Senin, 13 April 2015



STATEMENT UNTUK MUSLIMAH BERCADAR



Beberapa hari ini saya sering berhadapan dengan hal-hal yang berhubungan dengan cadar. Mulai dari kultum, pesan gambar, setatus, foto, atau semacamnyalah. Hingga membuat saya berpikir mungkin Allah menyuruh saya untuk memberi statement tentang hal tersebut. Statement yang sudah lama ada hanya masih takut diutarakan secara terbuka, tetapi kebenaran itu begitu terbuka. Di mana kebenraran sering dianggap asing, sedang kejahatan sering diwajarkan.

Masalah muslimah yang bercadar saya memiliki empat statement pokok di antaranya:

  1. Mereka Menutup Aurat
Seorang muslimah yang menjunjung nilai keshalehan wajib menutup aurat, jika merasa beriman dan bertakwa terhadap syariat Allah yang disampaikan rasullah. Definisi aurat bagi wanita telah menjadi kesepakatan umat Islam diantaranya seluruh tubuh kecuali bagian muka dan kedua dan tangan (dari pergelangan tangan). Muka dan tangan hal yang mendasar tentunya, masak bercadar tidak memakai kaus kaki, kan lucu(pernah saya temukan, mungkin yang bersangkutan lagi khilaf).

Jadi orang yang tidak menutup aurat(terutama yang mengaku muslim) tak pantas berkomentar tentang cadar, tetapi mesti merenungkan sudah banyak hidayah, peringatan, contoh para artis yang mendapat hidayah kok ya masih belum berhijab. Berjuta dalih ketika masalah ini disodorkan. Ini untuk yang mengaku muslim, lantas bagaimana yang non muslim? Hal yang perlu ditanyakan keimanan, kalau mencak-mencak, ya katakan laa kumdinukum waliadin.


  1. Sempurnakan Ibadah Baru Mengkritik
Bagaimana dengan yang menutup aurat tetapi belum sempurna(masih ada bagian yang terbuka, ketat, dan belum konsisten atau kadang masih dibuka)? Maka benahi dahulu ibadah dan hijabnya, jangan terlalu mengurusi hijab orang lain kalau belum berhijab dengan baik. Terlebih wanita bercadar tersebut tidak mengganggu hidup kita.

Kita sering mengkritik terhadap hal-hal yang kurang penting tetapi melupakan hal-hal yang mendasar. Prinsip utama kita mesti mendekatkan diri kepada Allah, apakah baru sebatas ucapan atau sudah amalan. Bagaimana keajekan dalam beribadah? Hal yang wajib abaikan karena alasannya masih berat, masih kotor, dan berjuta alasan. Sedang hal yang membawa dosa( berperasangka dan menggunjing) menjadi kebiasaan, tak lain karena mengasyikan. Kadang beralasan yang ibadah tekun gak jaminan akan berbuat baik terus(lalu memberi kasus-kasus kusus. Bahkan membanggakan diri yang imannya masih belepotan dan mengajak “gak usah terlalu tekun beribahnya, biasa saja”.

Seseorang yang menilai baik dan buruk berdasarkan peraduga pribadi telah membuat setandar hidup sendiri, bukan Al Quran dan Sunnah yang ia gunakan melainkan hawa nafsu dan bisikan setan. Seseorang yang mengkeritik orang yang konsisten beribadah dan membanggakan serta mengajak agar tak terlalu tekun beribadah ia telah membuat setandar sendiri. Renungkan, apakah dengan sikap semacam ini akan membawa keselamatan? Gairah mendapatkan keridhoan tertinggi(bertemu Allah dengan keridoan di Firdaus)  akibat alam bawah sadar cukup tinggal di emperan neraka, dan menyangka akan beberapa hari di neraka. Ia tak berpikir lama kelamaan menuruti hawa nafsu akan membawanya pada jurang kekekalan dineraka jika pada tataran puncak hawa nafsu dipertuhankan(banyak mengingkari ayat dan kebenaran). Nauzubillah.

  1. Muslimah yang Baik Menjunjung Akhlak Mulia
Sebagian yang lain dikalangan kita ada yang berhijab secara konsisten dan merasa sudah syar’i. Kalau hendak membangun akhlak yang mulia, berkhuznul uzon lebih utama dibanding berperasangka yang macam-macam. Secara umum yang saya pelajari tidak ada ulama yang mengharamkan seorang muslimah bercadar. Perdebatannya antara wajib, sunah dan boleh.

