Rabu, 28 Desember 2011

Makalah  Adab-Adab dan Kemaksiatan dalam Islam
Tugas Matakuliah Al Islam III
Prodi : Pendidikan Ekonomi
FKIP Universitas Muhammadiyah Metro


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

            Kehidupan kita selaku manusia tidak lepas dari tatanan peri laku dan kaidah-kaidah dalam berhubungan dengan sesama manusia.  Terlebi selaku seorang Muslim kita memiliki pedoman yang jelas dan lenkap. Pedoman tersebut adalah Al Quran dan As Sunnah / Al Hadis. Segala aktifitas dari yang bangun tidur sampai kita berangkat tidur ada didalam Al Quran dan As Sunnah. Karena kesempurnaan Al Quran dan As Sunnah mampu menjawab permasalahan hidup sepanjang jaman.


            Islam dikenal sangat simple, dalam artian secara praktis aturan-aturan dalam Islam mampu di terapkan secara langgsu. Juga sangat teliti, hingga masalah sekecil dapat di antisipasi dan terselesaikan. Selain itu Islam juga sangat menjunjung hak-hak orang lain dan masyarakat luas dengan harapan terjadi kemaslahatan umat.

            Namum kadang kala dimasyarakat pada saat ini tidak seluruhnya melakukan aktifitas sesuai syariah. Ada kalalanya melakukan perbuatan yang dapat di benarkan oleh masyarakat lain namun tidak dapat dibenarkan menurut pandangan Islam. Seperti sambung ayam dibeberapa daerah di Indonesia di benarkan sebagai ritual adat. Ada pula seringkali kita dalam bermuamalah melakukan tindak yang tidak disadari telah melukai hati oranglain.

            Pebuatan yang baik dan sesuai denagan tatanan yang  berlaku serin kita kenal sebagai adab. Adapun segala perbuatan yang dilakukan berupa penyimpanga-penyimpangan sering kita kenal sebagai maksiaat. Adakalanya manusia yang sudah terbiasa melakukan perbuatan yang sesuai dengan adab yang berlaku akan risau hatinya ketika melakukan perbuatan yang melanggar dari norma yang berlaku di dalam masyarkat. Namum bagi orang yang sudah sering melakukan tindakan maksiat tidak ada hambatan dari hati lantaran sudah terlanjur banyak maksiat yang ia lakukan. Bila ada yang menegur dianggap sebagai angin berlalu. Apa bila melakukan perbuatan yang beradap ada keganjalan kadang kala ada perenungan. Jika hatinya tebuka untuk menerima kebenaran Allah pun akan membukakan pintu hidayah untuk bertaubat. Namun jika hatinya suadah mengeras tak mentup kemungkinan Allah akan menutup pintu hidayah.

            Menurut Agussyafii  : 2009 “Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model”. Sehingga sangat erat kaitannya dengan tradisi yang dianggap baik oleh masyarakat. Dan ber kaitan dengan persepakkan secara turun-temurun. Awalnya masyarakat yang dianggap paling beradap adalah masyarakat pedesaan yang memegang teguh dengan tradisi. Namun mulai berkembangnya kebudayaan kemodrn telah mengagumkan banyak manusia, sehingga modrnisasi mampu menggeser nilai-nilai budaya tradisional.

            Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota (Agusyafii:2009).

            Kini makna adab semakin menyempit kepada syariat-syariat agama. Dimana bukan sekedar kesahajaan yang mampu tergeser pemikiran modrn yang lebih fleksibel menghadapi tantangan zaman. Bukan pula kemegahan yang semu dimana kata modrn hanya menjawab permasalahan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga dengan mudahnya nilai-nilai modrn menjadi nilai klasik lantaran muncul kemodrnan terbarukan. Yang kadangkala menimbulkan ekses yang luarbiasa. Masyarakat membutukkan tatanan yang teratur sehingga keajegan sosial dan masyarakat madani dapat terwujud. Harapan tersebut terletak pada syareat Islam yang begitu memperhatikan nilai-nilai keilahian dalam menghadapi tantangan zaman. Serta tidak sekedar memikirkan kemajuan namun keberlansungan secara terus menerus.


            Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Ādāb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab (Agussyafii:2009).

            Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT (Agussyafii:2009).

            Sementara itu kata maksiat menurut artikata.com memiliki arti sebagai “perbuatan yg melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dsb)” sedangkan kemaksiatan diartikan sebagai “hal-hal yg bersifat maksiat (yg penuh dosa dsb)”.
            Sehingga nampak  jelas kata adab dan maksiat memiliki korelasi dan orientasi arti kepada tegak atau tidaknya ajaran-ajaran Islam. Apa bila syareat Allah mampu berjalan sebagai mana mestinya maka akan terbetuk masyarakat beradab yang berakhlakul karima. Dan apabila syareat Allah tidak dijalankan secara menyeluruh maka akan muncul potensi-potensi pelanggaran terhadap kemapanan yang pada gilirannya kemaksiatan mampu melaju menebus hikum-hukum manusia. Pada giliranya banyak kemaksiaatan yang akan bermunculan yang akan memicu murka Allah sehingga bencana dating beruntun silih berganti. Nauzubillah. Waullahuallam.



B.        Tujuan Penulisan Makalah
·         Mahasiswa mampu memahami adab-adab yang sesuai ajaran Islam;
·         Mahasiswa mapu memahami perbuatan maksiaat yang harus dihindari;
·         Mahasiwa mampu menganalisis segala perilaku  selama ini di masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam dan kemaksiatan yang terjadi;
·         Mahasiswa dapat memilah tidakan yang beradap dan yang maksiat;
·         Mahasiswa mampu memiliki kesadaran merealisasikan adab-adab islam
·         Mahasiswa ada ketertarikan untuk menyerukan adab-adab Islami bagi masyarakat luas



















BAB II
PEMBAHASAN

 Dalam pembahasan kali ini akan diuraikan dua pokok pembahasan. Dimana apa bila kita memahami adab maka kita akan mudah memahami kemaksiatan. Kedua sub bab pembahasan dalam makalah kali ini sangat berkaitan. Dimana sub bab A lebih menekankan kepada pengenalan adab dan sub bab B lebih kepada pencegahan. Sehingga kita mampu menjalankan perintah  Allah dan mampu menjauhi larangan-Nya.
A.   Adab-Adab dalam Islam

            Adab-adab dalam Islam cakupanya sangat luas sekali. Untuk itu dalam pembahasan kali ini akan ditik beratkan pada kebiasan yang sering kita lakukan namun luput dari perhatian untuk menjadikan kita Muslim yang Beradap. Pembahasan diawali dari berbicara. Dimana kita hanpir tidak dapat lepas dari aktifitas berbicara. Kemudian selaku calon guru Ekonomi kita perlu mengetahui cara mencari rizki yang sesuai dengan adab Islam. Kita juga tidak lepas dari inyteraksi denagan masyarakat begitu banyak hal yang perlu kita pahami.

