Jumat, 22 November 2013




Karya : Barep Pangestu (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro)


Segurat senyum menyeret betis-betisku
Embun telah binasa terbakar
Menggelandang, lewati pelataran berbangku
Senyum terus ku obral, salam kabar
 
Dari depan kau menghajar mukaku
Akupun berpaling acuh
Kau tak mengerti, jantungku memar melihat wajahmu
Kau tak mengerti, dibalik acuh aku gelisah
 
Kembang kempis perasaanku terhadapmu
Rasa kasih hidup-mati membuncah
Rasa benci terkapar, rindu membelenggu
Hati tergoncang dalam pelana asmara rancu
 

Entah akan  kemana nanti langkah keteguhan
aku seperti induk ayam yang melindungi anaknya
keegoisan, harga diri, dan kesombongan
tiga mata trisula keangkuhan menjadi anakku
 

celotehan sederhana berkumandang
kebisuan mendera
ketika iringan langkah bersua
acuh tanpa perduli didunia ini kau ada


Aku dikenal pandai beretorika
tapi entah kemana seribu kata ketika berjumpa
aku tak ingin binasa
hanya karena kesepian

Aku juga tak ingin binasa karena letih menanti
Kala ku sendiri hatiku selalu mewanti
Bahwa aku harus waspada dengan kemaksiatan berpikir
Bahwa ada janji menjaga hati dengan berzikir
 
16:15 22/11/2013

0 komentar :

Posting Komentar