 Kalaulah hukumnya boleh maka kita tidak punya hak melarang, mencemooh, atau menggunjing. Karena itu merupakan kebebasan individu. Orang yang mengumbar aurat saja kita biarkan, mengapa yang bercadar justeru digunjing, apakah lebih berbahaya? Kadang sikap merasa risih tersebut muncul, masih wajar karena tak terbiasa bertemu. Hal yang diingat jangan jadikan untuk tak berinteraksi, kalau kita yang menghidar dahulu berarti kita yang tertutup. Kalau orangnya acuh, mungkin karena bukan mukhrim atau itu karakternya bukan cadarnya. Banyak kok yang bercadar bisa berbaur.

  1. Ensensi Menutup Aurat
Ensensi dari menutup aurat selain bentuk ketaatan dan identitas keislaman adalah sebagai perisai bagi wanita. Pelindung hati(masak berhijab gibah, hasat, dan hasut?), peredam perangai buruk(masak berhijab ingin dugen?), menghindari finah mata lelaki(masak berhijab menampilkan lekuk tubuh?). Mereka yang berhijab secara syar’i disertai dengan pembinaan akhlak khasanah lebih mudah menghindari fitnah dibanding yang berjilbab amburadul. Kebanyakan yang jilbabnya amburadul, suka narsis dan rentan untuk membongkar pasang hijab.

Lalu bukan berarti yang berhijab secara syari tidak rentan oleh fitnah. Masih banyak juga mengundang para kumbang menggoda, apa lagi dia memiliki paras ayu dan supel. Di tambah banyak hal lain yang tidak diperhatikan, misal masalah make up, suara, dan aksesoris. Initinya terlihat semakin cantik. Nah mereka yang menyadari hal ini memilih untuk bercadar. Tantangannya tantangnya lebih berar, bukan hanya cemoohan(itu bisa dianggap angin lalu) tetapi juga sikap alami yang dimiliki wanita untuk tampil cantik, dilihat, dan mendapat pujian.

 Maka mereka patut dikakan sebagai muslimah yang luar biasa. Mereka hanya menampakan kecantikan untuk yang halal terutama untuk suaminya. Coba kita renungkan, wanita yang berusaha berpakaian yang secantik mungkin ia hadirkan untuk siapa? Jika untuk dirinya saja, maka berpeluang akan tumbuhnya benih-benih ujub(kagum terhadap diri sendiri). Kalau untuk mendapat pujian orang lain, bukan hanya ujub ini bisa mengarah pada sikap sombong dan menjadi fitnah bagi lelaki(tidak bisa dielakan zina mata dan zina hati terjadi).

Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tetapi Allah memiliki syariat agar manusia tidak lalai dari tuuan awal mereka kembali dengan mendapat keridhoan-Nya. Keindahan terwujub dalam rangka mendapat pujian Allah, bukan keindahan yang menghantarkan kita atau orang lain tergelincir ke kubangan neraka. Kenyataannya saat ini hallul hawa semakin meraja lela sedang orang-orang beriman yang tsiqoh terasingkan. Banyak pembolak-balikan paradikma, yang indah tetapi hakikatnya salah dianggap sebagai keberagaman dan ekspresi seni. Sedang yang sederhana dan bercahaya sebagai sesesuatu yang buruk dan menakutkan.

Kenyataannya media asing dan sekular cederung menciterakan mereka yang bercadar dan berhijab besar sebagai orang yang fundamental. Ditambah dengan penayangan isteri pelaku pemboman membuat masyarakat tergiring opininya mereka sebagai teroris. Memang saat ini citera wanita berhijab lebar(syar’i) lebih baik tetapi mereka yang bercadar masih mendapat opini miring. Bahkan terkadang  memojokan justeru dari kalangan cendekiawan kita.

Mulai dikatakan sebagai ninja, komentar SARA(menjurus pada kelompok tertentu), orang yang tertutup, tidak mau berbaur, bukan budaya kita, hingga disebut sebagai hantu dan teroris. Saat sudah dicerahkan bahwa masalah radikalisme gak ada kaitannya dengan cadar, yang tidak bercadarpun bisa radikal(radikal liberalnya). Misal dkatakan tdiak ramah, sebagaimana orang yang tidak bercadar pun banyak yang tidak ramah bahkan kasar. Orang bercadar memiliki beragam karakter, ada yang supel bahkan ada yang gemit. Kembali pada masing-masing diri bukan artibut fisik.

Sering diidentikan kelompok tertentu. NU, Jammaah Tabligh, Salafii, LDII bahkan Syiah ada yang bercadar. Jadi cadar bukan berkaitan dengan lebel kelompok tertentu tetapi mereka yang sangat-sangat berusaha menjaga syariat, kehormatan, dan menghindari fitnah. Mereka yang bercadar apapun kelompoknya memiliki satu pemahaman yang utuh. Terlepas dari model cadar. Apa lagi yang berkomentar orang yang mengaku liberal, mengapa orang yang telanjang tidak dipermasalahkan? Dengan alasan yang sama pula, mereka yang bercadar menggunakan hak mereka menggunakan hak kebebasan diri.