Selain itu kita sering berdoa kadang kala berdoa tanpa mengunakan landasan berpikit yang benar. Dan kemudian akan dibahas tentang adab mencari Ilmu. Dimana kita perlu meluruskan niat dalam menuntun Ilmu.

1.      Adab Berbicara
            Tanpa kita menyadari terkadang ucapan-ucapan yang terlontar terjun bebas melukai hati orang lain, dan lebih berbahaya tidak sesuai dengan tuntunan Islam.  Kita terkadang tidakmentadari bila berbicara akan mendapat pertangung jawaban, semakin banya berbica terlebih melenceng dan penuh kesesatan ssemakin banyak di pertanggung jawabkan. Tentu kita perlu mempelajari pola kehidupan nabi muhamad agar kita tidak terjebak kepada mengada ngada syariat.
Belajar dari sejarah kehidupan Rasulullah yang mulia dan dalam penerapan ajaran Islam telah sangat detail memperhatikan persoalan keummatan; Mulai dari urusan dapur sampai urusan ketatanegaraan, telah dijabarkan dalam kehidupan beliau sebagai Uswatun Hasanah (contoh tauladan) bagi kita semua (Ichsaneljufri: 2011 ).
Begitu pentingnya menjaga lisan dalam sebuah hadis dijelaskan akan bahwa setiap perkataan yang kita ucapkan akan dicatat sebagai amal ibadah bunyi hadis tersebu :
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

            Sehingga kita perlu memperhatikan sebisah mungkin apa yang kita ucapkan sehingga mendatangkan pahala bukan dosa. Adapun Keutaman menjaga lisan nabi saw orang yang menjaga lisan akan mendapat jaminan surga. Hadis tersebut :

"Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kemaluannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).
            Seorang muslim wajib menjaga lisannya, tidak boleh berbicara batil, dusta, menggunjing, mengadu domba dan melontarkan ucapan-ucapan kotor, ringkasnya, dari apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Sebab kata-kata yang merupakan produk lisan memiliki dampak yang luar biasa. (Ichsaneljufri: 2011 ).

 Begitu halus dampak dari perkatan orang berbicara terkadang kita tidak mentadari apakah perkataan tersebut mendatandkan dosa atau pahala, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

"Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya, tetapi ia menjerumuskan-nya ke Neraka Jahannam" (HR. Bukhari).

            Yang terjadi kita bangga dengan perkataan kita tidak peduli bedar atau salah. Padahal lisan menjadi tolak ukur anggota badan berbuat. Seperti yang diuraiakan Ichsaneljufri: 2011 bahwa:  Hadis Hasan riwayat Imam Ahmad menyebutkan, bahwa semua anggota badan tunduk kepada lisan. Jika lisannya lurus maka anggota badan semuanya lurus, demikian pun sebaliknya. Ath-Thayyibi berkata, lisan adalah penerjemah hati dan penggantinya secara lahiriyah. Karena itu, hadits Imam Ahmad di atas tidak bertentangan dengan sabda Nabi yang lain: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan bila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

            Kemudian diperjelas lagi oleh Ichsaneljufri: 2011 bahwa : Berkata Baik Atau Diam
Adab Nabawi dalam berbicara adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari).
Adab Nabawi di atas tidak lepas dari prinsip kehidupan seorang muslim yang harus produktif menangguk pahala dan kebaikan sepanjang hidupnya. Menjadikan semua gerak diamnya sebagai ibadah dan sedekah. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: "… Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid)adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah." (HR. Al-Bukhari).
            Dimana saat ini banyak sekali diantara kita yang gemar membicarakan keburukan orang lain, berbicra berjam-jam tidak ada manfaatnya (merumpi). Hanya sekedar mencari pembenaran bahwa anggapan kita bahwa orang yang tidak kita suka adalah orang yang buruk. Kita tidak menyadari perbutan kita  akan mendatangkan murka Allah, meskipun itu tidak mebongkar aib orang namun yang namanya merumpi lebih banyak berkata yang tidak ada manfaatnya. Seperti dalam uraian Ichsaneljufri: 2011 tentang pendapat para Imam : Imam Nawawi rahimahullah berkata, qiila wa qaala adalah asyik membicarakan berbagai berita tentang seluk beluk seseorang (ngerumpi). Bahkan dalam hadits hasan gharib riwayat Tirmidzi disebutkan, orang yang banyak bicara diancam oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sebagai orang yang paling beliau murkai dan paling jauh tempatnya dari Rasulullah pada hari Kiamat. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, 'Tidak ada baiknya orang yang banyak bicara.' Umar bin Khathab Radhiallaahu anhu berkata, 'Barangsiapa yang banyak bicaranya, akan banyak kesalahannya.'
            Adapula anggapan bahwa mendengarkan pembicaraan orang yang merumpi tidak apa-apa padahal termasuk dosa.  Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam :  "Cukuplah seseorang itu berdosa, jika ia membicarakan setiap apa yang di-dengarnya."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Cukuplah seseorang itu telah berdusta, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya." (HR. Muslim).
            Ketika berbicara jauh kemana mana ada kalanya kita muncul kejengkelan terhadap teman, kelompok ataupun keluarga membuat kita berkata kotor bahkan melakhat. Hal tersebut tidak mencerminkan akhlak seorang muslim sebagaimana  Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu meriwayatkan, Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Seorang mukmin itu bukanlah seorang yang tha'an, pelaknat, (juga bukan) yang berkata keji dan kotor." (HR. Bukhari).
Tha'an adalah orang yang suka-merendahkan kehormatan manusia, dengan mencaci, menggunjing dan sebagainya (Ichsaneljufri: 2011).

            Kemudian karena kita terlalu berambisi ingin meluruskan suatu perkara membuat kita hobi untuk berdebat. Padahal sikap tersebut kurang baik dilakukan meskipun kita benar. Sepatutnya perlu meluruskan niat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : "Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meski dia benar. Dan di tengah-tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun dia bergurau. Juga di Surga yang tertinggi bagi orang yang baik akh-laknya." (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).


2.      Adab  Mencari Rizki
            Allah telah menciptakan Bumi ini untuk memenuhi segala  kebutuhan manusia, dari sandang pangan dan papan. Pemenuhan kebutuhan tersebut diraih melalui  segala yang ada di bumi ini baik hewan, tumbuh-tumhan, barang tambang, dan lain lain. Hakikatnya semua itu agar manusia mampu menjalankan kewajibannya. Sebagaimana fiman  Firman Allah SWT:
Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. al-Mulk:5).

