sekedar tahu maksud penulis, namun ikut merasakan, ikut memikirkan, dan ikut merenungkan. sehingga tujuan dari cerita membawa pembaca ke perilaku lebih baik bisa tercapai. Penggambaran latar yang baik dapat berupa kata-kata puitis tentang keadaan alam, pengambaran lingkungan sekitar para tokoh yang bagus, melekatkan dengan suasana hati tokoh, dapat juga dengan deskripsi nakal atau metafora seprampanga. Kalau novel, bagaian demi bagaian latar bagus secara medetail dijelaskan, lebih bagus lagi dengan kata-kata barnas dan menimbulkan asosiasi lingkungan tanpa memboroskan banyak kata.

    Variabel selanjutnya adalah penokohan. agar cerita hidup sesuai dengan realita sekalipun cerita tersebut fiktif, perlu ditampilkan karakter-karakter yang kuat. Jika karakter baik maka pembaca bisa mencontoh menjadi karakter tersebut, jika karakter buruk pembaca bisa merasakan jijik dan ingin menghilangkan karakter tersebut jika ada pada dirinya.

    Maka dalam penokohan dibuat senatural dan realistis pada zamanya, sehingga pembaca bisa meniru atau menghilangkan karakter yang dicontohkan. Percuma buat apa menampilkan karakter yang terlampau imajinatif, hanya menguapkan daya bayang pembaca. Misal sifat kenabian yang begitu sempurna dalam menjaga hati ditampilkan ke dalam suatu tokoh imajinatif, ini hanya sekadar menjadi figuratif dalam cerita, kecuali sekalian memang cerita tentang kenabian justeru bagus. Sebaik apa pun manusia jaman sekarang tentu memiliki sisi buruk, baiknya orang baik jaman sekaran selalu berusaha menghilangkan sisi buruk tersebut. Pembaca yang ingin menjadi baik tentu berharap ditawarkan alaternatif-alternatif menuju kebaikan oleh pembaca.

   Sisi jahat juga seperti itu, jika penjahatnya berwatak Iblis tentu sulit diterima hanya menimbulkan jengkel. permasalahan sekarang banyak orang jahat yang tidak peduli dirinya jahat disebabkan pandangan-pandangannya yang membentuk bahwa dirinya benar, dan baik. di sampin dirnya memiliki sisi-sisi baik sebagai manusia, yang kadang di justifikasi sebagai pembenaran kejahatannya.
pembentukan karakter dapat diperoleh melalui diskripsi narasi, bentuk fisik, pola gerak dan tipologi raut muka. dapat juga melalui cara berbicara dalam obrolan serta cara meresponnya. Melaui nada bicara, reaksi wajah atau gerak tubuh. cara yang lain yang dapat digunakan adalah meraba isi hati tokoh, biasanya dapat dilakukan oleh sudut pandang orang ketiga serba tahu. Ketika semua terangakai dengan baik, maka perlu memilih judul yang kuat, yang mewakili keseluruhan isi, menimbulkan rasa penasaran serta daya tarik. Judul baik biasanya timbul setelah menulis.

   Demikian suatu cerita dalam membuat prosa yang menurut saya bisa diabdosi dalam bentuk tulisan yang lain sesuai dengan kebutuhan. Cerita tanpa pesan seperti saya bilang hanya memberikan sampah kepada pembaca. Dampak selanjutnya pembaca keracunan dengan cerita kita, bukan menjadi baik sesuai diharapkan. hal ini berkaitan dengan tujuan dari penulis itu sendiri, sangat berbahaya jika tidak memiliki tujuan moral.

   Tulisan yang narasinya baik hanya membuat pembaca meraba perasaan penulis dan tidak membuat ikiut merasakan. Tulisan yang alurnya baik, hanya menyihir penulis ke dalam jalan cerita yang memukau tanpa tahu dan bisa memetik hikhah dari suatu tulisan. Tulisan jenis ini jika pembaca ditanya “kenapa kamu baca tulisan itu?” maka jawabanya hanya “senang saja!” wajar pembaca menjawab seperti itu dapat saja penulisnya juga menjawab “senang saja menulis”. Jadi tulisan bukan saja alat meunangkan perasaan, tetapi media untuk mengantarkan pemikiran, cita-cita luhur serta pesan nurani yang murni. Sehingga sampai akhir zaman jika tulisan tersebut masih ada selalu ada mutiara yang dapat di amabil ketika pembaca menggali tulisan. Tulisan yang baik bukan sekadar dibaca pembaca, namun mampu dikenang dalam lintas zaman dan generasi. Pembaca akan membentuk kontekstualisasi tulisan kita, walau banyak teks yang tidak relevan lagi namun yang namanya mutiara hikmah berbentuk apapun narasi, alur, cerita bahkan zamannya akan terus bersinar dan memberi keteduhan ketika melakukan kontak dengan manusia yang masih memiliki nurani murni.