Bukan hanya dikalangan masyarakat yang mengaku nahdiyin yang masih mengasosisiakan cadar dengan kelompok terentu. Bahkan hal semacam ini juga dikalangan warga persyarikatan muhamadiyah merupakan hal yang sedikit tabu.Begitulah masyarakat kita saat ini, saat  sudah dipahamkan masih merasa risih melihat yang bercarar. Bahkan kawan saya batal memakai cadar kerena gak dapat restu orang tua. Padahal fitnah yang dihadapi luar biasa, berkali-kali ganti nomer gara-gara banyak mata jelalatan yang mengidolakannya. Bayangkan itu yang berjilbab syar’i(lebar, kadang kayak mukena) apalagi yang bongkar pasang? Wah, konon ulama saja lihat betis wanita bisa hilang apalan lo, la bagaimana para mata jelalatan yang melihat pengumbar aurat berlenggak-lenggok?

Hal yang masih saya sayangkan rasa kekelompokan yang masih tinggi, bukan merasa sebagai satu kesatuan Islam yang sama-sama menggali mutiara hikmah. Kadang beda dikit dari kebiasaan dianggap bukan kelompoknya, “itukan menurut Muhamadiyah, kalau saya tetap mengikuti Imam Syafi’i(klaimnya tapi hanya kata-kata)!” Sikap ini hampir dimiliki banyak masyarakat, ada yang bilang “kalau Muhamadiyah yang sejati, maka ia akan berpegangtuh dengan HPT(Hipunan Putusan Tarjih), berbeda dengan yang sudah bergaul dan terpengaruh dengan pengajian lain”. Sedang HPT fatwanya bisa berubah, misal soal memajang foto di dinding. HPT itukan bukan kitab sahih ketiga setelah Quran dan Sunnah dan kesejatian mengembangkan kelompok bukan pada leterlek pada basul masaail atau HPT. Melainkan membersarkan Islam niscaya ormas akan besar(karena dapat ridho Allah). Berami mengkoreksi kelompok kita menyadarkan kita bahwa yang sempurna Islam dan terhidar dari sikap asobiyah(cinta kelompok berlebihan dan merendahkan yang tidak dicintai).


Melihat argumen saya yang tidak membawa kelompok manapun, serta tak mengharap pembelaan dari kelompok apapun(saya hanya menyapaikan kebenaran yang dititipakn Allah)  kemudian ada yang bertanya, bagaimana dengan Isteri mas Barep kelak? Kalau masalah bercadar, saya kembalikan kepada isteri saya. Jika memang itu keinginan bulat maka akan saya suprot.Soal wanita bercadar seperti yang saya ungkapkan sebelumnya merupakan bagian dari hak individu memutuskan dirinya bercadar. Bahkan saya salud dengan mereka yang begitu menjaga kehormatan bakal suami atau yang sudah menjadi suaminya.

 Lantas bagaimana dengan komentar orang lain? Langkah pertama kita cerahkan, lalu kita harus memiliki peran aktif dimasyarakat dan menjadi pribadi yang supel. Kalaupun masih tetap tidak bisa menerima, langkah terakhir berhijarah. Tidak semua kemauan masyarakat harus dituruti terlebih jika bertentangan dengan syariat dan nurani. Untuk meminang wanita yang shalehah gak bercadar saja berat apalagai yang bercadar. Hal yang berat apakah si wanitanya membuka hati, lalu syaratnya memberatkan tidak, dan bagaimana dengan kesanggupan diri. Bukan masalah berat takut si wanita lebih unggul keagamaannya ya!

 Lalu muncul pertanyaan bagaimana jika ada kesempatan(si wanita membuka hati) meminang wanita bercadar? Tentunya kalau mau mengikuti cara yang syar’i kekhawatiran kita tak berarti. Saat proses taaruf, ada proses tukar biodata, nah biasanya diberikan foto dengan wajah asli. Lagian masalah identitas(KTP,Paspor, SIM, surat nikah dll) mereka tak mengenakan cadar jadi jangan takut orangnya diganti. Kalau foto kurang yakin, ada sesi pertemuan pertama ia memperlihatkan wajahnya. Sebelumnya harus sudah mantap melihat aspek fundamental seperti: akidahnya ahlul sunnah, pemaham agamanya baik dan pokoknya ‘dah shaleh. Kemudian tinggal masalah paras, Anda menerima atau menolak sudah menjadi hak Anda. Kalau keriteria cukup (gak cantik dan gak jelek) saran saya terima.