            Ayat diatas mengingatkan kita bahwa dunia ini sementara dan kelak, manusia tidak akan hidup selamanya didunia, serta setelah kematian berakhir begitu saja. Bukan berarti memenuhi kebuutuhan adalah duahal yang berbeda namun sangat erat kaitanya. Sebagaimana fiman  Firman Allah SWT: “Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(QS. Al Jumu’ah  : 10).
            Dalam ayat tersebut dijelaskan setelah kita shalat, kita dianjurkan mencari karunia Allah. Kaena tidak sepatutnya kita berpangku tangan dan hanya berdoa tapi harus berusaha juga. Ketika berkerjapun kita  tetap menginat Allah sebanyak-bamyaknya.
Karena seberapa banyak kita berdoa tanpa disertai dengan usaha, Allah tidak akan merubah keaadan suatu kaum. sebagaimana firman Allah SWT:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….. (QS.13/ ar-Raâd: 11)
            Apa bila dilinkungannya sulit untuk mendapatkan sua pekerjaan manusia dianjurkan untuk merantau. Namun merantau dalam Islam tidak sekedar merantau tetapi hijrah dijalan Allah. Sebagai mana firman Allah SWT:
Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya denagn maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematianmenimpanya (sebelum sampai ditempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Adalah Allah Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang.  (QS. an-Nisaâ:100).
            Dijelaskan niat baik untuk berhijrahpun sudah dinilai sebagai pahala. Tak dapat kita bayangkan berapa banyak pahala yang didapat apabila kita melakukan usaha mencari rezeki dengan niat hijrah dijalan Allah. Dalam sebuah hadis dijelaskan pedagang yang jujur telah dijanjikan mendapatkan surga Darusalam tempat nabi, sidiqin dan suhada, Sebagai mana Rasulullah SAW bersabda: Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi, siddiqin, dan syuhada. (HR Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW memuji orang yang mandiri yang mampu menenuhi kebutuhan dari ushanya sendiri  bahwa: Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil usaha tangannya sendiri. (H.R. Bukhari).
            Sangat jelas didalam ajaran Islam mencari rezeki tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidup namun  juga merupakan sarana untuk beribadah. Sehingga dalam mencari rezeki ada adab-adab yang akan mendatankan keridoan Allah. Dan mampu menjauhkan diri merugikan orang lain dan azab dari Allah. Adapun menurut Merza : 2010 adab mencari rizki dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Mencari Rezeki adalah Ibadah. Motivasi paling kuat dalam mencari rezeki adalah menjadikannya sebagai amal ibadah. Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (al-Jumu’ah [62]: 10).

b. Memelihara Iman. Modal awal seorang Muslim dalam berusaha adalah takwa. Selain itu, ia juga menjadi kunci utama mendatangkan rezeki. Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Thalaq [65[: 2-3).

c. Mencari yang Halal. Sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam (SAW), "Tak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan? Tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan? Tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan kemana ia nafkahkan? Dan tentang badannya, dalam hal apa dia binasakan?" (Riwayat at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib).

d. Memperbanyak Istighfar dan Taubat. Firman Allah, "Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Nuh [71]: 10-12).

e. Rajin Berinfak. Ibnu Katsir menjelaskan: Betapapun sedikit harta yang kamu infakkan pada perkara yang diperintahkan kepadamu, ataupun yang bersifat mubah (boleh), niscaya Allah pasti menggantinya untukmu di dunia. Sedang di akhirat kamu akan diberi pahala dan ganjaran. Firman Allah, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Saba’ [34]: 39).

f. Ringan Tangan kepada Orang Lemah. Memuliakan dan suka menolong orang lemah menjadi salah satu rahasia dalam mencari rezeki. Sabda Nabi SAW, “Tidaklah kalian mendapatkan pertolongan dan mendapatkan rezeki melainkan disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (Riwayat al-Bukhari).

g. Menyambung Tali Silaturahim. Sabda Rasulullah SAW, “Pelajarilah nasab-nasab kalian agar kalian dapat menyambung tali silaturahim kerabat-kerabat kalian. Karena sesungguhnya menyambung tali silaturahim itu adalah sebab kecintaan di dalam keluarga, sebab berlimpahnya harta, dan sebab tertundanya ajal (umur diperpanjang).” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim).

            Untuk membangun masyarakat yang sejahtra tentu dimulai dari lingkup kecil. Perlu merangkul keuarga dekat agar terlepas dari kesenjangan sosial kemudian saudara jauh tetangga dekat dan jauh. Dan terwujutlah kerjasama dan persaudaraan yang utuh.
            Umat Islam diminta bergandeng tangan menghilangkan semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis). Di samping itu, juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Namun, realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya (Merza : 2010).

h. Tidak Meminta-minta. Sabda Nabi SAW, “Salah seorang dari kalian senantiasa meminta-minta sehingga dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak ada daging di wajahnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

            Ajaran Islam, sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha, dan menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah, tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya, sesungguhnya dia mengemis bara api. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiri.”
 (H.R. Muslim). Oleh karena itu, Islam, memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta (mengemis), sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim, bahwa mengemis kepada orang lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbulâ alamin, hak tempat meminta, dan hak pengemis itu sendiri. (Merza : 2010)

i. Bersikap Zuhud. Zuhud adalah obat penawar dari kegemerlapan dunia. Dengannya, seorang Muslim dapat terjaga dari fitnah dunia. Wasiat Nabi SAW, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.” (Riwayat al-Bukhari)

j.Tawakkal kepada Allah. Firman Allah, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq [65]:smile:. Tawakkal di sini tak bermakna berpangku tangan, tanpa mau berusaha sedikit pun.[masykur/tyn/infokito.net] /ismenalghifary.
            Ajaran Islam, menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Banyak ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang, seringkali menjadi kontra produktif dalam pengamalannya. Ajaran tawakkal yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. Nabi Muhammad SAW, dalam sejumlah hadits, sangat menghargai kerja, seperti salah satu haditsnya yang berbunyi, Jika kalian tawakkal kepada    Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.(Merza : 2010).

