Kamis, 21 November 2013

Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)

Membaca bahasa mata
Kelingan sepasang mata polos
Matamu mata boneka
Aku membaca matamu ada seberkas kaca

Mataku mulai berbicara
Matamu permata
Didadaku matamu mulai bertahta
Sinar matamu mulai kuterka

Matamu berada diruang hampa
Menggoda tak berbicara
Candamu mengoyahkan mataku
Keteguhan mata hatimu tak kuduga


Bulan sabit jatuh dikedua matamu
Aku mulai tahu bahasa mata polosmu
Engkau sabit yang merindu purnama
Berlahan bola matamu membuka cahaya

Aku ingin menyimpan bola matamu dimeja belajarku
Menemaniku membaca peluh kehidupan
Jendela dunia aku tutup, agar ku terus melihat terangmu
Aku tahu tanpa gelap kau kesepian

Sejenak matamu memejam
Membuka mata menunjuk matahari
Aku remang-remang jauh dari cahaya matahari
Matamu menolak menjadi bohlam lampu belajarku

Berlahan matahari berada diatas kepala
Benar binar matamu berkobar
Membakar nyaliku untuk berbicara
Mata kaki menjatuhkan lututku, kekalahanku tersiar

Tangan kiri memasang kaca mata
Mengunci gerbang candaan
Keteguhanmu membekas diatas dinding-dinding iman
Atas nama ketakwaan, kau kedipkan salam sampai jumpa

Aku kembali keruang hampa
Mataku terpejam berjalan berlahan
Mentok aku dihajar tembok
Aku sudah seperti orang mabuk

Tak kuduga engkau membuka gerbang matamu
Atas nama kemaksiatan engkau memandangnya
Inikah tipu daya ? aku tak percaya

 Hampir ku dibuat tak berdaya

Kedua mata telah engkau gembok
Mata boneka tak lagi bercahaya
Tak perlu ku berpetuah setelah kau kepergok
Berbicaralah dengan seberkas kaca, masih adakah mata permata ?



Metro, Lampung 20/11/2013

2 komentar :