Demikian statement saya tentang wanita bercadar yang sudah sekian lama mengendap. Awalnya alasan menahan stetmen ini takut dibilang forntal dalam menyampaikan pesan. Menang perlu dijalani mendakwahi keluarga, sahabat, dan lingkungan. Tetapi jika ada yang menyinggung masalah ini saya berargumen tidak jauh dari tulisan di atas. Untuk syiar di dunia maya, ini yang pertama. Biasanya seputar usaha menumbuhkan kecintaan terhadap Islam, menyampaikan hikmah dan padangan terhadap wanita berhijab disamping ajakan dan suport terhadap yang berhijab. Polanya yang belum berhijab, diajak berhijab, yang berhijab tetapi belum syar’i disuport agar lebih syar’i dan menutup aurat, lalau yang belum konsisten agar lebih konsisten. Lalu yang sudah syar’i disuport agar tidak tabaruj, menjaga diri.

Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Tulisan ini juga bentuk pertobatan saya bila sebelumnya pernah berburuk sangka, ucapan sembarangan, dan sikap yang tidak baik terhadap muslimah bercadar. Kebenaran yang saya dapatkan bahwa mereka yang menutup aurat dengan benar plus bercadar merupakan mereka yang memiliki komitmen tinggi terhadap idealisme keislaman. Sedang tentang perilaku yang khilaf tidak ada kaitannya dengan cadar melainkan permasalahan personal.

Catatan: gambar dari berbagai sumber

Kamis, 26 Maret 2015



Sebut Namaku Tiga Kali!
(Memahami Orang Lain dengan Menyebut Namanya)

"Setiap manusia, pastikan kecewa
bila kekasih yang s'lalu di hatinya
tak pernah lagi menyebut namanya"

Cuplikkan lagunya Vive Minutes memang ada benarnya. Misal orang tua Anda tidak pernah menyebut nama Anda, apa tidak kebangetan? Orang tua Anda punya anak 5, bilangnya 4. Anda terlupakan! Begitu juga dengan kawan Anda. Jangankan jarang menyebut, suka salah sebut saja bikin jengkel. Atau mungkin nama Anda sulit diucap/ditulis, makanya lebih baik kalau menegur: kamu, bro, atau heh!
Masalah sepele ini ternyata jadi perhatian para psikolog. Banyak buku yang menyebutkan bahwa memanggil nama lengkap dengan benar akan memberi dampak bagi lawan bicara. Ia merasa diapresiasi dan eksistsensinya diakui. Luar biasa bukan? (Itu kesimpulanku, dari buku pinjaman judulnya: Agar Siapa Saja Mau Melakukan Apa Saja Untuk Anda karangan David J.L :v ).
Saya akan mengurai berdasarkan pengalamanku aja ya? Tenyata penyebutan nama tak hanya berdampak untuk orang lain, juga terhadap kita sendiri. Sehingga baiknya bukan hanya maunya disebut(dihargai) tapi imbangilah. Bagusnya lagi kita bisa balas memberikan penghormatan lebih tinggi. Misalnya kalau disebut nama panggilan kita membalas nama lengkap J.

1.      Aku-Kamu
Sapaan yang populer, sudah akrab (SKSD: Sok Kenal Sok Dekat) tapi tidak tahu nama lawan bicara. Gak tau namanya? makanya kenalan! Kalau sudah kenalan, masih gitu ya belum "kenal". Kenalan bukan nama saja kan? Bukan tersurat sajakan? Berusaha alami memang penting, tapi tak banyak tahu hal-ikwal tentang kenalan kita bisa jadi kalau kita yang melupakan ya kita yang dilupakan.
Baiknya memang saling tanya, berusaha sedikit bertanya tetapi mendapatkan informasi banyak. Bagaimana caranya? Tanya apakah ia memiliki jejaring sosial. Bertanya informasi yang Anda butuhkan. Kemudian kembangkan menjadi jalan cerita misal tanyakan alasan mengapa informasi tentang hal tersebut tidak dituliskan. Berusaha buat dia banyak bercerita tentang dirinya. Ya lewat jalan cerita, Anda bisa memperhatikan gaya bicara, gaya memilih kata, gaya tulisan, ekspresi pengungkapan, bahasa tubuh, serta isi cerita.
 Saat ia bercerita berusaha tak menyelah, dan bertanya yang penting tetapi tanpa disadari Anda sedang mempelajari orang tersebut. Kemudian setelah perbincangan coba Anda telaah kembali apa yang Anda dapatkan, akan semakin banyak yang Anda gali. Makanya satu ucapan, satu gerakan, ekspresi bahkan hanya satu pandangan mata bisa dilihat dari berbagai sudut. Makanya kita perlu mengembangkan wawasan dengan banyak baca, terutama yang berkaitan dengan perilaku manusia.