3.      Adab Bermasyarakat dalam Islam


            Konsep bermasyarakat dalam Islam sangat unik menekankan pada persaudaraan seiman. Dikenal dengan memperioritaskan saudara seiman daripada yang berbeda agama. Penekanan utuk tolong-menolong sesame muslim Meskipun berbeda suku bangsa. Dalam suatu riwayat Abu Hurairah RD yang berkata yang Rasulullah SAW telah bersabda:

"Seorang muslim adalah saudara bagi orang muslim yang lainnya. dia tidak mengkhianatinya, dia tidak membohonginya, dia tidak membiarkannya. Setiap (kehormatan) orang muslim adalah haram (untuk dicerobohi) oleh orang muslim yang lain: baik dari segi kehormatan maruahnya, hartanya, darahnya”.
Taqwa itu berada di sini (iaitu di dalam hati di dada). Memadailah jahat seseorang itu dengan dia menghinakan saudaranya yang muslim" [riwayat Imam at-Tarmizi]
(Hadith yang lafaznya hampir sama, hanya dengan tambahan di awalnya 'jadilah kamu hamba-hamba Allah,..."telah diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Imam an-Nawawi RH di dalam kitab al-Azkar telah memberi komentar tentang pengajaran dari hadith ini dengan katanya: "Tiada yang lebih besar ('azamu) manafaatnya dan lebih banyak faedahnya daripada hadith ini".

Dari penjelasan hadis diatas dapat ditarik intsarii maknana bahwa sesamamuslim :

Tidak mengkhianati: khianat lawannya amanah. Bermaksud amanah dalam perkataan dan amalan perbuatan terhadap sesama muslim.
Tidak membohonginya: tidak memberitahu dia dengan sesuatu yang menyalahi kenyataan yang sebenar tanpa maslahah syar'ie.
Tidak membiarkan: tidak membiarkannya tanpa bantuan secara yang syar'ie. Membiarkan seorang muslim begitu sahaja adalah perbuatan haram yang dahsyat semada dalam perkara duniawi umpama kita mempunyai upaya untuk membantu orang yang kena zalim, atau menghindari kezaliman yang ada pada seseorang, hendaklah dilakukan, atau dalam perkara keagamaan seperti memberi nasihat agar ditinggalkan perbuatan mengumpat dan mencerca muslim yang lain.
'Irdi (yang diterjemah oleh pencatit ini sebagai maruah) :disyarahkan oleh Imam Muhammad Ibn 'Ijlan dalam Dalilu al-Falihin sebagai 'objek yang menjadi tempat pujian dan cemuhan' . Atau dalam penggunaan Inggeris semasa sebagai dignity,honor, reputation. Nama baik, harga diri

yuhaqqir akhahu al-muslim (menghina saudaranya yang muslim): Ini adalah perbuatan dosa dan jenayah yang amat besar. Rasulullah SAW bersabda: "Tiada masuk syurga bagi sesiapa yang ada dalam hatinya sebutir zarah dari rasa takabbur". Orang yang memandang hina terhadap orang lain itu sudah tentu merasa dirinya mempunyai kelebihan terhadap orang yang dihinanya.

Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya, semada dari segi maruah, atau harta, maka hendaklah dia meminta dihalalkan sebelum datangnya hari yang mana tiada (manafaat) dinar mahupun dirham, sesungguhnya akan diambil dari (catitan) kebajikannya (untuk diberi kepada yang dizaliminya), sekiranya dia tidak mempunyai kebajikan maka diambil dari kejahatan orang yang dizalimi itu lalu ditambah kepada (catitan)kejahatannya [Riwayat Imam Bukhari-Imam Muslim]

Rasulullah SAW bersabda: Tahukah kamu siapakah orang muflis (bangkrap) ?
Lalu sahabat menjawab: Orang muflis pada kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham atau harta.

Rasulullah SAW bersabda: orang muflis daripada ummah-ku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan (membawa pahala) sembahyang, puasa dan zakat. Dia juga telah menyakiti perasaan orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, memukul orang ini, . Maka diambil daripada catitan kebajikannya (untuk dibayar tebusan kezalimannya terhadap orang yang dizaliminnya), apabila habis amalan kebajikannya sebelum selesai melunaskan apa yang berkewajiban atasnya, maka diambil daripada catitan kesalahan-kesalahan mereka dan dicampakkan ke atas (catitan)nya, kemudian diapun dicampakkan ke dalam neraka [riwayat Imam Muslim]

Itulah pondasi awal dab dalam bermasyarakat  Adapun lebih jelasnya Zadalt : 2010 telah menguraikan beberapa adab dalam masyarakat yang perlu kita perhatikan denga beberapa penyuntingan dari penulis.
a. Adab bergaul dengan yang lebih muda

Kita senantiasa dianjurkan untuk bersikap merendah, yakni bersifat sopan santun terhadap sesama orang mukmin, termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda dari pada kita.
Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman :.
"Dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS Al
Hijr: 88)".

b. Adab bergaul dengan orang yang berbeda agama
Terhadap orang yang berbeda agama pun kita dianjurkan untuk bergaul dengan baik karena pada dasarnya mereka pun sama-sama manusia yang tidak berbeda dengan kita, asal kejadian mereka sama dengan kita. Yang membedakan antara kita dengan orang-orang yang berlainan agama adalah ketaqwaannya .
Firman Allah SWT :
"Hai manusia sesunguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kau disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal".
Islam mengajarkan kkepada kita untuk bertoleransi, yaitu menghormati keyakinan umat lain tanpa memaksa (QS. Al-Baqarah : 256), kalau berdialog dengan mereka hendaklah dengan cara yang baik (QS. Al-Ankabut : 46) tidak boleh menghina agama dan keyakinan mereka.
c. Adab berpakaian
Pakaian itu dikategorikan kedalam dua fungsi yaitu :

1)  Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat.

2)  Sebagai perhiasan memperindah jasmani manusia.

Firman Allah SWT :
"Hai anak adam sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa
yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. Al A’raf : 26)
Dalam hal adab berpakaian bagi wanita telah dijelaskan dalam Al-
Qur’an sebagai berikut:
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka menggunakan jilbabnya keseluruh tubuh yang demilian itu supaya mereka mudah untuk dikenali, dan dengan itu merka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
d.  Adap Memandang
Dalam masalah adab memandang dalam Alquran di jelaskan sebagai berikut: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah kebaikan bagi mereka. Dan Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
e. Adab Berbicara
Sebagai seorang mukmin hendaknya senantiasa membicarakan hal-hal dan masalah-masalah yang membawa kemaslahatan hidup. Cara kita berbicara juga dengan cara yang benar artinya menggunakan sopan santun berbicara serta tidak boleh berbicara dihadapan lawan dengan cara ngotot.
f. Adab Makan dan Minum
Adab dalam makan antara lain :
1)      Bila hendak makan membaca Basmalah
2)      Tidak boleh makan dengan tangan kiri
3)      Tidak boleh makan minum sambil berdiri.
4)      Tidak boleh mencela makanan.
5)      Tidak boleh menghembus minuman.
Dalam surat al-hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal.