****

Barep Pangestu 02 Januari 2014

Like juga halaman saya  https://www.facebook.com/pages/Wahid-Muslim/314332858733209?fref=ts

Selasa, 20 Mei 2014




Puisi naratif dan cerita pendek seperti memiliki pesona saling terikat. Tak jarang cerpenis menulis puisi naratif yang apik. Atau penyair "selingkuh" berkarya membuat prosa liris, puisi prosa(atau prosa puisi barang kali). Hal ini wajar karena keindahan keduanya terletak pada, alur, latar, penokohan, dan? Lain-lain :D .

Permasalahan yang timbul biasanya dalam hal masalah kedetailan cerita. Kok gak ada kepiting? Kok bibir laut gak ada pasir? Kok ini, kok itu, serta banyak lagi "kokok-kokok" lainnya yang buat kita semua kesal(yang keritik kesal, yang dikeritik juga). Untuk itu harus kita pahami bahwa ketidakdetailan cerita ada beberapa penyebabnya. Salah satunya:


1. Jika cerita itu berangkat dari kisah yang benar-benar nyata bisa saja memang adanya seperti itu. Maka kalau gak ada diada-adakan itu namanya mengada-ada(untuk ukuran fakta).

2. Kalau memang seharusnya ada(kisah nyata) maka ini kekurang telitian atau kurang peka penulis terhadap objek yang ia lihat. Bisa saja menganggap kurang penting, padahal penting untuk menimbulkan kesan. Atau ketidakmampuan memadatkan cerita. Sehingga yang harus dijaga justru terbuang.

3. Jika kisah fiksi, maka ini kelemahan daya jangkau penulis. Penulis masih tanggung-tanggung merenungkan hayalannya.

4. Kita pembaca yang belum bisa menjangkau keunikan/keindahan tulisan tersebut.

Maka empat hal ini harus kita pahami, sebelum "melempar" tuduhan kepada penulis. Memang jika kita memasuki genre tulisan fiksi semakin kabur batasan fakta dan fiksi. Karena dalam karya fiksi, fiksi yang baik seolah fakta. Kisah nyata yang baik dibuat dengan gaya bahasa yang prosaik atau puitis(bahkan sastra tinggi) seolah itu fiksi atau dongeng belaka. Tambah runnyam jika fakta dan hayalan campur-baur demi estetika dan ketersampaian pesan. Banyak kisah fiksi diangkat dari riset, setudi, atau kumulatif pengalaman penulis tapi tetap masuk fiksi karena tidak ada cerita yang diangkat secara persis pernah dialami seseorang dari awal hingga akhir di kehidupan nyata.

Penulis dan pembaca memang harus memahami bumi yang ia pijak, fiksi atau non fiksi. Agar tidak ada standar ganda menerapkan kaidah dan penilaian.  Misalkan begini: "ah gak masuk akal, masak ganti tangan robot sering konslet, ya ganti tangan robot yang baru lagi lah!" Lantas penulis dengan mudahnya menjawab "itukan fiksi!" Contoh lain: "Alur, latar, dan penokohan gak hidup." Lalu dengan entengnya dijawab "itukan kisah nyata, adanya ya seperti itu."

Begini, kalau itu fiksi mengapa tidak sekalian berhayal lebih dalam? Ingat genre fiksi bukan cerita hayalan yang serta merta turun dari langit. Atau hanya cerita bohong dan rekaan, namun keindahan bercerita. Seni membuat yang irasonal seolah rasional atau "bisa masuk akal". Kalau kaidah estetika diterabas maka cerita gak lebih baik dari berita hoax dari SMS, blog, atau brosur. Ingatkan fabel waktu kecil? Itu cerita bohong tapi banyak yang tertipu dari turun-temurun kalau itu kisah nyata. Terlepas dari kontrofersi fabel, mengapa kita tak bisa membuat kisah menarik tentang manusia?

Lalu kalau fakta, buktinya mana? Mana saksinya? Lantas kita akan berargumen, "ini bukan artikel mas Barep!" Maka jelas, prosa entah fakta atau fiksi masuk kelompok genre tulisan fiksi. Maka bukan masalah fakta atau fiksi lagi, namun kedisiplian cerita dan keindahan cerita. Meminjam kaidah ilmu sejarah "bukan hanya apik menjajakan data, namun kepiawaian menyampaikan pesan" maka harusnya prosa yang true story harusnya lebih apik lagi bahasa ceritanya. Kalau tidak, gak akan lebih bagus dari coretan-coretan di gedung tua.

Kembali, keutuhan cerita sangat penting. Bukan soal fiksi atau fakta, namun logis dalam kacamata estetika. Utuh bukan soal klise, mengambang, atau absurd namun alur yang harmonis. Cerita mini, cerita pendek, puisi atau novel bukan soal panjang atau pendek yang harus kita lihat namun efektivitas dan cerita yang bernas.


Pernah terbit melalui Facbook Seluler (Lampung Timur, 5 Mei 2014)