2.      Nama Panggilan
Jika dia memanggil Anda dengan nama sapaan/panggilan, artinya ia menganggap Anda sebagai kawan. Misal Rep, atau Barep. Bud atau Budi, banyak contohnya. Tapi gini coba kita pakai kaidah emas, Anda jengkel jika orang serampangan menuulis atau sebut nama Anda. Begitu juga orang lain, so jangan asal ya soal panggilan. Apa lagi pakai olokan, wuiih!
Ada yang unik, jika Anda mengganti kata semua "kamu" dengan nama panggilannya, nama panjang untuk sapaan cukup besar dampaknya. Orang tersebut akan merasa sangat dihargai, dihormati dan diakui eksistensinya. Misal:
ü  "kamu lagi ngapa Sob?"
ü  "sudah makan belum kamu?"
ü  "kemarin aku lihat kamu..." dst.
Dari contoh di atas jika tetep demikian efeknya biasa saja, hanya teman biasa. Sulit jika hanya memanggil kamu terus, dan butuh setrategi yang baik. Misal tetap menjaga komunikasi. Sedang kalau ia memangil nama Anda, tetapi tak pernah bebalas kelamaan akan ketahuan juga dan bisa dituduh Anda tidak tulus. Bila kata "kamu" kita ganti dengan sapaan, misal namanya Bunga Laksmini bisa dipanggil Bunga, maka jadinya:

  • "Bunga lagi ngapain?"

  • "sudah makan belum Bunga?"
  • "kemarin aku lihat Bunga..." dst.

Kalau responya juga sama, sebut nama Anda maka akan semakin akrab. Jika biasa saja, maka gak terlalu besar responnya. Tapi jika tidak menyebut nama Anda dan justru mengganti kata aku dengan namanya, hati-hati Anda. Misal:
ü  "Bunga lagi makan, kalau kamu sob?"
ü  "Bunga belum makan kok!"
ü  "kemarin kamu lihat Bunga di mana? Bunga gak tahu kamu tuh"
Anda telah membuat ybs(yang bersangkutan) suka diperhatikan, tapi tidak terlalu peduli sama orang lain. Bisa jadi besar kepala, manja atau egois. Waspadalah! Sebab akan banyak tenaga dan pikiran Anda terbuang jika tidak membaca situasi ini.

3.      Nama Panjang
Bagi banyak orang mungkin Anda dapatkan biasa saja. Berbeda apabila Anda berhadapan dengan orang yang sudah sering menjadi korban salah tulis nama atau korban salah sebut nama(parahnya sering jadi korban salah sebut orang). Secara umum Anda menulis atau sebutannya benar maka responnya luar biasa. Beberapa panggilan yang sering membingungkan di antaranya:
ü  Muliya(biasanya salah), dengan Mulya.
ü  Tia dengan Tya.
ü  Dedi dg Dadi.
Jika Anda mampu memanggil nama panggilannya dengan baik, responya juga baik. Apa lagi sejak dari awal. Jika salah, jangan membebal dengan sering salah sebut. Ini akan membuat tak nyaman bila yang punya nama tak terima. Terlebih Anda mampu membedakan nama-nama yang mirip, dan wajahnya juga mirip sementara yang lain tak bisa. Wah akan memberi kesan positif. Misal Novi, Novia, Noviva, atau Novita. Maka pelajari dengan sungguh-sungguh perbedaannya sebelum menyebut. Kalau soal nama panjang Anda bisa memahaminya melalui absensi, kartu nama atau yang lain. Pelajari bila perlu mencatat dan tulis tanda pengingat. Baik kejadian, sifat atau yang lain. Misal: Novita Sari(Andeng-andeng di hidung). 