f. Pergaulan Muda-mudi

Mengucapkan dan menjawab salam
1) Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam
apabila bertemu (QS. An-Nisa’ : 86 / bertamu (QS. An-Nur : 27))
2) Salam yang diucapkan minimal adalah “assalamu’alaikum”
3) Mengucapkan salam hukumnya sunnah, tetapi menjawabnya wajib
4) Bila bertamu, yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah yang bertamu
(QS. An-Nur : 27)
5) Salam tidak diucapakan hanya saat saling bertemu, tapi tatkala mau berpisah
juga
6) Jika dalam rombongan, baik yang mengucapkan dan maupun yang menjawab
salam boleh hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut
7) Rasulullah saw melarang mengucapkan atau menjawab salam ahlul kitab.
9) Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya

Sementara yang perlu menjadi perhatian muda mudi yang bukan muhrim adalah adab berjabatan tangan . Dalam suatu riwayat rasulullah bersabda :
“ sungguh, jika kepala seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya : (HR. Tabrani dan baihaqi)
Dari hadits tersebut seorang pria tidak boleh berjabat tangna dengan seorang wanita yang bukan istri dan bukan mahramnya, begitu pula sebaliknya. Salah satu hikamah larangan tersebut adalah sebagai tindakan preventif dari perbuatan yang lebih besar dosanya, yaitu perzinahan.

Ada pula yang serin luput dari perhatian dalah Khalwah,  Khalwah adalah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak ada hubungan suami istri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga dan larangan berkhalwah adalah tindakan pencegahan supaya tidak terjatuh ke lembah dosa yang lebih dalam lagi.
4.      Adab-Adab Berdoa

Doa adalah perisai sekaligus senjata bagi kaum mukminin, yang bentengnya adalah
doa dan senjatanya tangisan. Karena meyakini bahwa Rasulullah saw bersabda: “Doa adalah inti ibadah dan tidak ada seorang pun yang akan binasa bersama doa.” Biharul Anwar, 93: 300)

Dengan sabdanya tersebut Rasulullah saw menghimpun semua nilai ketinggian dan keagungan
doa serta pengaruhnya ke dalam kehidupan.


Allah swt berfirman: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat/51: 56).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa tujuan kita diwujudkan dan dihidupkan di dunia tiada lain kecuali untuk beribadah kepada Allah swt. Sedangkan doa merupakan inti ibadah.

Allah swt berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku pasti Kuperkenankan doamu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mukmin/40: 60).

Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa
doa adalah ibadah, dan menegaskan sebagai hal yang saling berlawanan: doa dan kesombongan. Yakni:

Pertama: Menggambarkan pribadi seorang hamba yang mengenal Tuhannya, mengenal dirinya sebagai hamba-Nya, dan menjalin hubungan kedekatan dengan Penciptanya.

Kedua: Menggambarkan sikap orang yang sombong, angkuh, keras kepala dank eras hati, ahli maksiat dan durhaka, yang jauh berbeda dengan pengenalan yang dirasakan oleh orang dalam sisi yang pertama.

Dengan makna tersebut menunjukkan bahwa orang yang menghina dan mengecilkan peranan
doa dalam kehidupan, maka ia digolongkan pada bagian yang pertama. Orang yang sombong dan tidak mengenal dirinya. Padahal Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengenal dirinya ia mengenal Tuhannya.”

Makna inilah yang dijelaskan oleh para kekasih Allah swt bahwa ibadah yang paling utama adalah
doa. Karena tujuan ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mengenal hak-hak Allah dan kekuasaan-Nya yang tak akan tertandingi oleh siapapun; untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, karena meyakini bahwa segala kebutuhannya berada di tangan Allah Pemilik malakut langit dan bumi, yang apabila Dia memberi tak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi, apabila Dia menahan tak akan ada seorang pun yang mampu memberinya, dan tak ada seorang pun yang kuasa menolak takdir-Nya kecuali Dia.

Tak ada ungkapan yang lebih jelas seperti makna yang diungkapkan di dalam
doa. Karena doa menjadi wasilah untuk mengungkapkan rasa sedih dan duka, perasaan yang paling mendalam dan perjalanan batin, di waktu sekarang dan mendatang.

Dalam kondisi dan keadaan seperti itulah wujud ibadah paling nampak dan paling sempurna. Dan dalam kondisi itulah seorang hamba paling dicintai oleh Allah swt. Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Amal yang paling dicintai oleh Allah azza wa jalla adalah
doa.”

Jika Islam memperhatikan suatu persoalan tertentu, maka pasti atasnya ditetapkan adab adab dan syarat-syaratnya, agar manusia dapat memperoleh kesempurnaannya dan memetik hasilnya.

Demikian juga dalam halnya persoalan
doa, Islam telah memperkenalkan kepada manusia adab-adabnya, agar mereka memperoleh hasilnya, merasakan kebahagiaan dan kesejukan batin saat menghadap kepada Allah swt sumber mata air kedamaian. Memperoleh keyakinan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Mengijabah. Beradab dan bertatakrama yang baik dan sopan di hadapan-Nya sebagai seorang hamba yang membutuhkan-Nya, agar mendapat perhatian-Nya.

Islam juga memperkenalkan kepada manusia tentang syarat-syaratnya, agar mereka berdoa dengan
doa yang benar, dan doanya berpengaruh pada harapan dan kehidupannya, cepat atau lambat, segera atau tetunda.
Adapun dalil dalil tentang adab berdoa cukup banyak sekalai.
Allah Ta’ala berfirman:
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
(Q“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Dari Aisyah -radhiallahu ‘anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ
“Rasulullah -shallallahu wa’alaihi wa sallam- menyukai doa-doa yang singkat tapi padat maknanya, dan meninggalkan selain itu.” (HR. Abu Daud no. 1482 dan An-Nawawi berkata dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 431, “Sanadnya baik.”)
 dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
tDari Jabir bin Abdillah
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim no. 3009)

 bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:tDari Abu Hurairah
إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ
“Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali dia berkata, “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki.” Akan tetapi hendaklah dia memastikan apa yang dia minta dan hendaknya dia memperbesar pengharapannya, karena Allah -Azza wa Jalla- sama sekali tidak pernah menganggap besar sesuatu yang Dia berikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2678)
Penjelasan ringkas:
Dari dalil-dalil di atas kita bisa memetik beberapa perkara yang menjadi adab dalam berdoa:
a.    Merendahkan suara ketika berdoa, tidak di dalam hati tapi juga tidak menjaharkannya. Karena hal itu bisa membantu dia untuk khusyu’ dan sekaligus menunjukkan ketundukan dan kerendahan dia di hadapan Allah Ta’ala.
b.    Tadharru’ (merendah) kepada Allah ketika berdoa kepada-Nya.
Ad-Dhara’ah (asal kata tadharru’, pent.) bermakna menghinakan diri, tunduk, dan mengharap. Dikatakan:
ضَرَعَ يَضْرَعُ ضَرَاعَةُ maknanya tunduk, menghinakan diri, dan merendahkan diri. Dia tadharru’ kepada Allah maksudnya dia  berharap kepada-Nya. (Lihat Al-Mishbah Al-Munir hal. 361)
Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 42-42)
c.    Menggunakan kalimat-kalimat yang jami’ dalam berdoa, yakni yang lafazhnya ringkas akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam lagi sangat luas. Karenanya sudah sepantasnya seseorang itu berdoa dengan doa-doa yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- pernah berdoa dengannya, karena beliaulah pemilik al-jawami’ al-kalim (kata-kata yang jami’).
d.    Tidak mendoakan kejelekan untuk diri, keluarga, dan harta benda, karena mungkin saja Allah Ta’ala akan mengabulkannya.
e.    Memastikan permintaannya dan tidak mengembalikannya kepada masyi`ah (kehendak) Allah, karena hal itu menunjukkan kurang perhatiannya dia kepada doanya dan dia tidak terlalu berharap kalau Allah akan mengabulkan doanya.
f.    Betul-betul meminta (arab: al-ilhah) kepada Allah ketika berdoa.
Al-Ilhah maknanya mendatangi sesuatu dan komitmen berada di atasnya. Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- secara marfu’, “Tetaplah kalian berdoa dengan ‘Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.” (HR. At-Tirmizi no. 3773-3775 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/172)
Maka hendaknya seorang hamba memperbanyak doa dan sering mengulang-ulanginya. Dia terus-menerus meminta kepada Allah dengan mengulang-ulangi penyebutan rububiah-Nya, uluhiah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifatNya. Itu merupakan sebab terbesar dikabulkannya doa, sebagaimana yang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- sebutkan, “Seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku,” sampai akhir hadits (HR. Muslim no. 1015) dan hadits ini menunjukkan adanya ilhah dalam berdoa.
Berikut beberapa adab lainnya yang tidak tersebut dalam semua dalil di atas:
a.    Memulai dengan memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan juga menutup doanya dengan ini.
Dari Fudhalah bin Ubaid -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mendengar seorang lelaki berdoa di dalam shalatnya, dia tidak memuji Allah Ta’ala dan juga tidak bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Maka Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Orang ini tergesa-gesa,” kemudian beliau memanggil orang itu lalu beliau berkata kepadanya atau kepada selainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR. Abu Daud: 2/77 no. 1481 dan At-Tirmizi: 5/516 no. 2477. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 1314 dan Shahih At-Tirmizi no. 2767.)
b.    Senantiasa berdoa kepada Allah baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesulitan.
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa yang mau doanya dikabulkan oleh Allah ketika dia mendapatkan syada`id (kesusahan) dan al-kurab (kesulitan), maka hendaknya dia memperbanyak berdoa ketika dia lapang.” (HR. At-Tirmizi no. 3382 dan Al-Hakim: 1/544. Hadits ini juga dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmiz: 3/140, dan lihat juga Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 593)
c.    Bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu atau semua jenis-jenis tawassul yang disyariatkan, yaitu: Tawassul dengan menggunakan nama-nama dan sifat-sifat Allah, tawassul dengan amalan saleh, dan tawassul dengan perantaraan doa orang saleh yang masih hidup. Dan bukan di sini tempatnya membahas tentang tawassul.
d.    Tidak memaksakan diri dalam memperindah lafazh (sajak) doa (arab: as-saja’).
Dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Jauhilah as-saja’ dalam berdoa, karena sesungguhnya aku mendapati Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak melakukan kecuali itu -yakni: Mereka tidak melakukan kecuali menjauhi hal itu-.” (HR. Al-Bukhari no. 6337)
e.    Mengulangi doa sebanyak tiga kali. Dalil dalam masalah ini cukup banyak, di antaranya adalah ucapan Ibnu Mas’ud bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengangkat kepalanya kemudian berdoa, “Ya Allah binasakanlah Quraisy,” sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari no. 240 dan Muslim no. 1794)
f.    Menghadap ke arah kiblat. Dari Badr bin Zaid dia berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah keluar ke lapangan ini untuk meminta hujan, maka beliau berdoa dan shalat istisqa`, kemudian beliau menghadap ke kiblat dan membalik kain yang beliau pakai.” (HR. Al-Bukhari -dan ini adalah lafazhnya- no. 6343)
g.    Mengangkat kedua tangan ketika berdoa.
Dari Salman -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya Rabb kalian -Tabaraka wa Ta’ala- Maha Malu lagi Maha Pemurah kepada hamba-Nya, Dia malu kepada hamba-Nya tatkala dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lantas Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Daud no. 1488, At-Tirmizi: 5/ 557, dan selain keduanya. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya jayyid,” dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/179)
h.    Berwudhu sebelum berdoa, jika memungkinkan.
 bawa Rasulullah -shallallahu alaihi
tDalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari  wasallam- meminta air lalu berwudhu kemudian beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, ampunilah Ubaid Abu Amir.” (HR. Al-Bukhari: 5/101 dan Muslim: 4/1943. Lihat Al-Fath: 8/42,)
i.    Menangis ketika berdoa karena takut kepada Allah Ta’ala.
j.    Jika dia mendoakan orang lain maka hendaknya dia mulai dengan mendoakan dirinya sendiri.
Dari Ubay bin Ka’ab -radhiallahu anhu- dia berkata, “Jika Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau mulai dengan mendoakan diri beliau sendiri.” (HR. At-Tirmizi: 5/463) Hanya saja juga telah shahih riwayat bahwa beliau -shallallahu alaihi wasallam- tidak memulai dengan diri beliau sendiri, seperti pada doa beliau untuk Anas, Ibnu Abbas, dan ibunya Ismail -radhiallahu anhum-. (Lihat: Syarh Shahih Muslim: 15/144, Fath Al-Bari: 1/218, dan Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmizi: 9/328)
k.    Dan tentu saja dia tidak meminta kecuali hanya kepada Allah semata.
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata: Saya pernah berada di belakang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- lalu beliau bersabda, “Wahai anak kecil, sesungguhnya saya akan mengajarkan kepadamu beberapa ucapan: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu. Jika kamu meminta maka mintalah hanya kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.” (HR. At-Tirmizi: 4/667 dan Ahmad: 1/293. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 2/309)

5.      Adab-Adab Mencari Ilmu

Adab mencari ilmu mutlak diperlukan, bahkan para Salafush Shalih mendidik anak-anaknya dengan adab sebelum membawanya ke majelis ilmu.
Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri -rahimahullah-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)
Berkatalah Abdullah bin Mubarak -rahimahullah-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)
Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120)
Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rahimahullah-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49)
Berkata Abullah bin Mubarak: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain -rahimahullah-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit daripada hadits walaupun banyak”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)
Mengapa demikian ucapan para ulama tentang adab? Tentunya karena ilmu yang masuk kepada seseorang yang memiliki adab yang baik akan bermafaat baginya dan kaum muslimin.
Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari -rahimahullah-: “Ilmu tanpa adab seperti api tanda kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

a.      Niat Ikhlas

Karena menuntut ilmu adalah ibadah bahkan setinggi-tingginya ibadah kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala- maka kita wajib mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus“. (Al-Bayyinah:5)

b.      Beramal dengan Ilmu

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sangat marah kepada mereka-mereka yang berbicara tentang ilmu sedangkan dia sendiri tidak beramal, Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan“. (As-Shaff:2-3)

c.       Sabar, Tidak Terburu-Buru

            Seorang pencari ilmu seringkali terbawa semangat, sehingga ia ingin dalam waktu yang relatif singkat untuk mendapatkan semua bidang ilmu. Ingatlah bahwa ilmu ini agama yang tidak terpisah dari amal, bukan hanya sekedar mengetahui dan menghafal. Maka pelajarilah secara bertahap dari yang paling penting, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya. Tidak mungkin dengan belajar sebulan sampai dua bulan ia menjadi ulama atau dalam waktu singkat dia menjadi pakar hadits yang menshahihkan dan mendhoifkan hadits atau menjadi ahli fiqih yang dapat mengumpulkan hukum dari ayat-ayat dan hadits.
Para Ulama terdahulu mereka belajar dari sejak kecil sampai 30 tahun baru mempelajari ilmu hadits apalagi meriwayatkan hadits.

B.   Kemaksiatan
Pada sub bab kemaksiatan kita akan membahas hal apa saja yang dapat memicu seseorang melakukan kemaksiatan. Kemudian akibat bagi diri kita jika melakukan maksiat. Kemudian akan diuraikan pencegahan melakukan maksiat.

1.      Empat Pintu Masuk Maksiat
         Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seorang hamba melalui empat pintu. Barang siapa yang bisa menjaga empat pintu tesebut maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Adapun empat pintu yang dimaksud adalah :
a.      Al-Lahazhat (Pandangan pertama)
            Yang satu ini bisa dikatakan sebagai "provokator" syahwat atau utusan syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam menjaga kemaluan, maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Rasulullah : "Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat"
             Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melairkan syahwat. dan dari syahwat itu akan timbullah keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: "Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya".
            Pandangan yang dilepaskan begitu saja dapat menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi. Pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar-benar mengena di hati orang yang memandang. Padahal, satu pandangan yang dilarang itu dapat melukai hati dan dengan pandangan yang baru berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama. Namu ternyata derita yang ditimbulkan oleh luka-luka itu tak bisa mencegahnya untuk kembali terus-menerus melakukannya.
b.  Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak)

      
Adapun "Al-Khatharat" (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka, barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan menyeretnya pada kebinasaan. Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hatinya, sehingga akhirnya akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).
       Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkan sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan itu ke dalam hatinya, dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.
       Padahal pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari hal-hal yang paling mulia dan paling bermanfaat, dan orientasinya hanya untuk Allah SWT dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.

c.  Al-Lafazhat (Kata-kata atau Ucapan)
        Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin bebicara, hendaklah seseorang melihat dulu apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
     Sahabat Mu'adz bin Jabar pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam Jannah dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu Nabi SAW memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda : "Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?" Dia berkata: "Ya, Wahai Rasulullah". Lalu Nabi SAW memegang lidah beliau sendiri dan berkata: "Jagalah olehmu yang satu ini". Maka Mu'adz berkata: "Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab : "Ibumu kehilangan engkau ya Mu'adz, tidaklah yang dapat menyungkurkan banyak manusia diatas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?" At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih".
       Sungguh mengherankan, banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum-minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kesuhudan dan ibadahnya pun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang mengundang kemurkaan Allah SWT tanpa dia sadari, seperti berdusta, memfitnah, dan lain-lain.
        Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau hanya sekedar mengucapkan: "Hari ini panas dan hari ini dingin". seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: "Tolong ambilkan kain untuk kita bermain-main". Lalu dia berkata. "Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya, kata-kata yang tadi aku katakan keluar dari lidahku
tanpa kendali dan tanpa kekang...."Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: "Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah".
        Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, dan dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri.... Seharusnya kita selalu memperhatikan sebuah hadits Nabi dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir bila dia menyaksikan suatu perkara maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja".
d.  Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk sebuah Perbuatan)   
      Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yamg dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah SWT, dengan demikian maka Insya Allah seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.