4.      Sapaan
Sapaan: Mas, Kak, Teman, Sob, Bro, Sis, Gan, Bog, Es, dan lain-lain akan beda maknanya dengan panggilan Cin, Yang atau lainnya. Kecuali jika sapaan “Cin” yang sundah jadi "zikiran" hanya akan jadi sapaan kosong sang penggoda. Tanggapan berbeda jika menyapa Mas/Kak dibalas dengan Mbak, Mas/Kak dibalas dengan Dik, atau sapaan Mas/Kak dibalas nama panggilan. Misal:
ü  “Mas Rendra, kamu lagi sibuk gak?” dijawab, “tidak Mbak, ada apa?” Artinya saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
ü  “Kak, kamu lagi sibuk tidak?” dijawab, ““tidak Dik, ada apa?” Artinya masih saling menghargai tapi bisa jadi kakak-adik jadi-jadian. Kalau biasa saja, bisa tetap baik, kalau salah satu ada yang berharap dan yang satunya tidak hanya menyesakkan dada.
ü   “Kak/Mas(Rendra), kamu lagi sibuk tidak?” dijawab, ““tidak, ada apa Ning(Nining)?” Bisa berarti yang satu menghargai, yang satu menganggap teman dan tak mau jadi kakak-adik jadi-jadian. Untuk membina hubungan serius bisa saja.
Beragam maknanya antar sapaan meski maknanya sama. Misal antara: Kak, Kakak, Mas, Uda, Abang, atau AA. Maknanya sama tetapi bisa beragam makna tergantung kultur, niat, dan rasa penghormatan. Apalagi dengan panggilan gaul: Cuy, Coy, Bro atau yang lain. Jelas berbeda. Orang yang suka memanggil Dik karena memang terpaut jauh usianya, ada yang karena suka, ada juga karena beda angkatan, bisa juga karena keanggkuhan dan merasa tinggi. Kompleksitas lain sapaan yang diiringi nama panggilan dengan yang tidak, maknanya juga berbeda. Misal:
ü  Kak Rendra dengan Kak/Mas (saja)
ü  Dik Asih dengan Dik
Penghormatan, dengan mengingat serta penyebutan nama yang benar memberi efek yang saling menguatkan. Semakin jauh jika dibandingkan dengan yang hanya aku-kamu, lo-gue. Sapaan dan penyebutan nama secara serangkai memberi dampak positif. Kalau keseringan dan kepada banyak orang ya kurang positif. Maka perlu pembedaan lagi, Dik, Neng, Ndok, atau yang lain bisa divareaisikan atau dibagi mana untuk yang umum mana untuk yang khusus. Penerimaan lawan bicara dengan sapaan tersebut juga berpengaruh.

5.      Degradasi Sapaan
Ini penting Anda pahami, bila semula sapaan kamu jadi Budi, Budi jadi Kakak, kakak jadi Ayang Budi tentu ada progresipitas. Kalau sebaliknya, nama Anda kian tidak disebut, ada dua: si dia segan atau justru kian melupakan Anda. Wew. Misa: Kak Rudi, jadi Kak saja(parahnya jadi Rudi), kemudian jadi Sob. Jika kemudian berhenti pada kata “Mas” saja bisa saja ia menjadi sungkan dengan Anda. Nah kalau jadi memanggil nama Anda atau Sob, artinya beralih dari memberi harapan sebagai kekasih dengan hanya sebagai kawan. Sedang kalau menjadi kamu, artinya Anda kian dilupakan. Kalau SMS juga berubah cuman menulis “u” sudah malas menyebut nama Anda. Kalau tidak sama sekali bahkan tak ada inisiatif menghubungi Anda jelas ia sudah melupakan Anda hanya menganggap sebagai kenalan biasa.
Juga Anda suka tanya kabarnya, tapi ia gak peduli kabar Anda. Bisa jadi, karena Anda suka asyik sendiri tanpa tanya kabar sudah akan Anda kabarkan, atau memang sudah tidak peduli. Ada yang lebih penting, coba perhatikan, apakah ia inisiatif calling Anda kalau ada kenpentingan saja sedang kalau gak ada kepentingan merasa gak perlu bahkan jarang menghubungi. Sakit!
Banyak tipe memang ada yang bisa diajak bicara tetapi gak bisa diajak komunikasi lewan ponsel atau dunia maya. Ada yang suka SMSan, teleponan tetapi saat bertemu mati kutu, kebanyakan tipe pemalu, penyendiri dan melankolis. Ada yang suka SMSan tetapi kalau ditelpon gak mau diangkat, ini jelas misterius. Kalau gak suka SMS tapi suka ditelpon jelas ini orang mau enaknya sendiri. Kalau modelnya mundur, dari sulit ditemui, menjadi sulit dihubungi, dari sering menghubungi menjadi jarang dihubungi. Kemudian parahnya mulai menghapus nomer Anda, bahkan mengganti nomer. Sudah jelas Anda dilupakan kalau merasa tak mengenal Anda walau sudah menyebut nama Anda. Sakitnya tuh di sini :’( :D