2.      Pengaruh Maksiat Bagi Diri
Kali ini saya akan menyajikan tulisan yang saya kutip (dengan sedikit penyesuaian redaksi bahasa tentunya) dari kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (الداء والدواء) karya Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah. Kitab ini banyak membahas tentang penyakit hati dan obatnya, salah satunya adalah tentang pengaruh maksiat yang bisa dirasakan oleh seseorang yang melakukannya. Apa saja pengaruh maksiat bagi diri? Berikut yang tertulis di kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’.
a. Menghalangi Ilmu (حرمان العلم)
Ilmu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan cahaya tersebut.
Imam as-Syafi’i duduk di depan Imam Malik. Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat mengagumi kecepatannya dalam menangkap pelajaran, kecerdasannya, dan pemahamannya yang sempurna. Imam Malik berkata, “Aku melihat, Allah telah meletakkan cahaya dalam hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat (إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا، فلا تطفئه بظلمة المعصية)”.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Saya mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’ (شكوت إلى وكيع سوء حفظي);
Ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat (فأرشدني إلى ترك المعاصي);
Ia berkata, ‘ketahuilah bahwa ilmu itu adalah keutamaan, (وقال اعلم بأن العلم فضل);
Dan keutamaan dari Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat’ (وفضل الله لا يؤتاه عاصي).”
b. Menghalangi Rezeki (حرمان الرزق)
Dalam Musnad dikatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya (إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه).”
Taqwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki, sementara meninggalkan ketaqwaan bisa mendatangkan kefakiran dan kemiskinan.
c. Menimbulkan Keresahan dalam Hati Antara Dirinya dengan Allah (وحشة يجدها العاصي في قلبه بينه وبين الله)
Karena keresahan ini, ia tak mendapatkan kenikmatan asasi. Kenikmatan-kenikmatan dunia dan seisinya tidak akan mampu mengatasi keresahan dalam hati. Namun, keresahan ini hanya dirasakan oleh orang yang hatinya masih hidup. Orang yang mati tidak dapat merasakan sakit yang ditimbulkan oleh luka.
d. Menimbulkan Keresahan Ketika Dirinya Bersama dengan Orang Lain, Terutama Bersama Orang-orang yang Baik (الوحشة التي تحصل له بينه وبين الناس، ولاسيما أهل الخير منهم)
Orang yang resah hatinya akan menjauhkan diri dari lingkungan yang baik. Ia tak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang baik. Dan ia akan mendekati kelompok setan (حزب الشيطان), sekaligus semakin menjauh dari kelompok orang-orang yang dekat dengan Allah (حزب الرحمن). Ini akan terus terjadi dan semakin parah, kecuali ia memilih meninggalkan maksiat.
e. Mendatangkan Kesulitan dalam Urusan-urusannya (تعسير أموره عليه)
Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tak menemukan jalan pemecahan atau jalan pemecahan tersebut sangat sulit didapatkan. Orang yang bertaqwa kepada Allah akan mendapatkan keringanan, sedangkan orang yang tidak bertaqwa akan mendapatkan kesulitan dari Allah dalam setiap urusannya.
f. Menimbulkan Kegelapan dalam Hati (ظلمة يجدها في قلبه)
Kegelapan dalam hati akan dirasakan oleh seseorang seperti gelapnya malam. Kegelapan di dalam hati akibat maksiat laksana kegelapan indrawi yang menutupi penglihatan matanya. Ketaatan adalah cahaya, dan kemaksiatan adalah kegelapan. Setiap kali kegelapan menguat, semakin bingunglah ia hingga jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan dan hal-hal yang membinasakan, dan ia tidak merasakan hal itu.
‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada sinar pada wajah, cahaya pada hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang. (إن للحسنة ضياء في الوجه، ونورا في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سوادا في الوجه، وظلمة في القبر والقلب، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق).”
g. Melemahkan Hati dan Badan (توهن القلب والبدن)
Kelemahan pada hati merupakan hal yang nyata. Maksiat akan terus-menerus melemahkannya hingga habislah kehidupannya. Adapun kelemahan pada badan, maka sesungguhnya kekuatan orang mukmin itu teletak pada hati, jika hatinya kuat maka badannya pun akan menguat. Sedangkan orang faajir, meskipun berbadan kuat, sesungguhnya ia paling lemah. Saat memerlukan kekuatan, ia dikhianati oleh kekuatannya sendiri yang sangat diperlukannya.
Bayangkan kekuatan badan orang Persia dan Romawi dapat mengelabui mereka, padahal kekuatan badan itulah yang paling mereka andalkan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan badan dan hati.
h. Menghalangi Ketaatan (حرمان الطاعة)
Hukuman bagi pendosa adalah terhalang dan terputusnya ia dari semua jalan ketaatan kepada Allah. Padahal satu ketaatan lebih baik dari dunia dan seisinya. Ibaratnya, seperti seseorang yang makan suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang akut, yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang lezat dan baik. Wallaahul musta’aan.
i. Mengurangi Umur dan Melenyapkan Keberkahannya (تقصر العمر وتمحق بركته)
Sesungguhnya kebaikan menambah umur, sedangkan kemaksiatan mengurangi umur. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian mengatakan bahwa maksud kurangnya umur orang yang suka berbuat maksiat adalah hilangnya keberkahan umur tersebut. Ini benar dan merupakan bagian dari pengaruh kemaksiatan bagi diri.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa maksiat benar-benar akan mengurangi umur, sebagaimana berkurangnya rezeki. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah kehidupan hati, oleh karena itu Allah menyatakan orang kafir sebagai orang mati, bukan orang yang hidup. Sebagaimana yang Ia sebutkan di surah an-Nahl ayat 21:
أموت غير أحياء
Kesimpulannya, bila seorang hamba berpaling dari Allah ta’ala dan sibuk dengan kemaksiatan, lenyaplah kehidupannya yang hakiki. Akhirnya ia menyesal dan berkata sebagaimana yang dinyatakan dalam surah al-Fajr ayat 24:
يليتني قدمت لحياتي

3.      Sepuluh Nasehat Ibnu Qayyim agar Sabar Menjauhi Maksiat

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu kepada Allah.  Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah.
Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat,  dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah.  Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.










BAB III
KESIMPULAN
·         Setiap Muslim harus menjagalisanya agar terhidar dari perilaku-perilaku yang dapat mendatangkan murka Allah.
·         Mencari rizki merupakan bagian dari ibadah, seorang Muslim harus bertawakal dalam mencari rizki, berusaha tidak meminta-minta namun mencari rizki sendiri. Karena pengeluaran yang digunakan akan lebih nikmat.
·         Kemaksiatan dapat mengurangi keberkahan.
















DAFTAR PUSTAKA
http://alpalury.blog.uns.ac.id/2010/05/03/10-nasehat-ibnu-qayyim-agar-sabar-menjauhi-maksiat/
http://agussyafii.blogspot.com/2009/02/pengertian-adab.html#ixzz1eJmESrZY
http://www.artikata.com/arti-339462-maksiat.htmlpenyakit masyarakat memerlukan kesabaran dan ketekunan
http://ichsaneljufri.blogspot.com/2011/07/adab-berbicara-dalam-islam.html
http://ismenalghifary.blogspot.com/2010/06/adab-mencari-rezeki-yang-halal.html
http://ismenalghifary.blogspot.com/2010/06/adab-mencari-rezeki-yang-halal.html
http://www.scribd.com/doc/24976424/AKHLAK-BERMASYARAKAT  
http://muqabalah2009.blogspot.com/2009/05/adab-bermasyarakat-dalam-islam.html
http://abufurqan.com/2011/10/07/pengaruh-maksiat-bagi-diri/
http://www.tokoku99.com http://shalatdoa.blogspot.com
Pengajaran Dari Hadith Riyadu as-Solihin
Hadith ke 13 Dari Bab Menitik-beratkan Kehormatan Orang Islam
http://al-atsariyyah.com/adab-adab-berdoa.html
http://anwarsyaebani.tripod.com/risalah-dakwah.html
http://al-atsariyyah.com/adab-adab-berdoa.html
Risalah Dakwah MANHAJ SALAF edisi 1/th V 18 Muharram 1430H/16 Januari 2009M
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/akhlak-adab/adab-adab-mencari-ilmu/
http://anwarsyaebani.tripod.com/risalah-dakwah.html

0 komentar :

Posting Komentar