Oke, kesimpulannya respon yang kita lakukan entah ucapan atau perbuatan berasal dari dalam diri, bisa jadi cerminan siapa Anda. Apa yang kita utarakan akan memberi dampak kepada diri kita. Maka bertutur perlu kita perhatikan, menyebut nama orang lain dengan sapaan yang baik berarti kita menghargai orang tersebut. Orang yang menghargai orang lain layak mendapat kemuliaan. Sehingga jika Anda orang bersemangat, antusias, nyaman bagi orang lain, maka Anda harus membuat orang lain nyaman dan antusias. Ingin punya wibawa dan dimengerti pahami apa yang Anda ingin pada diri Anda bangun citra secara jujur dan bersiksp alami. Jika ingin dimengerti jadilah orang yang sabar memahami orang lain.
Hal lain yang patut jadi perhatian bahwa: semua yang ada di luar diri kita akan memberi dampak positif atau negatif. Jika kita ingin mendapat dampak positif, bukan hanya kepiawaan Anda mengambil manfaat, bukan hanya pandai memilah kawan, tapi berapa bermanfaatkah Anda untuk orang lain. Hal tersebut akan mempengaruhi harga diri Anda. Saat mendapati bahwa Anda tidak dihargai, dan dilecehkan mungkin Anda masih bisa bersabar dengan mencari kawan yang lain. Kesabaran sesungguhnya diuji saat memberi perhatian penuh tetapi sangat sedikit imbalan yang diperoleh. Sudah berbagai cara yang baik digunakan bahkan kadang-kadang melakukan cara salah, justeru saat kesalahan sedikit terjadi si dia marah dan menyakiti Anda. Sedangkan saat dia yang bersalah Anda mentoleransi.
Hingga ia makin lama makin berkurang perasaan kepadaa Anda. Semakin lama nama Anda semakin sayup. Bahkan sapaan pun semakin lama semakin menurun bobot nilainya. Anda semakin tak bernilai di mantanya, kemudian Anda mulai memaki. Semula hanya terpendam dalam hati, kelamaan terucap tanpa Anda sadari. Kemudian saat berkomunikasi langsung ataupun tidak Anda luapkan kekesalan selama ini dengan perkataan menyakitkan bahkan kadang kasar dan jorok. Jelas Anda sudah terbawa oleh keburukannya, kemudian perbuatan yang Anda lakukan mengurangi kemuliaan yang Anda peroleh. Maka jangan salah menggunakan kata kasar dan kata halus. Terlalu halus memperlakukan orang lain juga kurang bagus, bahasanya terlalu dimanja. Kalau terlalu keras juga kurang baik.
Berusaha mengatur perkataan, hindari kata kasar apa lagi kotor. Berusaha memperbaiki pandangan terhadap orang tersebut tanpa meninggalkan luka. Toh jika harus beranjak meninggalkannya sebenarnya bisa meninggalkan begitu saja. Kadang kita egois, rasa ingin membalas dan membunuh perasaan dengan membuat si dia kesal dengan Anda.
Semoga bermanfaat. Salam Ka(r)ya!
Diperbaiki pada 19 Maret 2015

Minggu, 18 Januari 2015




Catatan pengaliihan pikiran buruk memiliki tujuan agar kita terus berpikir positif. Berpikir positif dalam hidup sebenarnya tak cukup jika tidak diiringi dengan gaya hidup positif. Sekali lagi, setiap tindakan yang kita lakukan bertujuan untuk menuju pada kahir yang bahagia. Berpikir positif bukan bertujuan kita menjadi kebal dengan sakit hati, namun agar kita tidak larut dalam kesedihan.

Nah, kasus yang pernah penulis temui mencoba “mengobati” seseorang yang sedang patah hati dan sulit melupakan mantan kekasihnya. Beberapa waktu kemudian orang tersebut bisa move on dari mantan pacarnya.  Tetapi ada hal yang di luar dugaan penulis, yang terjadi selanjutnya orang tersebut justeru menjadi player. Hal ini bukan lantaran dendam karena pernah disakiti kemudian melimpahkan kepada orang lain namun kesalahan pemahan.

Kesalahan pemahan ini penulis tengarai, bisa jadi keslahan pemaknaan bahwa: cara melupakan sang mantan adalah dengan mengalihkan perhatian terhadap pacar yang baru. Ketika mendapati bahwa pacar yang baru membosankan dan menyebalkan tinggal diputus dan dialihkan pikiran terhadap “gebetan” yang baru.

Maka tak ubahnya seseorang tersebut seperti kupu-kupu yang hinggap ke bunga lain setelah nektarnya habis.  Lalu saat mendapati banyak orang yang tertarik padanya, ia bimbang dan memutuskan memilih semuanya. Kemudian menjadi kesenangan baru, semula katanya pacaran untuk sampingan pelepas keletihan hati menjadi kesenangan dalam seni mempermainkan hati orang lain. Hal ini bisa saja terjadi sebab orang bijak sekalipun membaca tulisan buruk akan menyikapi dengan bijak, tetapi orang yang memiliki perangai buruk akan memahai suatu wawasan baik dengan pemahaman yang buruk.

Sehingga penulis mengingatkan pembaca agar tak terjerumus pada hal yang demikian maka penulis sampaikan bahwa: player(playboy atau playgirl) merupakan sikap terburuk dari perbuatan yang buruk. Pacaran itu hal yang tidak baik, lebih buruk lagi menjadi player. Ketika kita tak ingin disakiti maka jangan menyakiti. Ketika seseorang menyakiti orang lain hanya karena sudah kurang menarik lagi maka selanjutnya ia akan sulit mendapatkan seorang yang lebih baik. Kesetian sangat tinggi nilainya, ketika seseorang tak lagi setia maka ia adalah orang yang tak berharga.

Orang yang menjadi player kalau bukan menghinakan orang lain, ia orang yang hina karena apapun alasannya melakukan perbuatan hina. Jika ia seorang playboy maka telah banyak kotoran yang telah ia usapkan ke banyak wanita. Jika seorang paygirl ia telah menjadikan dirinya sebagai komoditas kesenangan yang nilainya terus tergusur oleh perbuatan buruknya namun terus merasa bangga.

Banyak alasan mengatakan mengapa remaja jadi player atau suka selingkuh. Di antaranya sebab ia merasa menawan(ganteng/cantik), indikatornya banyak orang yang ingin jadi pacarnya. Ia tak menyadari telah terjebak dalam fitnah menawanya paras, paras yang Allah anugerahkan justeru membuat dirinya akan terjerumus karena kesombongan(merasa paling menawan) dan keserakahan(banyak pacar). Padahal tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk paras wajah yang kelak akan tergerus usia dan menjadi makanan belatung.

Ada juga yang beralasan sedang mencari pasangan yang terbaik. Bahasa lainnya ia banyak menyukai orang lain menominasikannya, memilah-milah dengan mendekati dan meberi penilaian. Ada yang hanya mencari tahu. Ada yang menjadikan teman dekat(TTM atau menjalin HTS). Parahnya berusaha memacari semuanya, sampai dinyanyikan “masalah buat lo, pacarku banyak buat cari-cari jodoh”.

Orang lain tentu tidak bermasalah, tetapi orang-orang yang disakiti dan digadaikan cintanya memiliki masalah. Tambah parah lagi yang bermasalah orang yang membagi-bagi hati. Hati cumin satu tetapi diserpih untuk bermacam hati. Jika ia sudah memutuskan seseorang sebagai jodohnya, apakah mengunakan cara menyakiti hati orang yang dianggap bukan jodoh? Atau seketika memutuskan dan bagaimana nasip yang lain apakah diabaikan begitu saja jika juga terlanjur memiliki hati? Bagaimana jika pasangan kita mengetahui bahwa mendapatkan hatinya dengan membagi-bagi cinta kepada yang lain? Kalau pun sesuai harapan, seseorang tak akan mampu melampaui kehendak Tuhan. Ikhtiar yang baik adalah ikhtiar yang berdapa pada jalan kebenaran.

Alasan lainnya, bahwa: “mumpung masih muda, dipuas-puaskan pacaran. Nanti kalau sudah menikah gak bisa lagi punya pacar banyak”. Selayaknya muda berkarya dewasa menuai hasil. Jika saat muda sudah banyak merusak diri pacaran tanpa batas maka nantinya tinggal menuai dampak buruknya. Bisa dialami dirinya atau justeru anaknya. Nauzubillah.

Misalkan pacarannya masilh dalam batasan tertentu. Logikanya begini, ketika masih remaja saja masih suka selingkuh maka bagaimana saat tuanya? Kebanyakan jawabnya “ya enggaklah, kalau sudah menikah harus setia sampai mati!” seseorang bisa mudah mengatakan hal tersebut padahal dia tidak tahu akan seperti apa perubahan hatinya kelak.

Banyak yang sudah tunangan masih melirik cewek lain, bahkan sampai berpacaran lagi padahal katanya sudah bertunangan. Alasannya “mumpung belum menikah, dipuaskan dulu main-mainnya. Nanti kalau sudah menikah baru paten.” Kenyataannya banyak yang pertunagan gagal. Pernikahan pun saat ini banyak terjadi perselingkuhan, entah alasan jenuh, menerima tantangan, atau khilaf terjebak godaan.

Jelasnya bisa jadi tidak bisa lepas kebiasaannya berselingkuh seperti saat masih pacaran. Sebab setan bertujuan manusia agar terus mendekati jalan neraka, dan seseorang yang sudah terbiasa memandang perbuatan buruk sebagai keindahan akan mudah sekali setan menggoda. Jika tidak berhasil, minimal kesucian hati sudah berkurang. Intinya menjadi player adalah kepuasan yang didapat dengan menyelewengkan kesetiaan. Nauzubillah. Semoga kita menjadi orang yang terus memperbaiki diri, pandai menjaga hati dan di hindarkan dari penderitaan tak berujung. Amin. 



 Baca juga:


Mengalihkan Kenangan Buruk Si Dia

Catatan Tentang Artikel Mengalihkan Pikiran Buruk